Pada dekade 1990 hingga awal 2000-an, nama Damardjati Supadjar melampaui batas ruang akademik.
Ia bukan hanya dikenal sebagai Guru Besar Filsafat di Universitas Gadjah Mada, tetapi juga hadir sebagai mubaligh, budayawan, sekaligus penasehat spiritual kesultanan Jogja.
Wacana yang ia bawa tidak berhenti di forum ilmiah. Ia menjalar ke masjid hingga pengajian-pengajian di pelosok desa,
fenomena ini menimbulkan pertanyaan menarik, bagaimana mungkin gagasan filsafat yang sarat simbol dan makna—bahkan tidak mudah dipahami—justru diburu dan dikagumi banyak orang?
Filsafat yang Turun ke Tanah
Kunci pertama dari daya tarik Damardjati Supadjar terletak pada caranya “menurunkan” filsafat ke tanah pengalaman sehari-hari.
Ia tidak memperlakukan filsafat sebagai disiplin abstrak yang terpisah dari hidup, melainkan sebagai laku.
Di tangannya, istilah-istilah filsafat tidak dipamerkan sebagai penanda kecendekiaan, melainkan diramu dengan bahasa simbolik yang akrab bagi tradisi Jawa dan Islam.
Rasional, Sistematis, namun Tetap Sunyi
Meskipun kerap berbicara tentang hal-hal batiniah, filsafat Damardjati bukanlah ajaran yang anti-rasio.
Justru sebaliknya, ia berusaha menyusun pemikiran yang rasional dan sistematis. Namun rasionalitas yang ia maksud bukan rasionalitas kering yang memisahkan subjek dari pengalaman hidupnya.
Karena itu, jalan yang ia tawarkan sering disebut sebagai “jalan sunyi”: sebuah proses kesadaran yang tidak riuh oleh slogan atau klaim kebenaran instan. Jalan ini menuntut disiplin berpikir sekaligus kepekaan batin.
Damardjati Supadjar Diterima Lintas Ruang dan Generasi
Pendekatan inilah yang membuat Damardjati Supadjar diterima lintas ruang dan generasi. Di kampus, ia dihormati sebagai filsuf yang serius dan mendalam.
Di masjid dan ruang publik, ia didengar sebagai pengajar spiritual yang tidak menggurui. Ia tidak berbicara dari menara gading, tetapi dari pengalaman hidup dan kebudayaan yang nyata.
Di tengah zaman yang serba cepat dan dangkal, pemikiran Damardjati Supadjar menawarkan jeda.
Ia mengingatkan bahwa pengetahuan tanpa kesadaran batin mudah berubah menjadi kesombongan, sementara spiritualitas tanpa kerja nalar rawan jatuh pada mistifikasi kosong.
Episode Jasmerah kali ini menelusuri kembali jejak pemikiran tersebut bersama Irfan Afifi. Bukan untuk mengkultuskan, melainkan untuk membaca ulang: apa sebenarnya inti gagasan Damardjati Supadjar yang membuatnya bertahan dalam ingatan banyak orang?.









