Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Wisata Gunungkidul: Warga Membangun, Pemodal Menggusur

Jevi Adhi Nugraha oleh Jevi Adhi Nugraha
14 Oktober 2022
A A
Jogja Istimewa, Gunungkidul Merana

Salah satu pantai pasir putih di Gunungkidul (Lucky Vectorstudio via Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Senyum sumringah wisatawan adalah pemandangan sehari-hari yang biasa dilihat warga Gunungkidul, terutama mereka yang tinggal di kawasan wisata. Banyak orang luar daerah datang dan memuji keindahan alam di Bumi Handayani ini. Tapi, di balik senyum bahagia yang dirasakan para pengunjung, ada sejumlah warga di kawasan wisata yang tengah memperjuangkan tanah kelahirannya dari para pemodal yang mencoba “menggusurnya”.

Salah satu warga yang berani secara terang-terangan melawan investor dan kekuasaan adalah masyarakat di kawasan Pantai Watu Kodok, Gunungkidul. Konflik lahan di Pantai Watu Kodok sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Puncaknya terjadi pada 2013 lalu, tepatnya saat seorang pemodal mengklaim memiliki hak mengelola pantai seluruhnya. Padahal, sesuai perjanjian pihaknya cuma punya lahan tanah seluas dua hektare.

ADVERTISEMENT

Masalah kian mengerucut ketika investor mulai membangun rumah makan dan resort di sekitar pantai. Artinya, ada sejumlah pedagang lokal yang harus angkat kaki. Dari sinilah, hati warga sekitar terpanggil untuk mempertahankan dan memperjuangkan tanah kelahirannya, tempat mereka mencari makan.

Kita tahu, nggak ada hal yang lebih menyakitkan dari rumah yang sudah susah payah kita bangun, kita rawat, dan kita jaga, tapi orang lain yang menghuninya. Ini yang sesungguhnya terjadi di hampir semua objek wisata di Gunungkidul. Di mana warga lokal berjuang mati-matian mempopulerkan kawasan wisata dengan harapan agar bisa meningkatkan taraf ekonomi masyarakat lokal, tapi setelah objek wisata itu benar-benar populer dan ramai dikunjungi wisatawan, para pemilik modal datang “merebut” lahan warga lokal yang lebih dulu menempatinya.

Harapan warga lokal yang tinggal di kawasan wisata, terutama di Pantai Watu Kodok, sebenarnya sangat, sangat, sederhana. Mereka hanya ingin dikasih ruang untuk berjualan supaya bisa menghidupi keluarga. Fakta di lapangan, bahkan untuk sekadar menggelar lapak kecil-kecilan di kawasan wisata pun mereka harus berhadap-hadapan dengan tembok besar bernama investor dan pemangku kekuasaan, yang tentu memiliki tenaga yang besar.

Kathok Abang, simbol Warga Gunungkidul melawan tirani

Sejak 2016 lalu, warga di sekitar Pantai Watu Kodok terus berupaya menolak kedatangan para investor yang tentu sudah “berbisik-bisik” sama pemerintah. Wujud penolakan ini mereka lakukan dengan berbagai cara, salah satunya menggelar Festival Kathok Abang. Puluhan orang dewasa mengenakan seragam SD dan melakukan upacara bendera di kawasan Pantai Watu Kodok, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul.

Mereka mengenakan seragam SD dan melakukan upacara bendera nggak terjadi secara ujug-ujug dan bukan tanpa alasan. Tahun sebelumnya, tepatnya pada 2015, salah seorang investor menicibir dengan melontarkan kata-kata (yang intinya) warga lokal nggak memiliki kekuatan untuk melawan pemodal karena rata-rata penduduk sekitar cuma lulusan SD atau orang nggak berpendidikan tinggi. Tentu ini ancaman serius, pemodal yang sudah merasa dirinya super power, berpikir bisa berbuat apa saja “di kampung halaman” orang lain. Lagian, kenapa kalau warga sekitar cuma lulusan SD?

Apa pun itu, saya justru berterima kasih kepada investor yang melontarkan kata-kata “keren” tersebut. Dengan adanya statement itu, semakin menegaskan bahwa mereka sebenarnya tak lebih dari kumpulan manusia dengan otak bawang yang nggak sadar kalau ucapan itu membuka aibnya sendiri. Mereka nggak paham “logika kotornya” itu akan sangat mudah terbaca dan membangunkan macan tidur.

Baca Juga:

Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau

5 Realitas Pahit Hidup di Semarang yang Tidak Muncul dalam Brosur

Saya bukan penganut paham primordialisme sempit, tapi percayalah “orang Gunungkidul” biarpun tampak “nggah-nggih”, sesungguhnya mereka punya power besar melampaui kedalaman cara berpikir kumpulan otak brodot yang ususnya dipenuhi zat-zat serakah akut itu. Istilah bapak saya, “Orang Gunungkidul itu kalau dibaikin, kepala saja diserahkan. Tapi, sekali disakiti, ditantang, dan diremehkan, ucapannya akan menyengsarakan hingga ke anak cucu.”

Sekali lagi, saya nggak mau terjebak sama sikap primordial. Maksud saya, kami ini, masyarakat Gunungkidul, sudah sangat biasa hidup prihatin dari sejak dalam kandungan. Apa yang ada di sekitar rumah, itulah yang kami makan. Lha sekarang, nggak sedikit orang datang (baca: pemodal) njak-njakan, pating regijik, petentengan, masuk “pagar rumah” kami merebut sumber makanan kami, terus kami ini kalian anggap apa?

***

Perjuangan warga di kawasan wisata mempertahankan “kampung halaman”, terutama di Pantai Watu Kodok, tampaknya masih panjang. Semakin banyak tempat di Gunungkidul yang menawarkan panorama keindahan alam, berbanding lurus dengan kedatangan para investor. Tentu saya nggak serta merta menyalahkan para pemodal, tapi lebih kepada sistem dan kebijakan yang acap kali bertolak belakang dari keinginan warga.

Ada banyak contoh kebijakan terkait pengelolaan wisata di Gunungkidul yang masih karut-marut. Paling hangat adalah pemasangan portal yang dilakukan pihak Keraton di sepanjang jalan menuju Pantai Watu Kodok pada Maret 2022 lalu. Jalan ini merupakan akses utama kawasan camping ground dan penghijauan yang tengah dikembangkan oleh sekitar 40 orang penduduk lokal.

Tanpa sepengetahuan warga, jalan cor blok yang dibangun secara swadaya oleh Pokdarwis Watu Kodok itu diportal oleh pihak keraton dan polisi. Memang warga sadar betul bahwa tanah itu masuk lahan Sultan Ground (SG), tapi setidaknya berembuk dulu sama masyarakat lokal. Nggak asal-asalan nutup jalan yang baru saja dibangun dari hasil keringat warga setempat tanpa alasan yang jelas. Bukankah ini bukti nyata bahwa pemerintah tidak pro-warga? Katanya raja bercermin di kalbu rakyat, lho kok gini? Atau jangan-jangan memang sengaja warga nggak boleh menikmati “kue pariwisata”?

Kurangnya koordinasi antara pemerintah dan warga lokal memang jadi masalah cukup mendasar di kawasan wisata Gunungkidul. Setelah warga bersusah payah membangun, menjaga, mengembangkan wisata, dan berhasil dikenal wisatawan dari luar daerah, tiba-tiba investor datang “membeli” semua kawasan, dan masyarakat lokal nggak dilibatkan sama sekali. Inilah sesungguhnya kenyataan pahit yang tengah dihadapi warga Gunungkidul di sekitar objek wisata: mereka yang membangun, tapi investor selalu berhasil menikung dan menggusur.

Terlepas dari itu semua, sesungguhnya apa yang tengah dilakukan warga di kawasan Pantai Watu Kodok adalah representasi masyarakat Gunungkidul yang melawan segala bentuk tirani. Kita tahu, memperjuangkan hidup di tanah monarki sangat tidak mudah, bahkan untuk membicarakannya kadang tak sadar keringat menetes deras. Tapi, adanya Festival Katok Abang, jadi bukti ada rakyat yang menjerit di tengah gembar-gembor wisata yang kian melejit.

Penulis: Jevi Adhi Nugraha
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jogja Istimewa, Gunungkidul Merana

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 Oktober 2022 oleh

Tags: Gunungkidulinvestorpenggusuranwisata
Jevi Adhi Nugraha

Jevi Adhi Nugraha

Lulusan S1 Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berdomisili di Gunungkidul.

ArtikelTerkait

Investor trader pasar modal mojok

Hari Libur Adalah Hari yang Paling Dibenci oleh Investor

3 Januari 2021
10 Dialek khas Gunungkidul, dari Klomoh, Jabang Bazik, hingga Kemecer Terminal Mojok.co

Gunungkidul, Daerah Penuh Kejadian Aneh yang Bikin Keanehan Bantul Terlihat Normal

11 Agustus 2023
5 Destinasi Wisata Menarik di Indonesia dan Hal-hal yang Harus Dihindari Saat Berkunjung ke Sana Terminal Mojok

5 Destinasi Wisata Menarik di Indonesia dan Hal-hal yang Harus Dihindari Saat Berkunjung ke Sana

9 Desember 2022
5 Tempat di Banyuwangi yang Baiknya Nggak Dikunjungi terminal mojok.co

5 Tempat di Banyuwangi yang Baiknya Nggak Dikunjungi

17 November 2021
5 Kafe di Gunungkidul yang Nyaman untuk Mengerjakan Tugas Mojok.co

5 Kafe di Gunungkidul yang Nyaman untuk Mengerjakan Tugas

6 Mei 2025
3 Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum Wisata ke Salatiga terminal mojok

3 Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum Wisata ke Salatiga

30 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Cara Kecamatan Cibiru Membunuh Romantisme Bandung (Unsplash)

Sebagai Pengendara Motor di Bandung, Saya Capek Ikut Menyumbang Macet Setiap Hari

27 Juni 2026
Pengalaman Naik Honda Win 100 di Tanah Rantau Adalah Mimpi Buruk, Hidup Tambah Repot Mojok.co

Bergantung pada Honda Win 100 di Tanah Rantau Adalah Mimpi Buruk, Hidup Tambah Repot

26 Juni 2026
Warlok Semarang Muak dengan Mal Baru, Lebih Butuh Ruang Terbuka Hijau yang Terjangkau Mojok.co

Warlok Semarang Muak dengan Mal Baru, Lebih Butuh Ruang Terbuka Hijau yang Terjangkau 

24 Juni 2026
Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini  Terminal

Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini 

29 Juni 2026
4 Tempat di Kota Malang yang Butuh Direlokasi karena Memiliki Masalah Terus Berulang

Selamat Datang di Kota Malang, Kota Pendidikan yang Gang Sempitnya Menjadi Sirkuit Uji Nyali Para Pengendara

29 Juni 2026
Kos Putri Tempat Tinggal yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau, tapi Aslinya Bikin Malas Mojok.co

Kos Putri Kerap Dianggap Tempat Paling Rapi di Dunia, padahal Justru Sebaliknya, Titik Kumpul Masalah dan Kekacauan!

29 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.