Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Rasanya Jadi Warga Muhammadiyah di Sumenep

Redaksi oleh Redaksi
22 April 2023
A A
Rasanya Jadi Warga Muhammadiyah di Sumenep. MOJOK.OO

Rasanya Jadi Warga Muhammadiyah di Sumenep. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya terlahir di Kabupaten Sumenep, ujung timur Pulau Madura yang terkenal dengan warganya yang menjadi pengikut ormas Nahdlatul Ulama. Namun, saya terlahir di keluarga yang hampir setengahnya pengikut Muhammadiyah. 

Entah darimana kok bisa menjadi warga Muhammadiyah di antara banyaknya warga NU di keluarga besar. Saya hanya menebak mungkin keluarga saya tergabung dalam Muhammadiyah karena banyak sesepuh saya yang merantau ke Kota Gudeg Jogja.

Saya pun tidak bisa memvalidasi hal tersebut karena sesepuh tersebut banyak yang telah meninggal dunia. Bahkan untuk abah saya sendiri, saya belum sempat menanyakan bagaimana bisa tergabung Muhammadiyah.

Sejak dulu memang kelompok kecil keluarga kami agak dipandang berbeda oleh masyarakat kebanyakan di daerah saya. Almarhum abah sempat menjadi guru ngaji di surau kecil bahkan juga mengabdikan dirinya di pondok pesantren NU di daerah saya. 

Kami sering kali jadi obrolan ketika kami sekeluarga yang ikut Muhammadiyah melakukan Salat Ied yang kerap mendahului keputusan pemerintah. Biasanya kala fajar terbit kita sekeluarga bergegas ke pusat kota ke titik-titik pengurus Muhammadiyah kota kami menyelenggarakan Salat Id. 

Jadi bahan pertanyaan teman-teman di sekolah

Pasca salat, kami ngumpul sebentar dengan keluarga dan kembali ke rumah untuk melanjutkan aktifitas kami masing-masing. Besoknya kita ikut lagi dalam kegiatan Salat Idulfitri versi pemerintah. Dan di hari kedua ini suasana Lebaran seperti seharusnya tercipta. Di hari sebelumnya kita sekeluarga hanya kumpul-kumpul sebentar tanpa ada acara makan-makan karena kami menghargai saudara lain yang masih berpuasa. Tak elok rasanya kita menikmati makanan di depan saudara kita yg masih melaksanakan ibadah puasa.

Saat kecil saya tidak terlalu memperhatikan, layaknya anak kecil kebanyakan yang girang menyambut Idulfitri, pakai baju baru, terlepas dari rutinitas dibangunin untuk makan sahur dll. Namun, masa MTs saya merasa dipandang aneh oleh masyarakat kebanyakan karena kala itu perayaan Iduladha Muhammadiyah berbeda dari yang lainnya. 

Kala itu saya berpuasa hari arafah tanggal tanggal 8 Zulhijjah versi pemerintah.  Paginya abah sudah berpesan agar menemui guru untuk minta izin tidak masuk sekolah karena esok hari akan menunaikan Salat Ied. 

Namanya juga anak-anak yang sering kali fokus bermain dan lupa namun untungnya dari guru BK datang ke kelas untuk menanyakan siap saja yang akan melaksanakan Lebaran esok hari untuk dibuatkan surat dispensasi. Kala itu di kelas hanya saya sendiri tapi semua anak-anak Muhammadiyah dikumpulkan di ruang BK untuk mendapat pengantar surat dispensasi yang harus ditandatangani oleh wali. 

Selepas kembali dari ruang BK mulailah di kelas saya diinterogasi sama teman sekelas. “Kamu orang Muhammadiyah, kenapa kok Lebaran duluan? Kenapa kok nggak barengan? Dan banyak lagi alasan yg menanyakan mengapa saya berbeda. Sayangnya saat itu saya tidak paham apa itu Muhammadiyah yang penting ikut kata abah.

Muhammadiyah dianggap agama berbeda

Kuliah saya merantau ke Malang dan tergabung dalam IMM, beberapa kali ikut kajian yang diadakan Muhammadiyah dan sering juga diskusi dengan teman seorganisasi. Wawasan bertambah dan ketika ada orang yang memiliki pandangan negatif saya bisa meluruskan semampu saya.

Di Sumenep, Muhammadiyah tampaknya dianggap agama berbeda oleh masyarakat. Bagaimana penjelasannya saya juga bingung karena sulit mendeskripsikan. Di sini, Muhammadiyah sering menjadi bahan olok-olokan.

Sekolah Muhammadiyah di Sumenep menerima semua peserta didik baik dari kalangan Muhammadiyah maupun di luar itu terlebih lagi mereka yang ditolak di sekolah negeri. Selain itu banyak pemuda di daerah saya yang jebolan dari Universitas Muhammadiyah Malang. Namun, hal lucunya ialah mereka yg seolah menolak keberadaan Muhammadiyah tapi mengizinkan putranya dididik dibawah naungan Sang Surya.

Di tahun 2023 ini kembali saya harus dibenturkan dengan kondisi saya mengalami perbedaan jadwal Idulfitri dengan pemerintah. Jika ada orang bertanya kapan Lebaran saya akan jawab “Maklumat dari Pimpinan Muhammadiyah menyatakan tanggal 21 April, dan untuk pemerintah masih menunggu penetapan hasil sidang isbat, namun besar kemungkinan lebarannya berbeda antara Muhammadiyah dan Pemerintah”. 

Iklan

Taukah anda tanggapan apa yang saya terima? Sebuah pertanyaan lanjutan yg intinya kok anda bisa tau apakah anda orang Muhammadiyah? Dengan yakin saya mengangguk.

Muhammadiyah, kau disanjung perihal pelayanan namun dianggap agama baru hanya karena sering kali beda pandangan.

Semoga masyarakat semakin banyak yang tahu bahwa Muhammadiyah hanyalah sebuah organisasi keagamaan bukan sebuah aliran kepercayaan yang keberadaannya harus diwaspadai.”

Nurfakhmi Ilham Firdaus, Desa Saronggi, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Jawa Timur [email protected]

BACA JUGA Andai di Malang Ada Bus Terintegrasi dan keluh kesah lagi dari pembaca Mojok di Uneg-uneg.

Keluh kesah dan tanggapan Uneg-uneg  bisa dikirim di sini

Terakhir diperbarui pada 22 April 2023 oleh

Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO
Urban

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Surat Wasiat dari Siswa di NTT Itu Tak Hanya Ditujukan untuk Sang Ibu, tapi Bagi Kita yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak. MOJOK.CO
Catatan

Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak

7 Februari 2026
Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO
Edumojok

Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP

7 Februari 2026
tan malaka.MOJOK.CO
Catatan

Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi

6 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
self reward.mojok.co

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026
4 jenis orang/pengendara yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya dan dipersulit bikin SIM. Biang kecelakaan lalu lintas MOJOK.CO

4 Jenis Orang yang Harus Dilarang Nyetir Motor di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan, Biang Nyawa Melayang

2 Februari 2026
kos di jakarta.MOJOK.CO

Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”

3 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen yang Nggak Perlu Ngomongin Toleransi MOJOK.CO

Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen Kok Nggak Ngomongin Toleransi

2 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.