Episode Putcast kali ini dibuka dengan cerita-cerita ringan tentang Coip dan hidupnya yang akrab dengan bunyi ketipung dan kayu jati.
Sejak awal, suasana langsung cair ketika Coip bercerita soal ketertarikannya pada kayu jati. Cerita itu kemudian nyambung ke pekerjaannya di bengkel furnitur.
Dari sana, obrolan melebar ke dunia orkes pensilalis. Panggung-panggung dijalani tanpa manajemen ribet dan tanpa hitung-hitungan honor yang kaku. Cukup saling percaya, main bareng, lalu pulang.
Di bagian awal ini, tawa dan guyonan lebih sering muncul daripada teori hidup. Obrolan terasa santai dan akrab sejak menit pertama. Namun, perlahan arah percakapan mulai bergeser.
Di tengah obrolan, Coip masuk ke pengalaman-pengalaman personal. Ia bercerita tentang kegagalannya saat mencoba jadi komika. Ia juga mengisahkan kebingungannya ketika menekuni dunia konten kreator. Dunia yang terlihat ringan, tapi ternyata cukup melelahkan secara mental, meski tetap memberi kepuasan tersendiri.
Obrolan kemudian menyentuh soal percintaan dan pertemanan. Hubungan-hubungan yang pelan-pelan berjalan ke arah masing-masing. Di bagian ini, percakapan tak lagi sekadar candaan. Nada reflektif mulai terasa.
Coip berbagi pandangannya tentang menjalani hidup dengan ambisi, meski tidak selalu sejalan dengan standar keberhasilan yang umum. Menjelang akhir, obrolan mengerucut pada soal rezeki dan kebahagiaan. Bagi Coip, yang paling membahagiakan bukan viral atau terkenal, melainkan kesempatan untuk srawung dan bekerja dengan tenang.
Percakapan ditutup dengan refleksi tentang kematian, proses, dan kesabaran. Bahwa hidup tak harus selalu melonjak ke atas untuk tetap bermakna.









