MOJOK.COSaka, remaja 19 tahun, “menggendong” Arsenal ketika pemain senior seperti Bellerin tersesat di dua alam. Sungguh memprihatinkan.

Tidak akan ada yang membantah jika kita bersepakat bahwa Bukayo Saka adalah remaja terbaik dalam sejarah Arsenal setelah Cesc Fabregas. Bahkan jika melihat lingkungan dan kondisi skuat yang ada, Saka jauh lebih potensial ketimbang mantan pemain akademi Barcelona itu.

Fabregas berkembang di bawah asuhan pemain-pemain legendaris Arsenal. Deretan pemain yang pernah membawa Arsenal melewati satu musim penuh tanpa kekalahan. Sementara itu, Saka berkembang di lingkungan yang ambigu dan skuat yang sangat tidak seimbang.

Oleh sebab itu, meminjam istilah game Mobile Legends, Bukayo Saka seperti hyper carry yang menggendong satu tim. Seperti hyper Chang’e yang menggendong skuat berisikan bapak-bapak dan ibu-ibu; Franco, Yu Zhong, Irithel, dan Hilda. Susah dibayangkan, tetapi terjadi juga.

Ketika sebuah tim “digendong” seorang remaja, otomatis muncul pertanyaan, apa yang sedang dilakukan para pemain senior? Terlepas dari taktik atau ide pelatih, terlepas dari posisi yang tidak ideal, apakah semua pemain senior bisa mempertanggungjawabkan performanya di setiap laga?

Bukayo Saka diperkenalkan ke tim utama sejak usia 17 tahun. Saat itu, posisinya adalah penyerang sayap kiri. Atas nama kebutuhan tim, Saka dicoba sebagai bek kiri. Setelah itu, dia sempat bermain sebagai gelandang serang, lalu gelandang kanan, dan kini penyerang sayap kanan.

Hebatnya, dia tidak pernah mempermasalahkan tuntutan bapak-bapak dan orang dewasa yang sering egois itu. Dia tidak “ngambek”, tetapi selalu berusaha mempertanggungjawabkan kepercayaan yang dibebankan ke pundaknya. Ini sebuah tamparan untuk pemain muda yang “agak cerewet” minta dimainkan di posisi idealnya.

Sepak bola modern menuntut siapa saja yang hidup di dalamnya untuk punya sikap sempurna. Profesional, sadar dengan tanggung jawab, dan mampu menekan ego. Salah satu wujud nyata sikap sempurna itu adalah mengembangkan potensi dalam diri.

Bicara potensi, Arsenal tengah kehilangan sosok bek kanan yang dulu pernah menyandang wonderkid. Namanya Hector Bellerin, pesepak bola yang terkadang memandang lapangan hijau sebagai catwalk alih-alih palagan para profesional.

Dih, bahkan para model yang berjalan di atas catwalk bekerja sangat keras untuk menghadirkan kesempurnaan demi kepuasan mata para penikmat mode. Sementara itu, Bellerin justru tersesat di tengah rimba kebimbangan, antara mode atau sepak bola. Dia mengaku bisa menyeimbangkan dua dunia ini, tetapi kita tidak pernah diberi bukti.

Cedera parah bisa menjadi alibi. Bisa dijadikan alasan hilangnya segala potensi dari Bellerin. Namun, menarik waktu agak ke belakang, sebelum cedera, apakah Bellerin pernah menambahkan banyak aspek ke dalam permainannya? Sekarang kita tahu jawabannya: tidak pernah.

Bek kanan di dunia profesional sudah melengkapi diri dengan banyak kemampuan. Tentu saja selain kemampuan dasar dari seorang pemain bertahan. Kemampuan yang ditambahkan, misalnya, belajar umpan silang, belajar menggiring bola, melenturkan badan supaya fleksibel ketika membawa bola, dan lain sebagainya.

Jadi, ketika kecepatan yang menjadi “senjata” hilang karena cedera, seorang bek kanan masih punya banyak hal untuk ditawarkan. Bellerin, mungkin, satu-satunya bek sayap yang terlihat sangat “gagu” untuk melepas umpang silang. Badannya sangat kaku untuk bermanuver dengan bola. Padahal sisi lapangan adalah ruang krusial untuk penciptaan peluang bagi Arsenal.

Bukayo Saka justru mengajari Bellerin bahwa menambahkan banyak aspek ke dalam permainan adalah cara terbaik untuk berkembang. Saka menjadi pemain yang komplet, bisa bermain di banyak posisi, kreatif membuat peluang, dan cukup tajam memaksimalkan peluang gol.

Saka sudah melakukannya sejak usia remaja. Sebuah kesadaran yang membuat levelnya sudah jauh di atas pemain semenjana Arsenal, bahkan ketika usianya masih 19 tahun. Saka tidak pernah bimbang, tidak pernah membiarkan dirinya terjebak dalam dua dunia seperti Bellerin. Terbukti, fokus adalah barang mahal, di mana pemain senior terkadang tersesat di dalamnya.

Menikmati dua dunia secara bersamaan memang bukan dosa bagi atlet profesional. Namun, di dalamnya ada tanggung jawab. Terbukti, Bellerin tidak pernah bisa membagi fokus. Orang sekarang menyebut manusia seperti Bellerin sebagai orang yang tidak bertanggung jawab.

Saya pribadi merasa Mikel Arteta, pelatih Arsenal, terjebak dalam situasi yang rumit terkait Bellerin. Cadangan untuk bek sayap hanya ada Cedric, sementara kebugaran Kieran Tierney sulit dijaga. Otomatis, Cedric menjadi pelapis Tierney di sisi kiri.

Di satu sisi, Arteta punya dosa ketika gagal membeli bek kiri, sehingga Cedric tidak bisa leluasa dimainkan sebagai bek kanan. Di sisi lain, Bellerin tidak membantu tim ini ketika gagal menambahkan banyak aspek ke dalam permainannya.

Beginilah Arsenal. Hal-hal rumit dimulai dari diri mereka sendiri. Jika Bellerin bermain untuk tim lain, saya yakin dia sudah dijual. Tuntutan di sepak bola industri sangat tinggi. Romantisme pemain semakin tidak mendapat tempat.

Pada akhirnya, Bukayo Saka menampar para pemain senior. Sebuah tamparan yang seharusnya menyadarkan mereka bahwa fokus dan tanggung jawab adalah barang mahal di dunia profesional. Kalau tidak sadar juga, urat malu mereka bisa dipastikan sudah putus.

BACA JUGA Bellerin Layu, Bukayo Saka Mekar: Zaman Berjalan, Arsenal Mengejan dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Liga Inggris Bisa Mulai Lagi di 1 Juni 2020, tapi Ribetnya Kayak Orang Katolik Mau Nikah