Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Rekomendasi Lokasi untuk Menangis di Surabaya dan Tidak Semua Patah Hati Perlu Dicari Hikmahnya

Vema Novitasari oleh Vema Novitasari
28 Juli 2021
A A
Rekomendasi Lokasi untuk Menangis di Surabaya dan Tidak Semua Patah Hati Perlu Dicari Hikmahnya MOJOK.CO

Rekomendasi Lokasi untuk Menangis di Surabaya dan Tidak Semua Patah Hati Perlu Dicari Hikmahnya MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Terlepas dari hiruk pikuk dan sumuknya Surabaya, saya suka sekali langit sore di sini. Merokok di rooftop sambil menangis melepas kesedihan karena patah hati.

Terus terang, saya kurang paham kalau ada orang bilang kota A itu romantis dan kota B nggak romantis. Yogyakarta, Bandung, dan Malang kayaknya paling sering disebut-sebut sebagai kota romantis. Derajat romantisme Surabaya sepertinya termasuk rendah, untung sambelannya enak-enak. Mungkin gara-gara hawa panas itu orang jadi agak males keruntelan, beda sama Malang atau Bandung. Kayaknya di sini gandengan aja bisa bikin kemringet.

Tahun lalu, saya sedih sekali setelah patah hati dan putus. Setelah melewati fase mengurung diri, saya mulai keluar kamar untuk mencari udara segar. Mencari tempat untuk menangis di Surabaya dengan derajat romantisme yang rendah tentu bukan hal yang sulit. Spot buat pacaran atau lokasi yang mengilhami lahirnya lagu-lagu cinta seperti Malioboro sepertinya nggak terlalu telecekan di sini. Apalagi awan mendung hawa dingin yang cenderung bikin mellow, mana ada. Mari kita bersedih!

Lokasi favorit saya untuk menangis di Surabaya tentu saja di sekitar Pintu Air Jagir. Di pojokan samping PT Jasa Tirta, ada taman berpaving yang kalau malam ada buka warung kopi. Parkirnya gratis, lesehannya bersih, nggak berisik, pemandangan langsung ke riverbank, warungnya juga lumayan komplet. Kadang ada tukang becak tiduran di becaknya atau orang mancing di plengsengan kali, santai banget.

Lumayan juga tempat itu buat menangis. Saya suka menangis sambil ngeliatin sungai. Oh ya udah, hidup itu ngalir kok. Ntar juga ketemu arusnya. Malam itu, saya nangis sesenggukan di plengsengan kali, sendirian sambil rokokan dan minum es teh.

Tiba-tiba, terdengar suara kresek-kresek dari kanan bawah. Saya kira orang mancing, ternyata ada bapak-bapak lagi boker. Ya udah sih, dari zaman dulu kan emang sungai tempatnya orang boker. Kami liat-liatan bentar, lalu kembali ke kesibukan masing-masing.

Lokasi berikutnya di Surabaya untuk menangis adalah lampu merah Siola, di bawah taman gantung yang menghubungkan Siola dengan Koridor Coworking Space.

Sejak ada Street Boba, setiap jam sibuk daerah itu selalu macet. Wah pokoknya kalo ngga minum boba orang-orang ini pada tipes. Kami mau boba sekarang!!! Berikan kami boba atau revolusi?!

Segitu pentingnya distrik badokan itu di Tunjungan, kami para pekerja yang balik dari arah utara harus berdesakan, sedikit manuver biar nggak kesenggol pengendara nggateli yang ngeyel buat nyelip-nyelip. Masih ada bonus ketetesan air siraman taman demi deretan kendaraan yang parkir di pinggir jalan. Kadang baru sampai Kramat Gantung saya udah nyari-nyari topik buat menangis, biar sekalian ntar stresnya.

Kalau kalian mau bersedih karena patah hati sambil nontonin youth culture, bisa mampir ke Skate Park. Ini lokasi bersedih favorit saya sejak kuliah. Banyak remaja latihan nge-dance atau main skateboard, saya kadang ngeliatin mereka sambil mbatin, “Dik, jadi orang dewasa ngga enak. Jancukan pokoke!”

Kehadiran mereka di situ lumayan ngasih saya “teman” biar nggak suwung-suwung banget. Ngelamun di sini bisa mampir beli Gurin (susu campur cincau) dulu di Delta, terus jalan kaki ngeliatin lampu-lampu kota sama air mancur. Baliknya jangan malem-malem, soalnya parkiran Delta terkenal rada angker.

Metode menangis di Surabaya lainnya yang sudah saya coba adalah sambil bersepeda. Berangkat dari Raya Darmo, saya memilih rute ke arah Girilaya. Jalannya agak nanjak, tapi nanti begitu sampai TVRI sampai perempatan Palapa banyak bonus alias jalannya menurun. Dari situ ntar bisa mulai nangis, nggak perlu mengayuh jadi boleh lho kalo hidungnya penuh ingus. Rasanya lega banget nangis sambil ngerasain pipi dielus-elus angin semilir.

Kalau sudah nggak seberapa pengin menangis tapi pikiran masih agak kosong, saya biasanya jalan kaki dari Raya Darmo sampai Tunjungan Plaza. Trotoar favorit saya adalah sepanjang jalan Urip Sumoharjo: ngelewatin toko Arlisah yang legendaris itu, rumah susun dan barisan pohon trembesi di tepi sungai, Plaza BRI, Hotel Bumi, sampai ke Tunjungan Plaza. Langit Surabaya lagi cantik-cantiknya di musim kemarau. Awan-awan gembul mengapung malas di langit biru cerah. Menjelang senja, coba naik ke jembatan penyebrangan depan Hotel Olympic. Kalau noleh ke arah Timur, langitnya warna abu-abu, tapi kalo noleh ke arah Barat, langitnya warna merah muda.

Karena nggak suka clubbing, kadang saya pergi ke pasar tradisional menjelang tengah malam hanya untuk melihat orang berdagang. Saya beli buah, ngeteh di warung, lalu tidur dengan hati yang nggak sepi-sepi amat. Kalau nanti tengah malam kebangun, saya nggak sendirian, ada mereka yang masih terjaga.

Iklan

Saya menghabiskan banyak waktu untuk tenger-tenger sendirian ketika patah hati tahun lalu. Kadang saya sekadar muter-muter Surabaya nggak ada tujuan, cuma mau lihat lampu kelap-kelip biar nggak kerasa sepi (kayaknya spirit animal saya memang laron). Mungkin saya cuma mau ngerasain kehadiran orang lain, tapi ngga terlalu dekat jadi saya masih punya ruang memproses kesedihan. Atau, mungkin saya pengin ngeliat orang-orang sedih (nggak mungkin saya sendirian yang bersedih!) di jalan, di trotoar, atau di warung-warung. Mereka tetap berfungsi dan beraktivitas seperti biasa, walau hati mereka terasa berat.

Saya jadi ingat salah satu scene di Kamome Diner-nya Naoko Ogigami, “Whereve you go, sad is sad.” Memang benar, sedih dan menangis ini universal. Kalau kata Silampukau, “Sedang dunia punya duka yang sama”.

Saya kurang percaya kalau liburan bisa menghapuskan kesedihan. Setelah dipikir-pikir, saya hanya butuh jeda beberapa saat. Di mana saja boleh. Keluar duit jutaan buat tenger-tenger di balkon sebuah vila di Seminyak boleh juga, tapi topik yang ditangisi ya sama saja dengan menangis di atas seprei bolong-bolong di kamar kos.

Karena terbentur rutinitas dan biaya, saya cuma bisa muter-muter mencari tempat yang sejenak memisahkan saya dari tanggung jawab yang memaksa saya untuk tetap “berfungsi”. Dari periode muram itu, saya belajar buat… ah ngapain belajar? Nggak usah deh, nggak semua kejadian perlu dicari hikmahnya. Saya hanya ingin bersedih. Menangis di beberapa lokasi di Surabaya terasa seperti mengambil jatah bersedih dengan sistem cicilan; hari ini sejam, besok dua jam, begitu terus sampai lega dan bisa menemukan ritmenya lagi.

Terlepas dari hiruk pikuk dan sumuknya Surabaya, saya suka sekali langit sore di sini. Seperti biasa, pulang kerja saya merokok di rooftop kos-kosan sambil menunggu langit perlahan berubah warna dari ungu ke biru tua. Saya menghela napas panjang, “Kok bisa ya ada yang tega bikin saya sedih di tengah cuaca senyaman ini?”

BACA JUGA Ucapkan Jancuk dengan Fasih Sesuai Tajwid Surabaya dan tulisan mengharukan lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 28 Juli 2021 oleh

Tags: DarmomenangisPatah HatisilampukauSurabayaTunjungan Plaza
Vema Novitasari

Vema Novitasari

Mba-mba kantoran biasa aja. Suka kucing, ayam goreng, dan uang.

Artikel Terkait

Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO
Urban

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026
Ribuan istri di Surabaya minta cerai. MOJOK.CO
Ragam

Perempuan Surabaya Beramai-ramai Ceraikan Suami, karena Cinta Tak Lagi Cukup Membayar Tagihan Hidup

30 Januari 2026
Kesedihan perantau yang merantau lama di Surabaya dan Jakarta. Perantauan terasa sia-sia karena gagal menghidupi orang tua MOJOK.CO
Ragam

Rasa Gagal dan Bersalah Para Perantau: Merantau Lama tapi Tak Ada Hasilnya, Tak Sanggup Bantu Ortu Malah Biarkan Mereka Bekerja di Usia Tua

29 Januari 2026
Orang Madura sudah banyak kena stigma buruk di Surabaya dan Jogja. Terselamatkan berkat dua hal MOJOK.CO
Ragam

2 Hal Sederhana yang Selamatkan Wajah Madura Kami dari Stigma Buruk Maling Besi, Penadah Motor Curian, hingga Tukang Pungli

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pertama kali makan donat J.CO langsung nangis MOJOK.CO

Orang Berkantong Tipis Pertama Kali Makan Donat J.CO, Dari Sinis Berujung Nangis

3 Februari 2026
blok m jakarta selatan.mojok.co

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026
kos di jakarta.MOJOK.CO

Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”

3 Februari 2026
Sarjana pegasuh anak, panti asuhan Muhammadiyah di Surabaya. MOJOK.CO

Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

5 Februari 2026
Krian Sidoarjo dicap bobrok, padahal nyaman ditinggali karena banyak industri serap kerja dan biaya hidup yang masuk akal MOJOK.CO

Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

5 Februari 2026
Mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah PTN Surabaya pertama kali makan di restoran All You Can Eat (AYCE): norak, mabuk daging, hingga sedih karena hanya beri kenikmatan sesaat MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

6 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.