[MOJOK.CO] “Juventus dan Napoli saling sikut, Arsenal masih hobi membikin fansnya merengut.”

Sesuai prediksi, Juventus dan Napoli akan berhasil melewati grande partita masing-masing dengan nyaman. Sementara itu, di Inggris, Arsenal kembali menunjukkan identitas mereka, inkonsisten. Justru ketika dibutuhkan, ketika menghadapi rival “yang harus dikalahkan”, Arsenal malah kalah.

Fiorentina vs Juventus (0-2)

Fiorentina menunjukkan bahwa mereka punya modal cukup untuk merepotkan Si Nyonya Tua. Modal dendam masa lalu yang terus dijaga apinya hingga sekarang, membuat armada La Viola berani menekan dengan garis pertahanan tinggi untuk mengejar peluang. Dan jika saja mendapat sedikit kemujuran, Fiorentina bisa unggul dari Juventus.

Sepanjang pertandingan, Fiorentina bisa menciptakan 12 peluang mencetak gol. Cukup banyak dan perlu mendapatkan apresiasi mengingat Juventus baru kebobolan satu gol dari 12 pertandingan terakhir. Namun, pada akhirnya Fiorentina bertemu tembok yang begitu keras, yakni lini pertahanan Juventus yang sangat matang menebas semua peluang.

Peluang emas didapat Fiorentina dari kaki Giovanni Simeone yang sepakan kaki kanannya membentur tiang. Peluang tersebut didapat dari proses serangan balik, salah satu opsi serangan terbaik bagi Fiorentina malam itu.

Juventus sendiri memang pada dasarnya lebih banyak ditekan. Namun, kematangan lini pertahanan berbicara banyak. La Veccia Signora begitu sabar meredam semua serangan Fiorentina. Anda tahu, bertahan adalah pekerjaan yang paling sulit di sepak bola dan Juventus memperagakan caranya dengan baik.

Juventus paham bahwa mereka tak boleh sembrono ketika meladeni Fiorentina. Maka, setiap kesempatan adalah peluang. Memanfaatkan kecerobohan Fiorentina, Juventus mengeksekusi peluang secara efektif.

Fiorentina sendiri memang perlu lebih agresif menekan ketika Juventus membangun serangan. Namun sayang, agresivitas ini pula yang menghukum mereka, dua kali.

Pertama, pelanggaran tak perlu di depan kotak penalti. Bola mati dari sisi kiri pertahanan Fiorentina berhasil dimaksimalkan Federico Bernardeschi menjadi gol. Mantan pemain Fiorentina ini, dengan cerdik menempatkan bola di tiang jauh, membuat penjaga gawang Fiorentina telat mengantisipasi karena sempat bergerak ke arah yang salah.

BACA JUGA:  Menyimpan Bangkai Ala Arsene Wenger

Gol kedua Juventus berasal dari kelengahan Fiorentina yang mencoba menerapkan garis pertahanan tinggi ketika Juventus berusaha membangun serangan dari bawah.

Giorgio Chiellini, ketika berhasil melewati satu pemain depan Fiorentina, mendapatkan ruang yang lega di dekat lingkaran tengah. Struktur pertahanan Fiorentina sendiri tak siap ketika bek Juventus justru merangsek ke tengah.

Hasilnya, terbuka ruang bagi Chiellini untuk melepas umpan terobosan untuk Gonzalo Higuain. Striker asal Argentina tersebut tak banyak mendapatkan peluang. Namun sekali mendapat apa yang ia butuhkan, Higuain memaksimalkannya menjadi gol yang mutlak menutup jalan kembali bagi Fiorentina.

Napoli vs Lazio (4-1)

Seperti yang saya tulis di artikel prediksi, Lazio adalah tim tertajam kedua di Serie A dan akan berusaha menyerang terlepas dari siapa saja lawan mereka. Sayangnya, malam itu, Lazio bertamu ke kandang tim dengan pertahanan terbaik di liga: Napoli.

Seperti yang sudah diprediksi oleh Mojok Institute, Lazio selalu kesulitan ketika menghadapi tim-tim di enam besar. Prestasi mereka hanya sebatas mampu merepotkan tim-tim semenjana seperti Internazionale Milano dan AC Milan.

Lazio sendiri memang sempat unggul terlebih dahulu di awal babak pertama ketika Stevan de Vrij menyontek umpan silang Ciro Immobile. Pun, sepanjang babak pertama, Lazio bisa membuat bandul pertandingan tetap bergerak seimbang meskipun Napoli berhasil menyamakan kedudukan lewat Jose Callejon. Selain peluang Callejon, semua usaha Napoli masih bisa diredam dan dipatahkan.

Situasi langsung berubah di babak kedua, tepatnya setelah Wallace Fortuna dos Santos mencetak gol bunuh diri. Unggul 2-1, Napoli mendapatkan yang mereka butuhkan: ruang yang lega di pertahanan Lazio.

Seteah gol bunuh diri itu, Lazio kehilangan konsentrasi, terutama untuk mempertahankan ruang antar-lini dan antar-pemain, di mana Napoli begitu berbahaya ketika mendapatkannya. Gol Dries Martens, pencetak gol terbanyak Napoli, menjadi salah satu buktinya.

BACA JUGA:  Lima Klub Sepak Bola yang Suporternya Selalu Menyebalkan

Ketika bola dikuasai Piotr Zielinski dan ditekan dua pemain Lazio, Martens melihat ruang di depan penjaga gawang yang terbuka lebar. Bek tengah Lazio, de Vrij, yang ikut menekan Zielinski, justru membuka celah bagi Martens yang mengeksploitasinya dengan membuat vertical run dari lini kedua. Umpan cungkil dari Zielinski tinggal sedikit disenggol menjauhi jangkauan penjaga gawang.

Mojok Institute sudah memprediksi bahwa tuan rumah akan menang besar dan Napoli tidak mengecewakan. Kemenangan ini membuat perebutan capolista dengan Juventus tetap sengit. Saling kejar dua kuda pacu tengah terjadi.

Tottenham Hotspur vs Arsenal (1-0)

Salah satu kesalahan fatal dari Arsene Wenger adalah tidak membaca prediksi Mojok Institute yang terbit pada hari Jumat. Mojok Institute sudah mewanti-wanti bahwa meski punya sejarah bagus di Wembley, melawan Spurs, suasana pertandingan akan berbeda.

Arsenal seperti keledai yang paling tertinggal di kelasnya. Tahukah pembaca Mojok bahwa saat ini, Arsenal hanya bisa menang 3 kali dari 14 pertandingan tandang? Catatan buruk ini hanya dimiliki mereka yang tengah sibuk memperebutkan posisi 10 dan mereka yang tengah khawatir diisap jurang degradasi. Penampilan medioker.

Arsenal sendiri sempat tampil cukup solid di babak pertama. Namun, beberapa masalah yang menjadi langganan The Gunners masih tetap sama. Pertama, tidak memaksimalkan kesempatan menyerang. Kedua, hilang konsentrasi di momen-momen penting. Ketiga, tak punya solusi ketika sudah tertinggal gol.

Bahkan sebenarnya Arsenal bisa mengakhiri pertandingan dengan hasil imbang apabila Alexandre Lacazette berhasil memaksimalkan salah satu dari dua peluang emas. Namun, malam itu, rona Lacazette adalah cerminan rona Arsenal: gemar membuat kecewa.

Kesalahan-kesalahan yang dipertontonkan pemain Arsenal seperti menjadi sebuah tradisi di bawah asuhan Wenger untuk 10 tahun terakhir. Apakah Arsenal tak pernah belajar? Arsenal memang seperti keledai yang paling tertinggal di kelasnya: jatuh di kubangan yang sama.

Komentar
Add Friend
No more articles