Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Video

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

Redaksi oleh Redaksi
21 Januari 2026
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ruang pengukuhan tak pernah benar-benar sejak awal. Bahkan sebelum nama Zainal Arifin Mochtar (Uceng) dipanggil lengkap dengan gelar, tawa sudah lebih dulu bocor dari barisan kursi penonton. Seolah semua sepakat hari itu adalah hari untuk menertawakan Uceng dengan tawa yang ngakak.

Roasting pembuka itu ibarat sound check konser yang sengaja dibikin pecah telinga, norak, tapi efektif. Dari atas podium, serangan itu sukses menyeret Uceng balik ke zaman purba: masa-masa dia jadi mahasiswa UGM yang hobinya nanya melulu tapi jarang banget diam—tipe-tipe mahasiswa yang kalau di kelas bikin dosen pengen cepat-cepat pensiun dini.

Profesor, Oposisi, dan Konstitusi

Satu ruangan pecah, ketawa semua. Uceng pun ikut nyengir, meski di balik tawa formalitasnya itu, dia punya raut muka orang yang baru sadar: ternyata dosa-dosa masa lalu itu memang nggak punya malu, hobi banget datang bertamu tanpa diundang.

Begitu tawa reda, Deni Indrayana masuk ke area sensitif. Uceng disentil sebagai profesor yang nggak betah di kampus, lebih sering nampang di TV ketimbang di jurnal. Pertanyaannya satu: Zainal Arifin Mochtar ini sebenarnya Profesor atau Oposisi?

Suasana makin panas saat nama Dirty Vote disebut. Zainal Arifin Mochtar dituduh sebagai dosen yang nekat menyeret hukum ke layar lebar, meninggalkan bahasa akademik yang aman demi bahasa visual yang telanjang. Dia disindir sebagai profesor “keterlaluan”, tapi ya gimana lagi, mungkin konstitusi kita memang sudah terlalu rusak untuk dibahas dengan nada sopan.

Zainal Arifin Mochtar dan Guru Besar yang Diuji Bukan dengan Pujian

Puthut EA dan Muhiddin M. Dahlan kemudian menimpali dengan nada yang lebih “ngeri-ngeri sedap”. Mereka mengingatkan soal penyakit intelektual yang sering lupa umur saat memprovokasi, atau parahnya, mendadak bangun dan sadar dirinya sudah berdiri terlalu dekat dengan pusat kekuasaan.

Okky Madasari menutup dengan tamparan paling sunyi: Setelah jadi Guru Besar, apakah Uceng bakal tetap galak? Ataukah jabatan bakal bekerja diam-diam, melunakkan suara, dan mengajarkan kompromi yang pelan-pelan terasa wajar?

Acara kelar tanpa rasa lega. Seorang profesor baru saja dikukuhkan, tapi bukannya disembah, dia malah ditarik ramai-ramai ke tanah untuk ditertawakan. Tapi mungkin memang begitu harusnya. Di negeri yang konstitusinya terus digerogoti, seorang Guru Besar Hukum Tata Negara nggak cukup cuma pintar; dia harus tahan banting, kuat disindir, dan tetap keras kepala di tempat yang nggak nyaman—bahkan setelah gelar tertinggi sudah resmi menempel di namanya.

Tags: Dirty Voteguru besar UGMroastinguceng

Terpopuler Sepekan

Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu MOJOK.CO

Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

19 Januari 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina

20 Januari 2026
OTT Wali Kota Madiun

Warga Madiun Dipaksa Elus Dada: Kotanya Makin Cantik, tapi Integritas Pejabatnya Ternyata Bejat

20 Januari 2026
Ulfi Rahmawati, penerima beasiswa LPDP alumnus UNY. MOJOK.CO

Tak Melihat Masa Depan Cerah sebagai Guru Honorer di Ponorogo, Pilih Kuliah S2 dengan LPDP hingga Kerja di Perusahaan Internasional

21 Januari 2026
Banjir di Muria Raya, Jawa Tengah. MOJOK.CO

Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026

20 Januari 2026

Video Terbaru

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

21 Januari 2026
Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

20 Januari 2026
Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayakan

18 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.