Mendapat tawaran kerja dengan gaji Jakarta adalah kesempatan yang tak boleh saya lewatkan dan abaikan. Sebab, di tengah sulitnya lapangan pekerjaan, kesempatan itu bagai sepercik cahaya di kegelapan.
Hampir satu tahun saya luntang-lantung bertahan hidup di kota Yogyakarta yang istimewa itu. Sudah berapa institusi saya sodorkan CV lengkap dengan fotokopi ijazah magister.
Entah berapa kali saya ikut interview ke beberapa lembaga dan tak ada satu pun yang lolos. Cerita lengkapnya bisa kalian baca di tulisan Terminal berjudul Lulusan S2 Nelangsa dan Ijazahnya Tak Lagi Jadi Harapan, Bikin Saya Juga Ingin Bilang kalau Kuliah Itu Scam.
Bagi sebagian orang, satu tahun mungkin waktu yang sebentar, tapi bagi saya itu cukup bikin mental gemetar. Ramadan kemarin saya putuskan untuk pulang dan mencari penghidupan di kampung halaman, sebelum akhirnya saya mendapat panggilan sebuah perusahaan. Saya pun mengiyakan dan berangkat ke Jakarta sehabis Lebaran.
Pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta
Tiga tahun hidup di Jogja, Jakarta bagi saya adalah dunia baru yang siap menyambut saya dengan mobilitas yang serba cepat dan tak kenal ampun. Bayangan kemacetan di jalan-jalan Ibu Kota ini selalu menghantui beberapa minggu sebelum berangkat.
Benar saja, saat pertama tiba di Jakarta, bayang-bayang ketakutan itu mulai tampak di mata. Apalagi, saat itu tepat jam lima pagi. Jalanan sudah ramai dengan lalu lalang kendaraan dan orang-orang mulai berebut masuk Transjakarta.
Suasana itu sangat berbeda dengan Jogja yang saya tahu. Di Jogja, pagi hari terasa begitu santai, orang-orang berkendara di jalan seakan waktu masih panjang, bahkan beberapa dari mereka masih asyik menyeruput teh hangat di angkringan.
Sedangkan di Jakarta, orang-orang saling mendahului. Berkejaran dengan jam masuk kantor dan menit lampu hijau yang singkat. Dalam benak saya, mungkin beberapa dari mereka mengutuk ide lampu lalu lintas.
Saya rasakan betul betapa tergesanya mereka, ketika supir taksi online yang saya pesan, marah-marah karena saya lelet masuk mobilnya sedang di belakang orang-orang sudah ribut dengan klakson masing-masing.
Berangkat subuh pulang Isya
Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya sampai juga di kontrakan teman. Teman kecil saya di kampung. Sudah lima tahun dia di Jakarta dan sudah bekerja. Pertanyaan pertamanya, “Bagaimana Jakarta?” Saya langsung menjawab, “Kerasss, Bos!” Kami pun tertawa bersama.
Teman saya ini ngontrak di daerah sekitar UIN, sedang tempat kerja saya di daerah Ciracas. Katanya jarak antara keduanya cukup jauh. Saya coba cek di map sekitar 1 jam. “Yâ, péndhanan. Enga’ dhâri roma ka kotta (Ya, lumayan. Seperti dari rumah ke kabupaten kota),” ujar saya dalam bahasa Madura.
Tiga hari setelahnya, saya pun mulai masuk kerja. Saya pun naik transum dari Ciputat ke Jakarta Timur dengan rute yang sudah diajari teman. Bodohnya saya, membandingkan jarak di Madura dengan Jakarta itu sangat tidak imbang. Satu jam di Madura, dengan jalan yang cenderung sepi, dan satu jam di Jakarta, dengan jalan yang cenderung ramai, nggak sama blas.
Satu jam di Jakarta itu ternyata bisa dua jam, bahkan lebih. Akhirnya, hari pertama kerja, saya terlambat satu jam. Sejak hari itu, saya mulai stres dan kena mental. Terbiasa dengan ritme santai dan jalan bebas macet, membuat saya lupa bahwa ini bukan Madura, apalagi Jogja.
Jiwa kemalasan dan keleletan saya harus dipaksa berpacu dengan waktu di hari kedua. Habis salat subuh saya harus mulai siap-siap. Sebelum jam enam harus sudah berangkat. Begitupun saat pulang, saya harus tabah sampai di kontrakan habis salat isya’, dan harus segera istirahat untuk berangkat lagi besok pagi.
Di hari ketiga, saya sudah merasa capek. Rasanya, mental saya tidak cukup kuat untuk bertahan dalam ritme begitu. Dan, di hari keempat, saya harus memaksa teman saya untuk mencarikan kost dekat tempat kerja.
Konten-konten Jakarta keras itu nyata
Pengalaman bolak-balik Ciputat-Jaktim itu membuat saya sadar dan merasakan sendiri bagaimana kerasnya hidup di Jakarta. Ya, meskipun saya harus menyerah lebih awal. Tapi, setidaknya, rasa empati ke orang-orang yang sudah bertahun-tahun pergi pulang dari tempat kerjanya yang jauh semakin meresap ke ulu hati.
Dulu saya cuma bisa melihat kerasnya Jakarta dari konten-konten di medsos. Melihat orang-orang yang berebut saling sikut naik transum atau orang-orang pencari kerja yang antre berdesakan, sedih rasanya. Ya, cuma sedih dan haru.
Akan tetapi, setelah merasakan dan mengalaminya sendiri, bukan cuma sedih dan haru, air mata saya ikut jatuh. Betapa capeknya jadi mereka, atau kita. Apalagi ditambah dengan kerja-kerja pemerintah yang tak becus. Sakit rasanya.
Penulis: Abd. Muhaimin
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













