Konten soal hidup di Wonogiri kerap berseliweran di timeline media sosial saya. Dengan visual dan lagu estetik, konten tersebut berhasil meyakinkan beberapa orang untuk mengunjungi atau bahkan menetap di Wonogiri. Alasannya beragam, mulai dari biaya hidup yang lebih rendah, ritme hidup yang pelan, tenang, kedekatan sosial dan keindahan alam.
Sebagai warga lokal yang lahir dan tumbuh di Wonogiri, saya muak dengan konten semacam itu. Wonogiri terlalu diromantisasi. Asal tahu saja, apa yang tersebar di medsos tidak seindah yang pengalaman warlok. Terlebih warga lokal yang masih muda dan butuh pekerjaan layak seperti saya.
Baca juga Alasan Wonogiri Masih dan Akan Selalu Jadi Ibu Kota Bakso Indonesia, Malang Minggir Dulu!
Banyak warlok Wonogiri yang dilema
Saya lahir dan besar di Wonogiri. Terkadang saya berpikir apakah tepat memutuskan tinggal di daerah ini untuk selama-lamanya. Sebab, peluang untuk berkembang begitu sempit. Asal tahu saja, peluang kerja di Wonogiri masih terbatas, UMK tergolong rendah, dan pembangunan belum merata.
Sebagai orang yang berasal dari Wonogiri bagian selatan, tepatnya Baturetno, saya betul kesenjangan pembangunan di Wonogiri wilayah utara dan selatan. Dan, kesenjangan ini begitu memengaruhi kualitas hidup warganya.
Sebagai anak muda, saya tentu ingin hidup tenang. Di sisi lain, saya juga pengin punya penghasilan yang cukup. Bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga mempersiapkan diri menghadapi keadaan ekonomi yang tak menentu.
Saya tahu tidak semua hal bisa saya kendalikan. Harga kebutuhan pokok bisa naik, lapangan kerja bisa semakin sempit, dan kondisi ekonomi bisa berubah sewaktu-waktu. Namun, setidaknya saya ingin berada di posisi di mana saya mampu menolong diri saya sendiri.
Akan tetapi, keinginan tak sejalan dengan apa yang saya alami. Hal tersebut terbukti lewat pengalaman selama mencari kerja di Wonogiri. Harapan saya simpel, punya penghasilan sendiri, bisa meringankan beban orangtua dan mengisi waktu luang sebelum mendaftar kuliah di tahun berikutnya.
Pengalaman cari kerja pertama kali di Wonogiri
Pengalaman pertama mencari kerja di Wonogiri tidak akan terlupa. Pada saat itu saya coba melamar di sebuah percetakan dekat tempat tinggal saya sebagai operator desain. Saya mengetahui lowongan itu dari informasi yang beredar tanpa mencantumkan nominal gaji.
Saya datang dengan harapan bisa berdiskusi secara profesional mengenai pekerjaan dan upah. Namun, suasana wawancara yang saya bayangkan ternyata jauh berbeda dari kenyataan.
Ketika pemilik usaha bertanya berapa gaji yang saya inginkan, saya meresponsnya dengan nominal setara UMK Wonogiri 2023, sekitar Rp1,9 juta. Pemilik percetakan menertawakan jawaban tersebut.
Pemilik percetakan kemudian mengatakan, jika ingin mendapat upah sebesar itu, saya harus menjalani masa training selama tiga bulan tanpa dibayar. Setelah menjadi karyawan tetap pun, saya diwajibkan bekerja dari pukul 7 pagi hingga 9 malam dengan target lebih dari 20 desain per hari.
Parahnya, selama tes desain saya malah mendapat candaan misoginis dari pelanggan yang punya kedekatan dengan owner percetakan. Saya jadi kurang fokus. Hasil tes tidak maksimal, dan akhirnya saya ditolak.
Sepulang dari tempat percetakan tersebut, perasaan saya campur aduk. Sedih, marah, kecewa, hingga malu bercampur menjadi satu. Saya menceritakan semuanya kepada ibu sambil menangis sesenggukan.
Pengalaman kedua cari kerja yang tak kalah menyedihkan
Pengalaman kedua cari kerja, saya mencoba melamar di salah satu toko kosmetik di Baturetno. Karena pengalaman buruk sebelumnya, saya mencoba menurunkan ekspektasi soal gaji. Saya berekspektasi bisa dapat gaji sekitar Rp1,5 juta.
Akan tetapi, pemilik toko hanya menawarkan gaji Rp1,1 juta. Padahal, tanggung jawab pekerjaannya nggak main-main. Jam kerjanya sekitar 10 jam lebih. Namun, saya tetap coba terima tawaran itu karena sedang tak punya pilihan lain.
Lagi-lagi apes. Owner tidak memberi tahu saya harus masuk shift apa. Saya malah datang di shift pagi dalam kondisi kurang fit dan wajah pucat. Pegawai shift pagi kemudian memberi tahu bahwa seharusnya saya masuk siang, tetapi saya bilang kalau owner tidak pernah memberi tahu jadwalnya. Anehnya, pegawai tersebut malah membela owner dengan alasan beliau lupa.
Saya mulai merasa dipermainkan. Saat giliran shift siang tiba dan saya mulai bekerja di toko itu, owner datang untuk visit. Menjelang toko tutup di waktu malam, saya diberitahu owner bahwa saya dipecat.
Alasan pemecatannya pun tak masuk akal. Saya dianggap kurang menarik dan wajah saya pucat, padahal tidak ada insentif untuk pegawai membeli makeup. Rasanya, cobaan saat mencari kerja selalu datang silih berganti.
Pengalaman ketiga cari kerja tidak lebih baik dari sebelumnya
Cobaan berikutnya datang ketika saya melamar sebagai buruh jahit di sebuah pabrik garmen di Wonogiri Kota. Saya sempat yakin karena perusahaan itu besar, terdaftar, ada BPJS, status karyawan tetap, dan gaji UMK Wonogiri.
Akan tetapi, saat hari pertama pengenalan perusahaan, ternyata karyawan baru harus training selama tiga bulan. Anehnya, di bulan pertama kami tidak menerima gaji. Kami hanya mendapat uang makan Rp105.000 untuk sebulan. Saat itu kondisi keuangan saya sedang menipis, sementara saya sudah terlanjur deal kos.
Saya pun berpikir, bagaimana membayar kebutuhan lain kalau sebulan tidak menerima gaji? Akhirnya saya memilih pergi daripada perusahaan memeras tenaga dan keringat saya hingga kering.
Hidup di Wonogiri cuma dapat hikmahnya
Apa yang didapat dari berkali-kali melamar kerja di Wonogiri? Betul, hikmahnya saja. Hikmah bahwa mendapat upah layak dengan bekerja di Wonogiri adalah kemustahilan. Hikmah untuk tidak langsung percaya apa yang tersebar di media sosial.
Lebih dari itu, pengalaman berkali-kali cari kerja di Kota Gaplek menyadarkan saya untuk merantau. Itu lebih baik daripada terjebak di daerah dengan kesempatan yang sempit dan upah tak seberapa ini.
Penulis: Sonya Mawardani
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Sentolo Kulon Progo Banyak Berubah dan Warlok Kebagian Jadi Penonton Aja.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.












