Zine adalah media yang lahir dari komunitas. Terbitnya tidak pasti, oplahnya tidak pasti, dan isinya sering kali terlalu spesifik untuk media arus utama.
Di masa Orde Baru, sebagian sin tidak hanya dianggap kecil atau pinggiran, tetapi juga subversif.
Predikat itu bukan skedar label. Ia datang bersama pasal makar, vonis penjara dan perburuan aparat. Bukan hanya pengelolanya yang di tangkap, tetapi juga mereka yang sekedar mengedarkannya.
Masjid Tendril Sudirman yang Dianggap Gelap
Pada awal 1980-an, Masjid Jendral Sudirman di kawasan Lombok pernah diperkenalkan oleh negara sebagai sarang kegiatan subversif. Di masjid ini lah Buletin Ar Risalah dicetak dan diedarkan.
Hari ini, masjid itu dikenal sebagai ruang pengajian filsafat yang tenang. Namun 40 tahun yang lalu, masjid tersebut dipandang sebagai ruang berbahaya, diaman ruang berkumpul anak muda yang dituduh menyusun gerakan gelap untuk menyerang pemerintah.
Seorang anak muda bernama Irfan Suryohardi, penanggung jawab Buletin Ar Risalah, ditangkap. Perburuan meluas—dari Yogyakarta hingga Pamekasan dan Makassar. Mahasiswa, pelajar SMA, hingga aktivis masjid ikut diseret. Bahkan sebelum pengadilan digelar, Kejaksaan Agung sudah lebih dulu menjatuhkan vonis moral: Ar Risalah adalah terbitan terlarang.
Yang Menyebarkan Juga Bersalah
Subversi tidak berhenti pada pencetakan. Seorang pengedar buletin bernama Ahmad Zonet Sumarlan juga dijerat hukum. Ia dituduh menyebarkan dua buletin terlarang sekaligus: Ar Risalah dan Al-Ikhwan. Tuntutan awal delapan tahun penjara, diputus enam tahun oleh hakim.
Ini bukan kasus narkotika. Bukan senjata. Ini perkara membagikan buletin masjid.
Masjid, Zine, dan Ingatan yang Tak Boleh Hilang
Masjid Jenderal Sudirman kala itu hanya menjalankan aktivitas yang hari ini terasa biasa: pengajian remaja, kajian tafsir rutin, diskusi pemikiran Islam, dan pertemuan lintas organisasi mahasiswa. Tetapi dalam iklim Orde Baru, semua itu bisa dibaca sebagai ancaman.
Zine seperti Ar Risalah mengajarkan satu hal penting: bahwa negara pernah begitu takut pada suara kecil, pada selebaran sederhana, pada kata-kata yang dicetak dari ruang masjid.
Simak kisah lengkapnya di episode terbaru Jasmerah, Karena belajar sejarah bukan sekadar mengingat masa lalu, melainkan memahami arah yang hendak kita tuju bersama.









