MOJOK.CORomelu Lukaku, striker Inter Milan, ternyata jauh lebih tajam ketimbang satu skuat AC Milan. Sebuah gambaran visi dan keberanian dari manajemen La Beneamata.

Pertama-tama, saya mohon maaf kalau judul di atas terdengar seperti click bait dan menyakiti hati fans AC Milan. Namun, maaf-maaf saja, kenyataannya begitu, je. Romelu Lukaku memang lebih tajam ketimbang satu skuat AC Milan.

Sampai Januari 2020 ini, Lukaku sudah mencetak 18 gol di semua ajang yang diikuti Inter Milan. Jumlah 18 gol sama seperti jumlah gol yang sudah dicetak AC Milan juga di semua kompetisi. Bedanya, Inter Milan bermain di banyak kompetisi, sedangkan AC Milan cuma dua; Serie A dan Copa Italia. Ya lumayan, lah ya.

Namun, tahukah kamu, tujuan saya bukan semata-mata membandingkan ketajaman Lukaku dan AC Milan. Kalau terdengar seperti itu, ya sekali lagi, saya mohon maaf. Yang ingin saya katakan adalah betapa Inter Milan lebih unggul dari saudaranya itu dari sisi kerja manajemen dan di pasar transfer. Dua hal ini sangat berhubungan dengan jomplangnya prestasi kedua klub sejauh ini.

Bersama Lazio, musim ini, cuma Inter Milan yang bisa mengejar Juventus. Apresiasi khusus saya haturkan kepada Lazio dan Simone Inzaghi. Mereka baru saja mencatatkan 10 kemenangan beruntun. Sebuah catatan yang luar biasa. Perlu kamu ketahui, meski Juventus sangat dominan, Serie A tidak semudah kelihatannya. Tingkat kesulitannya cukup tinggi dan diakui sendiri oleh Cristiano Ronaldo.

Lukaku adalah gambaran kerja manajemen Inter. Kata “kerja” di sini bermakna sebuah kesadaran untuk memperbaiki diri. Dulu, Inter juga sama saja seperti AC Milan di mana kebiasaan membeli pemain overrated sering terjadi. Pun, Inter juga sempat berada dalam lingkaran setan ketika begitu khawatir menjual Mauro Icardi. Manajemen kok takut sama pemain.

Baca juga:  AC Milan dan Fansnya Adalah Kaum Hipokrit, Milanisti: Inter Milan Itu Sampah

Lukaku adalah gambaran visi manajemen. Mereka berani mengontak Antonio Conte, seorang pelatih dengan citra Juventus yang melekat kuat di dalam dirinya. Dominasi Juventus saat ini dibangun oleh, salah satunya, kerja Conte. Sebuah pendekatan yang kalau saya tidak silap pernah ditentang oleh suporter Inter Milan.

Lukaku adalah kejelian manajemen Inter Milan. Manajemen mereka tidak “rusuh” dengan mencampuri rencana kerja Conte. Manajemen mendukung penuh dengan mendatangkan pemain yang dibutuhkan. Mulai dari Lukaku, tentu saja, lalu Lautaro Martinez, disusul bek senior, Diego Godin, dan gelandang-gelandang muda seperti Stefano Sensi dan Nicolo Barella.

Coba bandingkan dengan kerja manajemen AC Milan. Sebelum Paolo Maldini dan Zvonimir Boban berduet sebagai Direktur Teknik dan Kepala Pejabat Keuangan klub, Milan menghabiskan waktu untuk bongkar pasang pelatih. Yang mereka pilih bukan sosok yang cukup kuat untuk menopang nama besar dan ekspektasi.

Saat ini, Maldini dan Boban memilih Stefano Piolo sebagai pelatih, setelah sebelumnya memecat Marco Giampolo. Dengan penuh rasa hormat, meski keduanya bukan pelatih buruk, tetapi Giampaolo dan Piolo bukan sosok yang cukup “kuat”. Baik dari sisi teknis, maupun kemampuan memaksa pemain-pemain muda untuk mencapai level terbaik.

Melihat sekilas skuat Milan, kamu akan terkesan dengan usaha mereka meremajakan skuat. Sebuah pemandangan yang menyenangkan karena mereka terlihat punya rencana besar untuk masa depan. Namun, Serie A tidak menyediakan “kadar tradisi” yang cocok dengan proyek semacam itu. Serie A menuntut kesempurnaan dan harus bisa ditunjukkan dengan cepat.

Filippo Inzaghi, legenda dan mantan pemain AC Milan meminta para pendukung untuk bersabar. Sebuah kata-kata manis “untuk masa damai”. Sudah hampir satu dekade Milan terjerembab di kolam medioker dan saya yakin urat kesabaran para suporter sudah tertarik secara maksimal. Milan butuh sebuah langkah besar untuk sekadar mencoba mengembalikan mereka ke level terdahulu.

Baca juga:  Titik Lo Spirito Juventus: Fleksibilitas Sarri dan Kebangkitan Aaron Ramsey

Inter Milan melakukannya dengan membenahi meja manajemen. Mereka “berburu kepala”. Orang-orang dengan kaliber besar untuk duduk di jajaran manajemen. Di jajaran direktur, ada nama Giuseppe Marotta. Ada Alessandro Padula sebagai Board of Auditors. Sebagai Direktur Teknis, mereka merekrut Piero Ausilio. Nama-nama ini yang berdiskusi dan berdebat untuk sampai kesebuah kesimpulan penting: merekrut Antonio Conte.

Lewat Conte, datang pemain penting seperti Lukaku. Januari 2020, mereka akan segera merampungkan transfer Christian Eriksen dari Spurs. Eriksen bukan pemain muda. Dia berada dalam masa emas pesepak bola, yaitu 27 tahun. Bukan sembarang mendatangkan pemain muda, mereka membeli pemain “yang dibutuhkan”.

Eriksen adalah salah satu pemain terbaik di Liga Inggris. Sudah sangat betul kalau dia cabut dari klub medioker dan kelas tiga di London untuk bergabung dengan Inter Milan. Kini, dengan keberadaan Eriksen, Conte akan lebih leluasa mengubah skema dan taktik. Inilah yang dinamakan visi.

AC Milan harus sadar kalau mengumpulkan pemain muda bukan satu-satunya solusi. Mereka harus berpikir dalam skala yang lebih besar. Yang saya maksud dalam skala yang lebih besar juga bukan berarti Milan mendatangkan Zlatan Ibrahimovic. Semuanya harus dimulai dari manajemen yang berani dan pelatih berkaliber besar. Bukan sekadar melirik mantan pemain, ya.

Lukaku adalah cermin keberhasilan Inter Milan sejauh ini. Kejelian melihat kemampuan pemain dan keberanian yang mendasari membuat mereka menjadi jauh lebih bisa mengancam ketimbang AC Milan. Bukan begitu?

BACA JUGA Inter Milan Punya Tridente Dalam Nama Lukaku, Lautaro, dan Conte atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.



Tirto.ID
Loading...

No more articles