MOJOK.COBagi Barcelona, Manchester United, dan Arsenal inilah saatnya untuk menginjak pedal gas. Pendekatan harus dilakukan secerdas mungkin.

Jendela transfer Januari bukan periode yang menyenangkan. Terutama bagi klub yang sebetulnya membutuhkan tambahan tenaga, tetapi punya beberapa keterbatasan. Keterbatasan itu bukan dari dalam klub sendiri. Keterbatasan justru hadir dari luar klub itu sendiri. Sebuah pengalaman yang tengah dialami Barcelona, Manchester United, dan Arsenal.

Barcelona, Manchester United, dan Arsenal sudah harus memulai “kerja” sejak awal Januari 2010. Ketiganya tidak boleh membuang waktu. Bukan, bukan karena jendela transfer Januari itu begitu pendek periodenya. Baik Barcelona, Manchester United, maupun Arsenal harus sadar kalau perburuan pemain, terutama di pos striker, bukan urusan gampang.

Betul, ketiganya akan dan sudah membutuhkan striker. Bukan sembarang striker. Ini sulitnya. Ketiganya membutuhkan striker modern. Penyerang yang compatible dengan perkembangan sepak bola. Liverpool punya sosok Roberto Firmino, misalnya. Sosok Firmino itulah yang harus mereka kejar jika melihat cara bermain masing-masing pelatih.

Bukankah Barcelona, Manchester United, dan Arsenal sudah punya striker saat ini? Ya, para striker yang membutuhkan pendamping maupun mereka yang sudah hampir habis masa edarnya.

Barcelona tidak punya pelapis untuk Luis Suarez, pun Lionel Messi. Jangan kamu katakan Ousmane Dembele yang akan meneruskan mereka. Begitu juga Antoine Griezmann. Nama pertama bukan pemain yang punya kesadaran untuk menjadi pemimpin atau penyedia solusi. Dembele menghabiskan banyak waktu untuk mengurusi hal-hal di luar sepak bola untuk kemudian cedera dalam waktu yang lama.

Griezmann? Dia hanya akan menjadi “salah satu” penerus dan tentu saja membutuhkan rekan setanding. Luis Suarez dan Lionel Messi sudah berusia 32 tahun. Pelatih Barcelona sudah tidak bisa menggunakan keduanya dalam sistem pressing sebagai bentuk upaya menjaga stamina. Mau sampai kapan? Toh sistem ini tidak berfungsi ketika keduanya tidak berada dalam performa terbaik.

Untung saja, sejauh ini, meski bermain buruk, Suarez adalah salah satu pembidik gawang terbaik di Eropa. Kematangan dalam mencari posisi membantunya menutupi jangkauan pergerakan yang semakin sempit. Kematangan yang membuat Suarez menjadi rekan ideal bagi Messi. Namun, momen-momen itu bakal segera pupus.

Baca juga:  AS Roma Relakan Gaji 4 Bulan, Arsenal Potong Gaji, Ketika Kelaparan Mengintai Dunia

Barcelona, mungkin, belum akan bisa memberi striker di Januari 2020. Untuk membeli high profile player dibutuhkan waktu yang panjang. Blaugrana, sekali lagi, mungkin, akan memanfaatkan Januari sebagai waktu yang tepat untuk melongok jendela transfer. Satu atau dua rumor akan muncul, tetapi tenggelam lagi.

Lagipula, Barcelona belum bisa mengharapkan La Masia untuk memproduksi striker dengan kualitas seperti Suarez. La Masia, sejauh ini, belum memproduksi penyerang yang awet di sepak bola level tertinggi selain Lionel Messi. La Masia adalah salah satu “pabrik pemain” terbaik untuk posisi gelandang sentral.

Bergeser ke Inggris, ada Manchester United dan Arsenal. Tidak ada orang yang paling kecewa selain Ole Gunnar Solskjaer ketika mengetahui Erling Haaland berlabung ke Dortmund. Tidak ada klub yang paling susah menahan bintangnya untuk pergi selain Arsenal.

Manchester United punya dua pemain hebat di pos nomor 9, Martial dan Rashford. Namun, mengakomodasi mereka di pos yang sama bukan urusan mudah. Masuk akal apabila Manchester United membutuhkan “nomor 9 murni” untuk menengahi perdebatan Martial dan Rashford.

Haaland memenuhi semua kriteria. Masih muda, postur sangat mendukung untuk bermain di Liga Inggrs, pintar, penuh determinasi, punya akad dengan dirinya sendiri untuk tidak pernah mneyerah dalam segala situasi, striker modern, dan sudah memahami apa itu pressing football.

Bagaimana saya tahu semua itu? Karena saya bermain Football Manager. Sebuah game yang banyak diremehkan. Hanya dianggap “simulasi” semata, sekadar media onani seorang armchair manager.

Sport Interactive, pengembang game Football Manager, bekerja sama dengan analis performa di olahraga bernama Prozone Recruiter. Beberapa klub di dunia sudah menggunakan database Football Manager untuk kerja yang berkaitan dengan scouting pemain.

Baca juga:  Bukan Salah Liverpool dan Mohamed Salah Kalau Liga Inggris Membosankan

Setiap entri yang digunakan oleh klub berupa detail analisis dari performa, kontrak, dan statistik biographical. Data-data ini membantu klub profesional untuk menganalisis pemain potensial. Bukan hanya soal talenta, tetapi juga apakah mereka bisa bermain di negara yang berbeda dan sistem yang berbeda.

Lewat Football Manager, kamu belajar posisi dan peran pemain. Belajar manajemen sumber daya manusia. Mengenal sifat pemain, kelebihan dan kekurangan, di mana semuanya bersumber dari sebuah perusahaan statistik. Nggak suka sama game itu biasa. Namun, kalau kamu memandang Football Manager sebelah mata, kamu itu antara sok tahu dan bebal, seperti biasanya.

Kembali ke Manchester United dan Arsenal. Kualitas dan trait yang disediakan oleh Haaland adalah kebutuhan dua klub papan bawah Liga Inggris itu. Bagi Arsenal, Januari 2020 adalah tentang kerja keras menahan kepergian Aubameyang dan Granit Xhaka.

Kabar terbaru mengungkapkan kalau Aubameyang sudah minta dijual karena kangen dengan Liga Champions. Kalau Aubameyang mau bersabar hingga musim panas, Arsenal punya waktu untuk menyortir. Jumlah striker muda berkualitas sebetulnya tidak sedikit. Namun, membeli mereka di Januari, sekali lagi, bukan urusan gampang.

Di Januari, kamu akan berhadapan dengan agen yang menuntut signing on fee tinggi, harga jual melonjak karena klub yang ditinggalkan pasti butuh pengganti, dan proses adaptasi pemain. Di mata saya, Januari 2020 bukan jendela transfer untuk membeli, tetapi untuk menjajaki secara resmi kepada klub dan pemain.

Proses menjajaki pun tidak mudah. Sama kok kayak kamu mendekati orang terkasih. Tidak bisa sembarang tabrak. Ada tarik dan ulur. Bagi Barcelona, Manchester United, dan Arsenal inilah saatnya untuk menginjak pedal gas. Pendekatan harus dilakukan secerdas mungkin. Siapa tahu, di Januari ini, ada wonderkid yang ngambek dan minta dijual.

BACA JUGA Titik Genting Aubameyang dan Cacat Manajemen Arsenal atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.