Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau

Andry Setyawan oleh Andry Setyawan
17 Juni 2026
A A
Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau Mojok.co

Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Di tengah Jakarta yang serba asing, warteg adalah satu-satunya tempat yang masih terasa Indonesia. Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika awal pindah ke Jakarta dari Gunungkidul. 

Hal pertama yang saya sadari bukan soal pekerjaan, bukan soal ritme hidup, tapi soal makanan. Kedengarannya sepele, tapi justru dari situ semuanya terasa berbeda. 

ADVERTISEMENT

Saya yang berasal dari Gunungkidul, tumbuh dengan lidah yang terbiasa makanan manis, santan kental, dan bumbu yang cenderung “ramah”. Eh, tiba-tiba harus berhadapan dengan rasa yang jauh lebih tegas. Di Jakarta, banyak makanan terasa langsung to the point. Asin ya asin, gurih ya gurih, tanpa banyak kompromi di tengahnya.

Saya sempat kaget. Bukan kaget yang dramatis, tapi lebih ke bingung kecil yang terus berulang. Makanan yang dulu saya anggap biasa seperti sayur lombok atau terong dengan kuah santan dan sedikit gula tiba-tiba tidak mudah ditemukan.

Rasa yang dulu akrab seperti ccampuran antara manis, gurih, santan tiba-tiba digantikan oleh rasa yang cenderung “to the point” tadi. Rasa yang tidak cocok di lidah saya. 

Di titik itu saya baru sadar, ternyata pindah kota di Indonesia bukan cuma soal pindah tempat tinggal, tapi juga pindah rasa.

Warteg comfort food para perantau, khususnya saya

Di tengah berbagai penyesuaian merantau di Jakarta, saya menemukan satu tempat andalan yakni warteg. Bukan karena rasanya luar biasa, tapi karena rasanya yang cenderung familier.  

Warteg seperti ruang kompromi. Di sana ada banyak pilihan, banyak kemungkinan, dan tidak ada satu standar rasa yang dipaksakan. Mau sayur, lauk, pedas, tidak pedas, semua bisa dirakit sesuai selera. Dan, yang paling penting, rasanya cukup aman di lidah Gunungkidul saya. 

Baca Juga:

Orang yang Foto di Tugu Jogja Itu Bukan Norak, Hampir Semua Pelancong Pernah Melakukannya

Jogja Memang dan Akan Selalu Jadi Kota Tujuan Kuliah, Kota Pendidikan yang Sebenarnya

Kalau diibaratkan, warteg itu seperti zona netral di tengah kota yang besar dan asing. Tempat di mana saya tidak perlu beradaptasi terlalu keras hanya untuk makan siang. 

Mungkin karena itu saya menyebut warteg sebagai penyelamat di kota asing. Bukan penyelamat dalam arti besar dan heroik, tapi penyelamat kecil yang membuat hari-hari tetap bisa berjalan normal.

Selain rasa, harganya bersahabat

Ada satu hal lain yang saya sadari di Jakarta yaitu harga. Bukan hanya makanan yang berbeda, tapi juga cara kita memandang uang berubah. 

Di Gunungkidul dan Jogja, saya terbiasa dengan jarak yang lebih “longgar” antara uang dan kebutuhan sehari-hari. Di Jakarta, jarak itu terasa lebih rapat. Bahkan. hal kecil seperti parkir bisa membuat saya berhenti sejenak dan menghitung ulang prioritas.

Di tengah semua itu, warteg terasa seperti anomali yang menenangkan. Harga relatif masuk akal, pilihan banyak, dan tidak ada tekanan sosial apa pun di dalamnya. Tidak ada tuntutan untuk tampil “layak”, tidak ada standar estetika tertentu, tidak ada kesan bahwa kita harus menjadi seseorang yang berbeda hanya untuk bisa duduk dan makan.

Mungkin itu sebabnya warteg terasa sangat familier  bagi saya. Karena ia tidak eksklusif, tidak berjarak, dan tidak memaksa orang untuk menjadi versi lain dari dirinya sendiri.

Saya mulai berpikir, mungkin makanan memang bukan sekadar soal rasa. Tapi, soal cara kita beradaptasi dengan tempat baru. Lidah ternyata punya cara sendiri untuk membaca kota. Dari makanan, kita bisa tahu apakah sebuah tempat terasa ramah atau tidak.

Warteg membuat hidup di Jakarta tak begitu berat

Jakarta, bagi saya, awalnya terasa asing. Bukan karena kotanya tidak baik, tapi karena ritme dan rasanya berbeda. Sementara Jogja, tempat saya tumbuh, terasa lebih lembut di lidah, lebih pelan, lebih “menerima”. Dua kota itu seperti dua cara hidup yang berbeda, dan saya berada di tengah-tengahnya, mencoba menyesuaikan diri.

Akan tetapi, seiring waktu, saya tidak lagi sekaget dulu. Lidah saya mulai belajar. Tidak sepenuhnya berubah, tapi mulai bisa menerima. Saya tetap kangen rasa Jogja, tapi saya juga mulai paham bahwa Jakarta tidak sedang “salah rasa”, hanya berbeda cara menyajikan kehidupan.

Di tengah proses adaptasi itu, warteg tetap jadi titik aman. Tempat saya bisa berhenti sejenak dari semua perbedaan rasa itu. Tempat yang tidak menuntut saya untuk memilih menjadi orang Jakarta sepenuhnya, atau tetap menjadi orang Jogja sepenuhnya. Di warteg, saya cukup menjadi orang yang lapar.

Kadang saya berpikir, mungkin alasan warteg terasa begitu “aman” bukan hanya karena makanannya, tapi karena orang-orang di dalamnya. Tidak ada percakapan yang berlebihan, tidak ada tuntutan untuk terlihat lebih sukses atau lebih sibuk dari orang lain. 

Semua orang datang dengan tujuan yang sama sederhana: makan, mengisi energi, lalu kembali menjalani hari. Di situ saya merasa, untuk sesaat, semua orang setara tanpa perlu dijelaskan.

Penulis: Andry Setyawan
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Pengalaman Pertama Merantau Kerja di Jakarta: Empat Hari Bolak-balik Tangsel-Jaktim Sudah Trauma.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Juni 2026 oleh

Tags: GunungkidulJakartaJogjakabupatenmerantauperantau
Andry Setyawan

Andry Setyawan

Seorang profesional di bidang Quality Assurance dengan pengalaman di fintech, e-commerce, dan perbankan. Tertarik menulis tentang keresahan dunia kerja dan dinamika kehidupan sehari-hari.

ArtikelTerkait

ereveld makam korban perang belanda jogja sulitnya cari makam kuburan mojok

Sulitnya Mencari Makam di Jogja

6 Oktober 2020
Jogja dari Sudut Pandang Mahasiswa Baru sabda pandita ratu

Jogja dari Sudut Pandang Mahasiswa Baru

29 Maret 2020
5 Alasan Saya Kecewa terhadap Soto Ayam Lamongan yang Dijual di Jogja soto di jogja malang

5 Alasan Saya Kecewa terhadap Soto Ayam Lamongan yang Dijual di Jogja

24 Februari 2025
3 Hal yang Lumrah di Kudus, tapi Nggak Biasa bagi Orang Jogja

3 Hal yang Lumrah di Kudus, tapi Nggak Biasa bagi Orang Jogja. Salah Satunya Pakai Sarung ke Mall

18 September 2024
kenapa UMP Jogja rendah titik kemacetan di jogja lockdown rekomendasi cilok di Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR dawuh dalem sabda pandita ratu tugu jogja monarki mojok

Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR

10 April 2020
Nanggulan, Tempat Terbaik untuk Healing dan Nongkrong di Kulon Progo

Nanggulan, Tempat Terbaik untuk Healing dan Nongkrong di Kulon Progo

20 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cara Lulus Kuliah Cepat Nggak Sampai 4 Tahun untuk Mahasiswa Jogja, Dijamin Cum Laude!

Jogja Memang dan Akan Selalu Jadi Kota Tujuan Kuliah, Kota Pendidikan yang Sebenarnya

6 Juli 2026
Dear Pemerintah Bandar Lampung, Banyak Hal yang Lebih Urgent Dibanding Membangun Kereta Gantung Mojok.co

Mencoba Memahami Alasan Orang-orang Betah Tinggal di Kota Bandar Lampung

4 Juli 2026
6 Pantai Tulungagung yang Memukau, tetapi Menyimpan Bahaya bagi Wisatawan Mojok.co

6 Pantai Tulungagung yang Memukau, tapi Menyimpan Bahaya bagi Wisatawan

3 Juli 2026
Tips Plesir Kala Malam di Jogja Naik GoRide (Unsplash)

Tips Plesir Kala Malam di Jogja Naik GoRide Menikmati Kota Warisan Budaya Tanpa Menjadi Tua di Jalanan

6 Juli 2026
Penumpang yang Beli 2 Kursi Kereta Ekonomi PSO demi Bisa Selonjoran Adalah Orang yang Maruk dan Egois Mojok.co

Penumpang yang Beli 2 Kursi Kereta Ekonomi PSO demi Bisa Selonjoran Adalah Orang yang Maruk dan Egois

4 Juli 2026
Dapat Harta Warisan Itu Justru Menyebalkan, Lebih Banyak Dramanya!

Dapat Harta Warisan Itu Justru Menyebalkan, Lebih Banyak Dramanya!

2 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.