Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Uneg-uneg Anak Rantau dari NTT yang Kuliah di Jakarta untuk Kakaknya yang Main Game Terus

Redaksi oleh Redaksi
27 Agustus 2023
A A
Uneg-uneg Anak Rantau dari NTT yang Kuliah di Jakarta dan Tinggal Bareng Kakak yang Main Game Melulu MOJOK.CO

Ilustrasi Uneg-uneg Anak Rantau dari NTT yang Kuliah di Jakarta dan Tinggal Bareng Kakak yang Main Game Melulu.

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Nama saya Litha, saya anak ke 5 dari 5 bersaudara. Asal saya dari Kupang, NTT. Semua kakak saya sudah berkuliah dan sudah lulus. Walaupun punya banyak saudara, hidup saya tidak serame itu, sepi-sepi saja, karena semua kakak saya merantau ke Kota Jakarta untuk kuliah. 

Sejak SD, saya sudah banyak pengalaman mengantar kakak ke bandara untuk jadi anak rantau sesuai gilirannya masing-masing. Saya jadi seperti anak tunggal, setiap hari hanya berdua dengan ibu saya karena bapak bekerja di luar pulau. 

Biasanya mengantar, sekarang saatnya saya yang jadi anak rantau. Keluarga di Kupang ikut mengantar saya ke bandara untuk ke Jakarta. Saya masuk kuliah di tahun 2021. Situasi pandemi membuat kampus masih menggunakan sistem daring. Jadi semester satu sampai semester dua, saya masih dapat berkuliah dari kampung halaman. 

Yah, hitung-hitung mengundur-undur keberangkatan karena sejujurnya saya takut meninggalkan rumah, keluarga, kamar tidur, teman-teman saya, dan banyak lagi. 

Sempat berpikir, coba saja sistem daring ini bisa dijalani hingga lulus, pasti akan lebih baik. Tapi di satu sisi merasa sayang juga jika tidak mencoba pengalaman di luar sana.

Sampai pada libur semester dua menuju semester tiga, saya mendapat informasi dari website kampus bahwa kegiatan belajar mengajar sudah akan berlangsung secara onsite. 

Hari yang saya takutkan tiba, saya harus meninggalkan kampung halaman saya dan semua yang ada di dalamnya. Sepanjang perjalanan ke bandara maupun perjalanan udara sampai ke Jakarta, saya hanya menahan diri untuk tidak menangis. Berusaha kuat dan mempersiapkan diri, karena sesungguhnya tantangan hidup yang baru sedang menanti

Memikirkan dan melakukan pekerjaan rumah sediri

Di Jakarta saya tinggal di kontrakan bersama kakak laki-laki saya yang sudah lulus dari satu tahun kemarin dan masih dalam proses mencari pekerjaan tetap. Sempat berpikir, mungkin jauh dari rumah dan tinggal sendiri tidak akan disuruh mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak, mengepel, dsb, itu bisa jadi poin plus. 

Namun, ternyata semuanya di luar ekspektasi saya. Lima bulan pertama tinggal dengan kakak, saya harus ke pasar sendiri, memikirkan bahan makanan yang harus saya beli, mencari referensi olahan makanan apa yang ingin saya buat. 

Juga mencuci piring, membersihkan dan merapikan rumah sendiri, mencuci baju dengan tangan, semuanya sendiri. Kakak laki-laki saya? Bangun jam 12 siang menyantap masakan yang sudah saya masak, dan kembali bersantai. Selanjutnya bermain game online lagi sampai hari gelap. 

Banyak pengalaman kesal yang selama masa ini, tapi pengalaman yang paling sedih adalah ketika saya punya jadwal kelas jam 7.30 pagi sampai jam 6 sore. Saya harus bangun dari jam 4 subuh untuk masak sekaligus bersiap ke kampus. 

Jam 6 sore, ketika pulang ke kos mendapati nasi telah habis dan tidak ada niat dari kakak saya (yang tidak melakukan apa-apa seharian itu), untuk memasak nasi. Setelah berlelah-lelah dari kampus dan keadaannya seperti ini, jujur saya menangis. 

Bagi saya ini tidak sepele, menahan kantuk berusaha bangun untuk menyiapkan makanan, sampai ke kampus harus menguras tenaga dalam belajar, tetapi ketika pulang harus memasak lagi karena masakan yang tadi pagi sudah habis kakak saya makan. 

Menjadi anak rantau itu berat

Siapa sangka kondisi seperti ini berjalan bahkan sampai saat ini. Ya, mungkin ada sedikit perubahan pada sifat kakak setelah saya berjuta-juta kali marahi dia dan berujung pada saya mogok masak. Sesekali ia mau merendahkan dirinya untuk memasak nasi ketika melihat nasi sudah habis. 

Iklan

Memikirkan harus memasak apa, membeli apa dan memikirkan apakah uang bulanan cukup untuk keperluan-keperluan yang ada juga sangat membebani pikiran. Kalo di rumah ibu, mungkin disuruh masak, tapi tidak sampai mengatur uang untuk cukup makan selama sebulan kan. Mungkin orang tua menyuruh membersihkan rumah, tapi ibu mengambil alih cucian piring, artinya masih ada kerja sama di antara kami. 

Tapi sekarang? Seperti saya bekerja dengan diri sendiri, sebagai pelayan yang melayani kakak saya setiap hari. Saya hanya membayangkan, bagaimana selama ini dia bisa tinggal sendiri dengan kebiasaan-kebiasaan dan pola pikirnya yang sekarang. 

Saya selalu berharap rasa tanggung jawabnya akan hal sederhana di kehidupan sehari-hari dapat tumbuh agar Yang Maha Kuasa dapat secepatnya mempercayakan tanggung jawab yang lebih besar di luar sana, di dalam pekerjaannya nanti. 

Litha, Duri Kepa, Kebon Jeruk. [email protected]

BACA JUGA Penyesalan Menjadi Mahasiswa Nolep Saat Masih Mab dan keluh kesah lain dari pembaca Mojok di UNEG-UNEG

Keluh kesah dan tanggapan Uneg-uneg  bisa dikirim di sini

Terakhir diperbarui pada 27 Agustus 2023 oleh

Tags: anak nttanak rantauuneg-uneg
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Overthinking Siswa SMA yang Akhirnya Berhasil Kuliah Jalur SNBP di Universitas Trunojoyo Madura MOJOK.CO
Uneg-uneg

Overthinking Siswa SMA yang Akhirnya Berhasil Kuliah Jalur SNBP di Universitas Trunojoyo Madura

20 April 2024
Kelakuan Pengemudi Mobil di Surabaya Bikin Orang Banyak-banyak Istigfar MOJOK.CO
Uneg-uneg

Kelakuan Pengguna Mobil di Surabaya Bikin Orang Banyak-banyak Istigfar

13 Maret 2024
Surat Cinta untuk Petugas Parkir Liar di Jakarta yang Cuma Modal Peluit MOJOK.CO
Uneg-uneg

Surat Cinta untuk Petugas Parkir Liar di Jakarta yang Cuma Modal Peluit

10 Maret 2024
Jalur Pantura Semarang-Kudus Adalah Alasan Saya Merem Melek dan Misuh! MOJOK.CO
Uneg-uneg

Jalur Pantura Semarang-Kudus Adalah Alasan Saya Merem Melek dan Misuh!

9 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Honda Supra X 125

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

24 Februari 2026
Kuliah online di universitas terbuka: meski tak ngampus tapi dirancang serius untuk mudahkan mahasiswa, meski diserang hacker MOJOK.CO

Kuliah Online di Universitas Terbuka (UT): Meski Tak Ngampus tapi Tak Asal-asalan, Sering Diserang Hacker tapi Tak Mempan

23 Februari 2026
Perbandingan pengguna iPhone vs Android (Infinix dan Samsung)

8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman

25 Februari 2026
Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja

Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman

26 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.