• 44
    Shares

MOJOK.COZona Liga Champions Liga Inggris tak kalah panas. Yang cocok untuk lomba lari menuju zona tersebut adalah Arsenal, Manchester United, dan Chelsea.

Menjelang tikungan terakhir di Liga Inggris, jangan palingkan pandanganmu dari klasemen sementara. Dua besar, Manchester City dan Liverpool hanya berjarak satu poin. City punya keuntungan karena menyimpan satu pertandingan lebih ketimbang The Reds. Nah, perebutan posisi tiga dan empat tak kalah panas, bahkan mungkin lebih panas.

Dua tempat terakhir di zona Liga Champions itu diperebutkan empat klub sekaligus, yaitu Arsenal, Manchester United, Chelsea, dan Tottenham Hotspur. Menjadi sangat seru ketika masing-masing tim berjarak satu dan dua poin. Bahkan, Arsenal dan Chelsea sama-sama mengumpulkan 63 poin, dengan yang disebut pertama baru akan bertanding di hari Minggu melawan Everton.

Jika menang atau seri, Arsenal akan kembali ke peringkat tiga, menggeser tetangga kalahan, Spurs. Lantas, bagaimana peluang masing-masing tim untuk mengakhiri musim di zona Liga Champions. Ini jenis pertanyaan yang paling sering ditanyakan di akun @arsenalskitchen yang saya asuh.

Arsenal

Kita mulai dari Arsenal. satu-satunya klub dari London Utara ini, jika kamu melihat sekilas di sisa jadwal, tidak lagi bertemu dengan klub-klub dari enam besar Liga Inggris. Sisa pertandingan mereka adalah melawan Everton (tandang), Watford (T), Crystal Palace (kandang), Wolves (T), Leicester City (T), Brighton (K), Burnley (T).

Itu adalah deretan klub papan tengah, bahkan papan bawah. Paling buncit adalah Burnley yang duduk di peringkat 17. Apakah lantas Arsenal bakal dengan mudah memetik kemenangan di semua laga? Meskipun fans Arsenal, saya mencoba objektif dengan mengatakan bahwa kekalahan pun masih bisa mereka rasakan.

Mengapa begitu? Pertama, Arsenal adalah tim enam besar dengan jumlah pertandingan tandang terbanyak di akhir musim ini. lawan-lawan mereka adalah jenis klub yang agak Tangguh ketika bermain di rumah sendiri. Bahkan, Wolves, menjadi sangat kuat ketika bermain di kandang, dan menjamu klub besar.

Sementara itu, di sepak bola, entah kenapa, sejarah itu selalu berulang. Arsenal masih belum teruji di situasi yang menguji mental dalam waktu yang lama. Tim ini terlalu lama berlari di lintasan di luar zona Liga Champions. Selama tiga tahun terakhir, mereka tidak merasakan tekanan dan ekspektasi untuk kembali masuk empat besar.

Tim seperti Everton, Palace, Leicester, Wolves, dan Burnley seperti menjelma menjadi tim-tim papan atas Eropa ketika bertemu Arsenal. Wolves dan Burnley seperti menjadi Atletico Madrid di puncak performa ketika mereka bisa bertahan begitu solid dan punya serangan balik tajam. Yang mengherankan, Wolves bisa dua kali kalah melawan tim di zona degradasi, tapi sangat jago ketika ketemu tim papan atas.

Baca juga:  Meja Perundingan Liverpool Dijilati Kuntilanak dan Diludahi Pocong

Ketika diizinkan untuk bertahan dengan garis pertahanan begitu dalam dan kuat di serangan balik, Wolves, Everton, dan Burnley menjadi sangat berbahaya. Ini tipe klub yang paling dibenci Arsenal. ketika Arsenal dipaksa bermain dengan tempo rendah dan dengan garis pertahanan tinggi, biasanya, mereka akan dibuat menderita oleh serangan balik.

Tantangannya ada di sini. Ketika tidak kalah ketika bermain tandang, bahkan kamu bisa bilang harus menang, Arsenal yang akan duduk di peringkat ketika.

Chelsea

Bagaimana dengan Manchester United dan Chelsea? Peluang Chelsea yang sebetulnya agak berat. Bukan soal bermain kandang atau tandang, tapi Chelsea akan bertemu dua klub yang punya kepentingan besar. Mereka akan bermain tandang melawan Liverpool dan Manchester United.

O, Liverpool tidak boleh terpeleset. Mereka akan siap “bermain di lumpur”, bermain buruk, tapi menang ketika menghadapi siapa saja. Ini jenis lawan yang menyusahkan. Liverpool bahkan tak lagi gemetaran ketika kebobolan terlebih dahulu. Mereka jauh lebih stabil di paruh akhir. Hal ini akan saya tulis di artikel yang berbeda, spesial untuk fans Liverpool.

Manchester United? Ya jelas, mereka harus selalu menang untuk tetap di zona Liga Champions. Yang kemudian menyusahkan Chelsea adalah performa mereka sendiri.

Mereka bisa bermain stabil ketika melawan Brighton, tapi suram sekali ketika melawan tim enam besar. Mereka belum pernah menang ketika ketemu Arsenal, Manchester City, dan Manchester United di paruh akhir musim ini. Ingat, di paruh akhir musim ini ya.

Ingat sekali lagi, di sepak bola, sejarah itu sering terulang. Ketika sulit menang melawan tim enam besar, kamu akan sulit untuk terus berada dalam lomba lari ini.

Manchester United

Nah, Manchester United? Sama seperti Chelsea, mereka akan bertemu dua lawan berat di akhir musim. United akan melawan Chelsea dan Manchester City.

Sebetulnya, melihat hasil asuhan Ole Gunnar Solskjaer di awal-awal kepelatihannya, United bisa mengalahkan siapa saja. Mereka cukup disiplin, hampir selalu punya solusi ketika menyerang, dan punya kedalaman skuat yang cukup baik di tangan pelatih yang tepat.

Namun, Ole sudah merasakan ketika beberapa pemain inti cedera dan pelapis tidak tampil sebaik sebelumnya. Bongkar pasang terjadi. Ini menunjukkan Ole belum punya solusi terbaik ketika United tidak bermain dengan skuat utama. Ketika kalah dari Wolves, ia merotasi cukup banyak pemain. Pilihan yang menarik, tapi Ole belum bisa memikul risiko tinggi itu.

Baca juga:  Bonek Lempar Boneka: Aksi Persebaya yang Harus Selalu Kita Ingat

Apalagi ketika satu pemain kena kartu merah. Ia belum tanggap merespons situasi dengan cepat. Ini bukan karena saya fans Arsenal jadi bilang begitu. Ole sudah bekerja dengan baik. Seiring waktu, seiring pengalaman, United (seharusnya) jadi lawan paling menyebalkan di tahun-tahun mendatang. Mereka akan sulit dikalahkan ketika tidak banyak drama.

Tottenham Hotspur? Semua pasti sepakat kalau klub pecundang ini tidak layak di empat besar. Bukan karena performa atau objektivitas. Spurs ini sangat mudah untuk dibenci. Dan kebencian itu justru mereka buat sendiri, dari hal-hal di luar sepak bola.

Misalnya ketika Harry Kane dapat gelar MBE karena kontribusinya di timnas Inggris. Ini sungguh kacau. Kontribusi di timnas? Memang apa yang sudah dicapai timnas Inggris? Lagipula, kalau Kane dapat gelar itu, pemain lain kenapa tidak dapat? Tidak cuma dari timnas laki-laki, timnas perempuan Inggris juga layak dapat, bukan? Toh timnas laki-laki dan timnas perempuan sama-sama sampai di babak semifinal Piala Dunia.

Stadion? Ayolah, kamu harus menulisnya dengan lengkap: stadion terburuk sepanjang sejarah sepak bola. Stadion yang menyerupai dudukan toilet itu dibangun dengan dana besar. Dan itulah satu-satunya pencapaian mereka dalam berjuta-juta dekade klub itu berdiri.

Memindahkan lemari piala mereka adalah yang paling susah. Bukan karena berat berisi deretan piala, tapi karena tebalnya debu di dalamnya. Sangat sangat lama kosong, debu jadi menumpuk. Membersihkannya butuh bantuan tenaga pemadam kebakaran dan tim SAR. Debunya itu sangat buruk untuk kesehatan.

Dan satu hal yang paling buruk, stadion terburuk sepanjang sejarah itu menyajikan rendang tapi bilang itu dari Malaysia. Rendang itu pusaka Padang, pusaka Indonesia. Menyebut nama dan asal sebuah makanan saja salah, apalagi sejarah klub itu sendiri. Sudah betul kalau Spurs itu bubar dan jadi klub filateli saja.

Berani-beraninya menyebut “malaysian rendang”. Urusan makanan, urusan warisan budaya yang luhur, makanan paling enak sedunia adalah urusan harga diri. Dan Spurs sudah merusaknya. Kalau masih ada yang mendukung klub suram seperti itu, saya betul-betul heran. Apa yang bisa dibanggakan dari stadion tutup toilet dan klub buta sejarah?

  • 44
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles