Berangkat subuh pulang Isya
Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya sampai juga di kontrakan teman. Teman kecil saya di kampung. Sudah lima tahun dia di Jakarta dan sudah bekerja. Pertanyaan pertamanya, “Bagaimana Jakarta?” Saya langsung menjawab, “Kerasss, Bos!” Kami pun tertawa bersama.
Teman saya ini ngontrak di daerah sekitar UIN, sedang tempat kerja saya di daerah Ciracas. Katanya jarak antara keduanya cukup jauh. Saya coba cek di map sekitar 1 jam. “Yâ, péndhanan. Enga’ dhâri roma ka kotta (Ya, lumayan. Seperti dari rumah ke kabupaten kota),” ujar saya dalam bahasa Madura.
Tiga hari setelahnya, saya pun mulai masuk kerja. Saya pun naik transum dari Ciputat ke Jakarta Timur dengan rute yang sudah diajari teman. Bodohnya saya, membandingkan jarak di Madura dengan Jakarta itu sangat tidak imbang. Satu jam di Madura, dengan jalan yang cenderung sepi, dan satu jam di Jakarta, dengan jalan yang cenderung ramai, nggak sama blas.
Satu jam di Jakarta itu ternyata bisa dua jam, bahkan lebih. Akhirnya, hari pertama kerja, saya terlambat satu jam. Sejak hari itu, saya mulai stres dan kena mental. Terbiasa dengan ritme santai dan jalan bebas macet, membuat saya lupa bahwa ini bukan Madura, apalagi Jogja.
Jiwa kemalasan dan keleletan saya harus dipaksa berpacu dengan waktu di hari kedua. Habis salat subuh saya harus mulai siap-siap. Sebelum jam enam harus sudah berangkat. Begitupun saat pulang, saya harus tabah sampai di kontrakan habis salat isya’, dan harus segera istirahat untuk berangkat lagi besok pagi.
Di hari ketiga, saya sudah merasa capek. Rasanya, mental saya tidak cukup kuat untuk bertahan dalam ritme begitu. Dan, di hari keempat, saya harus memaksa teman saya untuk mencarikan kost dekat tempat kerja.
Baca juga Anak Muda Muak Hidup di Wonogiri, Cari Kerja Susah apalagi yang Memberi Upah Layak.
Konten-konten Jakarta keras itu nyata
Pengalaman bolak-balik Ciputat-Jaktim itu membuat saya sadar dan merasakan sendiri bagaimana kerasnya hidup di Jakarta. Ya, meskipun saya harus menyerah lebih awal. Tapi, setidaknya, rasa empati ke orang-orang yang sudah bertahun-tahun pergi pulang dari tempat kerjanya yang jauh semakin meresap ke ulu hati.
Dulu saya cuma bisa melihat kerasnya Jakarta dari konten-konten di medsos. Melihat orang-orang yang berebut saling sikut naik transum atau orang-orang pencari kerja yang antre berdesakan, sedih rasanya. Ya, cuma sedih dan haru.
Akan tetapi, setelah merasakan dan mengalaminya sendiri, bukan cuma sedih dan haru, air mata saya ikut jatuh. Betapa capeknya jadi mereka, atau kita. Apalagi ditambah dengan kerja-kerja pemerintah yang tak becus. Sakit rasanya.
Penulis: Abd. Muhaimin
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













