• 79
    Shares

MOJOK.CO – Perlahan, revolusi merangkak ala Unai Emery di Arsenal membuahkan hasil. Oleh sebab itu, saya memohon maaf secara tulus kepada Aaron Ramsey.

Ketika Arsenal mencetak gol kelima ke gawang Fulham, beberapa teman nonton bareng saya berseloroh bahwa “Ini bukan Arsenal yang main. Arsenal itu kalahan.” Di dalam hati saya prihatin. Sebegitu mediokernya Arsenal “zaman dulu”? Kurang-lebih, klaim tersebut bisa diperdebatkan kebenarannya, tergantung sudut pandang masing-masing.

Musim 2018/2019 adalah musim perubahan The Gunners di bawah asuhan Unai Emery. Menggantikan Arsene Wenger, pelatih asal Spanyol tersebut ditinggali banyak masalah. Belum lagi ketika kita harus mempertimbangkan masa adaptasinya. Maka, musim ini, adalah musim penyesuaian diri seorang pelatih dan pemain-pemain yang belum sepenuhnya ia kenal.

Maka menjadi maklum pula, apabila performa Arsenal di atas lapangan masih belum stabil. Sejak dua kali kalah dari Manchester City dan Chelsea, Meriam London memang melakukan perbaikan. Setidaknya, saya bisa mengklaim bahwa perbaikan ke arah positif itu terlihat nyata, terutama jika berkaca dari hasil yang dipetik.

Setelah mengalahkan Fulham dengan skor 1-5, artinya Arsenal sudah menang sembilan kali berturut-turut di semua ajang. Bermain di bawah rezim baru, dengan cara bermain yang sepenuhnya berbeda dengan rezim sebelumnya, catatan ini patut mendapatkan apresiasi. Perlahan, namun pasti, Emery menemukan momen dan sentuhan yang pas.

Mengarah ke arah positif? Betul. Namun, sebetulnya, jika kamu menonton Arsenal secara rutin, masih terasa banyak kekurangan. Meski mampu mengakhiri laga dengan kemenangan di sembilan laga terakhir, penampilan Arsenal masih jauh dari nyaman. Masih terasa guncangan dan “geronjalan”. Belum sepenuhnya bersih.

Bersama Emery, The Gunners mulai fasih membangun serangan dari kiper, terutama ketika Bern Leno yang mengawal gawang. Di dalam penampilan yang sudah lebih baik, masih sering terjadi kesalahan-kesalahan dasar yang sangat mengganggu. Mulai salah umpan, salah mengintrol bola, dan mudah terebut di wilayah sendiri. Untung saja, entah bagaimana ceritanya, Arsenal selalu mengakhiri laga dengan kemenangan.

Baca juga:  Dilema Mesut Ozil dan Keraguan yang Menyelimuti Arsenal

Perubahan yang perlahan masih lebih baik ketimbang jalan di tempat, atau bahkan mengalami kemunduran. Inilah yang saya sebut sebagai revolusi merangkak ala Emery. Perubahan yang perlahan, artinya ada banyak kesalahan yang dikoreksi, dibetulkan, dan diujicobakan lagi di laga selanjutnya. Keberanian mengubah diri dan beradaptasi adalah dasar usaha bertahan hidup.

Contoh keberanian melakukan koreksi dengan cepat dan menunjukkan perbaikan terlihat di dua laga terakhir Arsenal. Tepatnya ketika menghadapi Qarabag di ajang Piala Europa dan melawan Fulham di Liga Inggris.

Melawan Qarabag, Emery mencoba dua formasi; 3-4-3 dan 4-2-3-1. Ketika skema 3-4-3 tidak berjalan dengan baik di babak pertama, mantan pelatih Sevilla tersebut mengubah pendekatan menjadi 4-2-3-1. Situasi menjadi lebih terkontrol dan akhirnya menang dengan skor 0-3.

Melawan Fulham, ketika banyak pengamat memprediksi bahwa skema 4-2-3-1 akan kembali digunakan, Emery membuat kejutan. Ia menggunakan skema dasar 4-4-2 narrow, dan menduetkan Danny Welbeck dengan Alexandre Lacazette di depan. Kembali, Arsenal sempat kesulitan di babak pertama, namun sukses besar di babak kedua. Pola yang sedang terbentuk di tengah revolusi merangkak ini.

Keberanian mencoba banyak skema memberi contoh nyali seorang pelatih dan kejernihan pikirannya. Ia bisa memaksimalkan pemain lapis kedua sehingga bisa menggunakan banyak skema untuk beragam situasi. Ketika pemain lapis kedua bisa rutin bermain, artinya Arsenal bisa memasukkan pemain utama, di 20 menit akhir babak kedua. Artinya, intensitas dan kualitas permainan tetap terjaga, bahkan meningkat. Kemenangan 1-5 atas Fulham menjadi contoh.

Kemampuan Emery memaksimalkan pemain-pemain seperti Alex Iwobi, Rob Holding, dan Danny Welbeck menularkan efek positif kepada pemain lain. Untuk kesempatan ini, saya hendak memohon maaf secara tulus kepada Aaron Ramsey.

Baca juga:  Mendukung Arsenal dengan Tangan Terkepal, Menggugat Stan Kroenke

Tanggal 1 Oktober 2018 yang lalu, saya menulis bahwa jika manajemen hendak menjual Ramsey, maka bulan Januari 2019 adalah waktu yang tepat. Saat itu, performa Ramsey sungguh tidak konsisten. Yang lebih memprihatinkan adalah Ramsey kesulitan beradaptasi dengan pola favorit Emery kala itu, yaitu 4-2-3-1.

Pola tersebut membuat Arsenal bermain lebih baik ketika dua sisi lapangan diisi pemain yang bertipe winger. Jangan salah, Ramsey pernah bermain sangat baik ketika memerakan peran wide-midfielder di bawah asuhan Wenger. Namun, pemain asal Wales itu nampak kesulitan menjalankan ide Emery.

Ketika Ramsey masih enggan memperpanjang kontraknya dan The Gunners nampak lebih membutuhkan winger, maka masuk akal apabila manajemen mengambil langkah tegas: jual.

Ketika melihat keberanian Emery memainkan beragam skema dan berjalan dengan baik, rasanya menjadi sangat sayang apabila menjual Ramsey. Baik skema 3-4-3, 4-2-3-1, maupun 4-4-2, Ramsey bisa dimaksimalkan untuk beragam situasi.

Ramsey masuk di babak kedua ketika melawan Fulham. Ia bermain sebagai wide-midfielder sebelah kanan. Bermain cukup narrow, pergerakan Ramsey ke tengah terlihat sangat mulus. kecerdasannya membaca dan mencari ruang memang senjata terkuat pemain asal Wales tersebut.

Satu gol cantik dan satu asis brilian mewarnaik 20 menit Ramsey di atas lapangan. Naiknya performa Ramsey hanya dalam satu pertandingan ini adalah kombinasi luwesnya ide pelatih dan kemauan pemain untuk menyesuaikan diri. Kalau sudah begini, mempertahankan Ramsey adalah opsi yang jernih.

Sepak bola bisa sangat kejam. Satu pertandingan kamu bermain buruk, hujatan datang dengan deras. Satu pertandingan kamu bermain baik, bahkan ketika tidak bermain 90 menit secara penuh, potensi besar itu langsung terlihat.

Untuk ketergesa-gesaan dan khilaf, saya meminta maaf kepada Ramsey. Revolusi merangkak ala Emery ini membutuhkan kejeniusan dan konsistensi semua pemain.