MOJOK.COSelamat Idul Adha 1440 H. Mari menumbuhkan “Mesut Ozil” dalam diri masing-masing. Menumbuhkan kepekaan sosial, membantu sesama, siapa saja, tanpa memandang batasan.

Persiapan Arsenal menjelang laga pembuka Liga Inggris musim 2019/2020, yang bertepatan dengan Idul Adha, diganggu oleh begal-begal goblok dari London. Setelah insiden penyerangan kepada Mesut Ozil dan Sead Kolasinac, beberapa hari yang lalu, sebuah ancaman kembali muncul. Satu lagi kabar tak enak yang berpotensi memperpanjang catatan buruk klub ini di laga pembuka.

Seiring ancaman baru yang datang, manajemen Arsenal tak mau kompromi. Mereka mencoret nama Mesut Ozil dan Kolasinac dari daftar pemain yang akan dibawa ke kandang Newcastle United di hari raya Idul Adha. Tentu saja ini sebuah kekecewaan, baik kepada pelatih, bagi Ozil dan Kolasinac, dan tentunya para fans.

Bisa bermain di laga pembuka punya makna penting. Sedikit banyak posisimu di dalam tim diperhitungkan oleh pelatih. Namun memang, soal keamanan itu nomor satu. Sebuah klub profesional tidak akan membiarkan pemain beserta keluarganya terancam. Langkah “mengorbankan” Mesut Ozil dan Kolasinac adalah keputusan bijak.

Idul Adha dan altruisme Mesut Ozil

Ancaman kepada Ozil dan Kolasinac ini terjadi di momen yang bisa dikatakan “terlalu pas”. Pas sedang ada pertandingan, pas di hari raya Idul Adha. Hari raya “berkurban” ini sangat identik dengan sosok Mesut Ozil sebagai seorang pesepak bola profesional.

Ada tiga hal yang membuat benak saya secara otomatis menyandingkan kata Idul Adha dengan Mesut Ozil. Pertama, lebih baik bikin asis ketimbang gol.

Konsep bermain yang memberi gol disebut asis. Pemain yang rajin mencatatkan asis menempati posisi yang mulia di dalam tim. Sering terjadi, ia tidak akan banyak mendapatkan sorotan. Semua sorak dan puji akan diberikan kepada si pencetak gol. Namun, tanpa keberadaan si pemberi ini, para pencetak gol tidak akan bisa bekerja dengan mudah.

Si pemberi asis hidup dalam wawasan sebuah tim, sebuah lingkungan sosial di tengah pertandingan. Ia tidak egois, rela berkurban semampunya. Mirip dengan pengertian berkurban di hari raya Idul Adha. Pemain (atau manusia) yang menghidupi pandangan seperti ini disebut manusia altruisme dan dalam konsep disebut altruistik.

Baca juga:  Liverpool vs Arsenal: Mencegah Amukan Monster Transisi

Altruisme, yang dikonsep oleh Auguste Comte, adalah pengertian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Manusia yang hidup dalam konteks altruisme atau altruistik punya kehendan menolong yang besar. Moralitas altruistik tidak sekadar megandung kemurahan hati. Nilai ini diresapi dan dijiwai oleh kesukaan memajukan sesama tanpa pamrih.

Sejak bermain Schalke, Real Madrid, Arsenal, hingga timnas Jerman, nama Mesut Ozil lekat dengan citra pemain bermata tajam. Ia bisa menemukan lubang sempit di antara pertahanan lawan, yang cukup untuk meneroboskan bola ke arah lari kawan. Mesut Ozil juga tak pernah berpikir dua kali untuk memberi umpan di muka gawang. Bahkan ketika sebetulnya dirinya bisa bikin gol. Ia akan mengurbankan kesempatan, demi kesejahteraan rekannya.

Cara berkurban ala Idul Adha dari Mesut Ozil yang kedua adalah bermain tidak di posisi ideal. Sejak bergabung, hingga saat ini, tidak banyak kesempatan yang didapatkan Mesut Ozil untuk bermain di posisi idealnya. Ketika masih dilatih Arsene Wenger, pemain asal Jerman ini banyak bermain di sisi lapangan.

Ia bermain seperti wide-midfielder, bukan seorang #10 tradisional. Untungnya, Mesut Ozil bisa menyesuaikan diri. Ketika masih bersama Real Madrid, ketika bermain di belakang striker, pemain berusia 30 tahun ini cukup sering bermain melebar. Situasi di atas lapangan sering tidak berjalan sesuai imajinasi. Mesut Ozil sudah memahami sejak dulu.

Ia berkembang, dari sekadar pemain di belakang striker, menjadi pemain yang lebih komplet. Orang yang sudah survive dengan caranya sendiri, diakui dunia, namanya menjadi sangat besar, biasanya menjadi sosok dengan ego tinggi. Untungnya, Mesut Ozil memegang budaya Idul Adha lekat-lekat. Dengan berkurban, ia bisa menjaga sikap untuk tetap rendah hati.

Di bawah asuhan Unai Emery, saya merasakan perubahan tingkat lanjut dalam diri Mesut Ozil. Laga uji tanding melawan Barcelona menjadi contoh.

Ia bermain sebagai #10 klasik. Namun, seiring laga, ia banyak turun mendekati dua pivot yang diisi Joe Willock dan Granit Xhaka. Membentuk segitiga, Ozil menjadi seperti advance #8. Ia mengakali kemampuan bertahan yang tidak istimewa dengan penempatan posisi yang tepat. Ia kalah adu fisik, tapi unggul adu otak. Sepak bola memang bukan hanya soal adu lari atau adu otot. Sepak bola adalah olahraga yang membuat si cerdas akan selalu unggul.

Baca juga:  Cara Raul Sanllehi Membunuh Arsenal Secara Perlahan Ketika Membela Emery

Setelah beradaptasi sebagai wide-midfielder, ia berkembang lagi menjadi advance #8. Ia mengorbankan kemampuan spesialnya ketika bermain #10 klasik, demi perkembangan tim itu sendiri. Sekali lagi, Idul Adha dari sosok Mesut Ozil.

Corak Idul Adha dalam diri Ozil yang ketiga adalah memegang teguh ajaran agama dan budaya. Kamu bisa menemukannya di insiden pelemparan roti oleh suporter Atletico Madrid ke arah Ozil.

Masih ingat dengan insiden itu? Salah satu suporter Atletico melempat roti ke dalam lapangan yang secara tidak terduga dipungut oleh Ozil. Ia memungut roti itu, menciumnya, menyentuhkan ke kening, lalu meletakkan di sisi lapangan dengan penuh hormat.

Hampir semua penonton melihat insiden itu. Kenapa ia melakukannya? Salah satu fans Arsenal memberikan penjelasan. “Membuang roti bertentangan dengan ajaran agamanya. Ozil mencium roti dan menyentuhkan ke kening sebagai ekspresi rasa terima kasih kepada Tuhan.”

Sebuah kalimat di Alquran bab 6 ayat 141 berbunyi, “…jangan suka boros (membuang-buang, menyia-nyiakan sesuatu). Allah tidak suka dengan orang yang suka boros.”

Bukan hanya sebagai muslim yang taat, Ozil juga memegang betul akar kehidupannya. Meski berpaspor Jerman, di dalam dirinya mengalir deras darah Turki. Adalah sebuah larangan di dalam tradisinya untuk membuang makanan. Roti adalah sumber kehidupan, sebuah berkah dari Tuhan untuk disyukuri, bukan dibuang.

Idul Adha bukan sekadar berkurban. Hari raya ini mengingatkan kamu untuk berbagi dan memegang teguh budaya dalam agama dan kehidupan sosial. Ozil, sebagai pesepak bola, merayakan Idul Adha, setiap kali ia berlari di atas lapangan.

Selamat Idul Adha 1440 H. Mari menumbuhkan “Mesut Ozil” dalam diri masing-masing. Menumbuhkan kepekaan sosial, membantu sesama, siapa saja, tanpa memandang batasan.



Tirto.ID
Loading...

No more articles