Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Ketika DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) Disindir Sebagai Provinsi DIY (Do It Yourself) Dalam Penanganan Pandemi Covid-19

Redaksi oleh Redaksi
4 Juli 2021
A A
DIY
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dalam konteks penanganan pandemi, kepanjangan DIY tampaknya bukan hanya Daerah Istimewa Yogyakarta, namun juga Do It Yourself. 

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarya dalam beberapa waktu terakhir benar-benar menjadi media daring di masa pandemi Covid-19 yang terus mengganas ini.

Iklan

Daerah Istimewa Yogyakarta, oleh banyak orang, dianggap sebagai salah satu provinsi yang paling buruk dalam urusan penanganan pandemi Covid-19. DIY berkali-kali mencatatkan diri sebagai daerah dengan angka penyebaran Covid-19 terparah di Indonesia.

DIY juga tercatat menyamai “prestasi” yang sudah sebelumnya diukir oleh DKI, yakni menjadi daerah yang seluruh wilayah kabupaten/kota-nya menjadi zona merah.

Tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) rumah sakit di DIY juga semakin mengkhawatirkan. Beberapa rumah sakit besar di DIY, utamanya Sleman dan Kota Yogyakarta mulai tidak bisa menerima pasien baru karena penuhnya ruangan. Dalam beberapa waktu terakhir, berita tentang pasien Covid-19 yang meninggal saat isolasi mandiri karena tak kebagian kamar atau kehabisan oksigen mulai menjadi hal yang lumrah.

Dalam kondisi yang sedemikian buruk, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan bahwa pihaknya belum akan mengambil langkah lockdown karena pemerintah tidak kuat jika harus membiayai biaya hidup seluruh masyarakat Yogyakarta.

“Saya nggak kuat untuk ngragati (membiayai) rakyat sak Yogya,” terang Sri Sultan dalam rapat Covid-19 pada Senin, 21 Juni 2021 lalu.

Pernyataan tersebut kemudian beredar luas di media sosial dan memancing reaksi yang keras dari netizen.

Kelak, pernyataan tersebut semakin diperparah dengan pernyataan-pernyataan dari para pejabat pemerintah Yogyakarta terkait penanganan pandemi. Salah satu yang cukup memancing reaksi keras adalah pernyataan Ketua Harian Satgas Covid-19 Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi pada Kamis, 1 Juli 2021 lalu yang menyatakan bahwa wisatawan tetap boleh berkunjung ke Jogja asalkan membawa surat keterangan bebas Covid-19 dan sudah divaksin.

Pernyataan tersebut, selain dianggap tidak peka keadaan, juga tidak sesuai dengan aturan terkait PPKM Darurat yang baru saja ditetapkan oleh pemerintah pusat. Dalam aturan PPKM Darurat tersebut, tempat wisata memang wajib ditutup.

Kritik-kritik terhadap Provinsi DIY pun terus bermunculan. Puncaknya saat Sri Sultan menerbitkan Surat Edaran Nomor 443/13429 tentang Optimalisasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Berbasis Mikro Tingkat Pedukuhan atau Rukun Kampung, Rukun Warga, dan Rukun Tetangga.

Dalam surat edaran tersebut, Sri Sultan meminta agar perangkat warga di tingkat padukuhan, RK, RW, dan RT membentuk satgas Covid-19 dengan pembiayaan secara swadaya.

“Masing-masing Satuan Tugas agar mengoptimalkan keterlibatan Satlinmas, kelompok Jaga warga, Babinsa dan Babinkamtibmas yang dikoordinasikan oleh dukuh ketua Rukun Kampung, ketua Rukun Warga dan ketua Rukun Tetangga. Pembiayaan operasional Satuan Tugas Penanganan Covid-19 di pedukuhan, rukun kampung, rukun warga dan rukun tetangga agar menggunakan swadaya masyarakat dengan semangat gotong-royong dan jaga warga.” Begitu isi surat edaran tersebut.

Hal tersebut tentu saja membuat reaksi keras yang muncul semakin deras.

Imbauan Gubernur agar warga membentuk satgas Covid-19 dengan biaya secara swadaya dianggap sebagai upaya pemerintah untuk menghindar dari tanggung-jawab.

Banyak yang lantas membandingkannya dengan alokasi dana keistimewaan (Danais) tahun 2021 yang nilainya mencapai 1,32 triliun rupiah. Pada tahun sebelumnya, dengan jumlah dana yang sama, alokasi danais dipakai sebagian besar untuk aktivitas kebudayaan (Rp776 miliar), tata ruang (Rp483 miliar), dan kelembagaan (Rp35 miliar). Pemerintah Yogyakarta oleh netizen selama ini memang dianggap terlalu sering menghabiskan dana istimewa untuk proyek-proyek yang dianggap tidak terlalu penting, seperti proyek revitalisasi tugu Jogja, pemagaran alun-alun, sampai proyek-proyek kebudayaan dan kesenian yang kurang berdampak luas terhadap masyarakat.

Hal itulah yang kemudian memunculkan banyak sindiran terhadap Pemerintah DIY, dari mulai provinsi yang “Narimo ing pandemi” (plesetan dari narimo ing pandum), sampai provinsi yang benar-benar DIY, alias Do It Yourself.


BACA JUGA Nggak Usah Terbeli oleh Romantisasi Jogja. Asline Biasa Wae, Lur dan artikel KILAS lainnya. 

Terakhir diperbarui pada 4 Juli 2021 oleh

Tags: DIYsri sultanYogyakarta
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Semesta Buku Yogyakarta 2026 MOJOK.CO

Semesta Buku Yogyakarta Hadir Bersama Pasetaky #4 dan Jakal Bookshop Festival 2026: Rayakan Buku, Komunitas, dan Ruang Literasi 

27 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Lansia menjual aksesori kemerdekaan di Malioboro, Yogyakarta. MOJOK.CO

Kisah Istri Pensiunan BPN Turun ke Jalanan untuk Jual Aksesori Kemerdekaan di Masa Tua demi Hadiahkan Cucu

18 Agustus 2026
Pameran foto dalam Pesta Rakyat Jogja guna memeriahkan acara HUT ke-81 RI. MOJOK.CO

Potret Warga Jogja: Asyik “Pesta” Saat Pejabat sedang Upacara HUT ke-81 RI di Gedung Agung

17 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
GVD Resmi Rilis Single Perdana "VII", Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah.MOJOK.CO

GVD Resmi Rilis Single Perdana “VII”, Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah

23 Agustus 2026
Shifana, pemain Timnas U-16 Indonesia dibayangi pemain Yordania, Alma Odai di pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026. Indonesia menang dengan skor 3-0 di laga semifinal, Jumat (21/8).

Timnas Putri U-16 Indonesia Bungkam Yordania 3-0, Thailand Menanti di Final Srikandi Merdeka Cup

22 Agustus 2026
budidaya kenari

Perjuangan Bapak Hobi Kicau Mania: Dari Budidaya Kenari, Bisa Hantarkan Anak Meraih Gelar Sarjana 

26 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.