Ruang pengukuhan tak pernah benar-benar sejak awal. Bahkan sebelum nama Zainal Arifin Mochtar (Uceng) dipanggil lengkap dengan gelar, tawa sudah lebih dulu bocor dari barisan kursi penonton. Seolah semua sepakat hari itu adalah hari untuk menertawakan Uceng dengan tawa yang ngakak.
Roasting pembuka itu ibarat sound check konser yang sengaja dibikin pecah telinga, norak, tapi efektif. Dari atas podium, serangan itu sukses menyeret Uceng balik ke zaman purba: masa-masa dia jadi mahasiswa UGM yang hobinya nanya melulu tapi jarang banget diam—tipe-tipe mahasiswa yang kalau di kelas bikin dosen pengen cepat-cepat pensiun dini.
Profesor, Oposisi, dan Konstitusi
Satu ruangan pecah, ketawa semua. Uceng pun ikut nyengir, meski di balik tawa formalitasnya itu, dia punya raut muka orang yang baru sadar: ternyata dosa-dosa masa lalu itu memang nggak punya malu, hobi banget datang bertamu tanpa diundang.
Begitu tawa reda, Deni Indrayana masuk ke area sensitif. Uceng disentil sebagai profesor yang nggak betah di kampus, lebih sering nampang di TV ketimbang di jurnal. Pertanyaannya satu: Zainal Arifin Mochtar ini sebenarnya Profesor atau Oposisi?
Suasana makin panas saat nama Dirty Vote disebut. Zainal Arifin Mochtar dituduh sebagai dosen yang nekat menyeret hukum ke layar lebar, meninggalkan bahasa akademik yang aman demi bahasa visual yang telanjang. Dia disindir sebagai profesor “keterlaluan”, tapi ya gimana lagi, mungkin konstitusi kita memang sudah terlalu rusak untuk dibahas dengan nada sopan.
Zainal Arifin Mochtar dan Guru Besar yang Diuji Bukan dengan Pujian
Puthut EA dan Muhiddin M. Dahlan kemudian menimpali dengan nada yang lebih “ngeri-ngeri sedap”. Mereka mengingatkan soal penyakit intelektual yang sering lupa umur saat memprovokasi, atau parahnya, mendadak bangun dan sadar dirinya sudah berdiri terlalu dekat dengan pusat kekuasaan.
Okky Madasari menutup dengan tamparan paling sunyi: Setelah jadi Guru Besar, apakah Uceng bakal tetap galak? Ataukah jabatan bakal bekerja diam-diam, melunakkan suara, dan mengajarkan kompromi yang pelan-pelan terasa wajar?
Acara kelar tanpa rasa lega. Seorang profesor baru saja dikukuhkan, tapi bukannya disembah, dia malah ditarik ramai-ramai ke tanah untuk ditertawakan. Tapi mungkin memang begitu harusnya. Di negeri yang konstitusinya terus digerogoti, seorang Guru Besar Hukum Tata Negara nggak cukup cuma pintar; dia harus tahan banting, kuat disindir, dan tetap keras kepala di tempat yang nggak nyaman—bahkan setelah gelar tertinggi sudah resmi menempel di namanya.









