ADVERTISEMENT

Bedog Art Fest (BAF) #16: Festival di Tepi Sungai Ajak Warga Rawat Kebersamaan-Menjaga Lingkungan

Bedog Art Festival (BAF) ke-16 di Sleman MOJOK.CO

MOJOK.CO, SLEMAN – Berkolaborasi dengan warga, Bedog Art Fest (BAF) ke-16 berhasil terselenggara untuk mengajak masyarakat merawat kebersamaan dan menjaga lingkungan. 

Bedog Art Fest (BAF) ke-16 kembali terlaksana pada Sabtu (3/10/2026) di Studio Banjarmili tepian Sungai Bedog, Dusun Kradenan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. 

Mengusung tema “(nge)Rawat Rasa”, gelaran tahun ini mengajak masyarakat memperkuat kebersamaan, kemanusiaan, dan kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus menunjukkan bahwa seni dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tema tersebut melanjutkan “Sambung-Menyambung” pada 2025. Jika tahun lalu BAF membangun sambungan antara festival, seniman, dan warga, tahun ini festival menjaga agar sambungan itu tidak lapuk.

Kolaborasi dengan warga di Bedog Art Fest (BAF) #16

Kebersamaan yang ingin dibangun BAF bukan hanya soal ramainya pengunjung, tetapi kolaborasi yang tumbuh bersama warga sekitar. Sejak 29 Agustus 2026, panitia menggelar sosialisasi, workshop pengelolaan sampah rumah tangga, pelatihan warung warga berbasis kelokalan, dan kerja bakti membersihkan area festival. 

Setiap tahun, lebih dari 200 warga terlibat sebagai panitia. Sebagian penampil juga berkolaborasi dengan warga dan anak-anak desa.

Rangkaian program dimulai pada Jumat (2/10/2026) dengan kegiatan non-panggung:

  • Sunrise Sehat: Mat Pilates Kolaborasi Bedog Arts Fest bersama Prasasti Gym & Pilates
  • Cek kesehatan gratis bersama Puskesmas Gamping II.
  • Ngudhari Rasa – tentang Kesehatan Mental, Hal-Hal yang Kita Rasakan, dan Cara Merawat Diri melalui talkshow dan workshop zine
  • Pameran “Ruang Bicara”, menampilkan karya anak binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Yogyakarta bersama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PKBI DIY).
  • Warung Warga Kradenan, kuliner khas dari dapur-dapur warga sekitar.

“Di era yang bergerak makin cepat dan individualis, BAF ingin menumbuhkan kembali semangat kemanusiaan,” ungkap Sambung Penumbra, Board of Creative BAF ke-16, dalam keterangan tertulisnya. 

Salah satu ruang yang dihadirkan BAF tahun ini adalah pameran “Ruang Bicara”, yang memajang karya hasil proses kreatif anak binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Yogyakarta. 

Pameran ini terwujud lewat kolaborasi dengan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PKBI DIY) melalui program inklusi, dan tetap dapat dinikmati pengunjung pada hari puncak.

Melalui seni, anak-anak tersebut mendapat kesempatan menyampaikan diri, mencoba, dan menemukan kemungkinan baru dalam diri mereka. Di sinilah makna (nge)Rawat Rasa hadir, melihat seseorang tidak hanya dari apa yang pernah terjadi, tetapi juga dari apa yang masih bisa tumbuh. 

“Merawat rasa juga berarti merawat kesempatan, kesempatan untuk didengar, untuk bertumbuh, dan untuk menjadi lebih baik,” demikian pesan yang disampaikan pada pembukaan festival.

Panggung di atas sungai dan cahaya dari sampah 

Pada hari puncak, Sabtu (3/10/2026), panggung pertunjukan berdiri tepat di atas aliran Sungai Bedog, diterangi ribuan lampu senthir. Ruang pertunjukan meluas ke pohon-pohon di tepi sungai, tebing, dan kolam mata air. 

Format ini menjadi ciri khas BAF, yang pada 2012 dicatat Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai pemrakarsa dan penyelenggara festival seni pertunjukan internasional di lingkungan sungai.

Malam puncak dibuka dengan prosesi penebaran benih ikan, diiringi penari Dadak Merak dan pertunjukan Paguyuban Reyog Manggolo Mudho. Penebaran benih menjadi simbol kehidupan, keberlanjutan, dan upaya merawat apa yang telah diberikan alam. 

Bupati Sleman Harda Kiswaya turut memberikan sambutan. Dalam sambutannya, Bupati menekankan pentingnya menjaga kelestarian alam dan kejernihan sungai melalui upaya merawat sungai yang dapat diwujudkan bersama melalui kesenian dan kebudayaan.

Ada enam penampil membawakan karya dengan gagasan masing-masing di Bedog Arts Fest 2026 ini, yaitu:

  • Reyog Manggolo Mudho Pawargo Yogyakarta – paguyuban reyog dari Yogyakarta – membawakan karya berjudul Kesenian Reyog Obyog-an. Karya ini adalah sebuah budaya lokal seni reyog obyok dan menunjukan sebagai ritual bersih-bersih desa dan tolak bala untuk syukuran. 
  • Ari Chandra Pamungkas (Ari Terry) – koreografer asal Surabaya – membawakan “Self Identity”. Karya ini mengajukan gagasan bahwa tradisi, budaya, dan akar sosial telah “menubuh” sebagai identitas seseorang. Tubuh dipandang sebagai arsip sekaligus ruang dialog, dan penonton diajak bertanya: mampukah sebuah entitas baru tumbuh tanpa meninggalkan tradisi yang sudah menyatu dalam dirinya?
  • Sirip Kuning Yogyakarta – kelompok musik asal Yogyakarta – membawakan “Mawas Diri”. Di tengah riuhnya hidup, karya ini mengajak penonton berhenti sejenak dan mendengar suara batin sendiri, dengan kesadaran bahwa tidak semua rasa harus dilawan atau segera dijelaskan.
  • Prehistoric Body Theater – dipimpin sutradara sekaligus koreografer asal Amerika, Ari Rudenko, bersama kolaborator dari Trenggalek, Bengkulu, Madura, dan Yogyakarta – membawakan “S17 and the Devil’s Trumpet”. Karya ini bagian dari rangkaian yang sejak 2022 menelusuri kisah Homo erectus, dengan rujukan fosil Sangiran 17, dan digarap bersama paleontolog dan paleoantropolog Laboratorium Bioantropologi UGM serta Museum Purba Sangiran. Pertunjukan menggambarkan sekelompok Homo erectus yang berhadapan dengan buah kecubung (Datura metel), tumbuhan yang menawarkan “petualangan batin”.
  • Pulung x PDS – koreografer Pulung Jati Ronggo Murti dari Yogyakarta bersama para kolaborator – membawakan “Ritus”, perjalanan spiritual manusia Jawa mencari keseimbangan diri bersama semesta, dengan bertolak dari falsafah Jawa Hamemayu Hayuning Bawono, yakni menjaga keselarasan dunia.
  • Keroncong Kamulyan membawakan “Kamulyan”, yang mengangkat petuah Jawa bahwa orang hidup semestinya menghidupi kehidupan. Lewat laku yang sungguh-sungguh, kemuliaan hadir bukan untuk diri sendiri, melainkan bagi sesama.

BAF juga mengusung semangat green festival. Panitia menekan penggunaan plastik sekali pakai, melibatkan warga dan relawan dalam pengelolaan sampah, dan mengolah sampah plastik festival menjadi bahan bakar lampu senthir. Lampu yang menerangi panggung dengan demikian dibuat dari limbah festival itu sendiri.

Bedog Art Fest (BAF): ruang bersama yang terus tumbuh

Menurut panitia, BAF merupakan bagian dari upaya jangka panjang mendukung pengembangan Dusun Kradenan sebagai desa wisata berbasis budaya dan kearifan lokal. Festival yang telah berjalan sejak 2007 ini rutin dikunjungi lebih dari seribu orang per hari.

Lebih lanjut, Sambung menambahkan, (nge)Rawat Rasa adalah undangan untuk menjaga kesinambungan agar sambungan yang sudah terjadi antara festival dan masyarakat tidak kembali renggang. 

“Agar semangat yang telah diwariskan lintas generasi tidak hanya disambung, tetapi juga disemai dalam praktik keseharian—dari seni, dari lingkungan, dari warga yang terus belajar bersama,” tekannya.***(Adv)

BACA JUGA: Jeda Biennale Jogja setelah 16 Tahun Perjalanan Kebudayaan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2026 oleh .
Artikel Advertorial

Redaksi

Kontributor aktif media opini dan satir.