Pengalaman cari kerja pertama kali di Wonogiri
Pengalaman pertama mencari kerja di Wonogiri tidak akan terlupa. Pada saat itu saya coba melamar di sebuah percetakan dekat tempat tinggal saya sebagai operator desain. Saya mengetahui lowongan itu dari informasi yang beredar tanpa mencantumkan nominal gaji.
Saya datang dengan harapan bisa berdiskusi secara profesional mengenai pekerjaan dan upah. Namun, suasana wawancara yang saya bayangkan ternyata jauh berbeda dari kenyataan.
Ketika pemilik usaha bertanya berapa gaji yang saya inginkan, saya meresponsnya dengan nominal setara UMK Wonogiri 2023, sekitar Rp1,9 juta. Pemilik percetakan menertawakan jawaban tersebut.
Pemilik percetakan kemudian mengatakan, jika ingin mendapat upah sebesar itu, saya harus menjalani masa training selama tiga bulan tanpa dibayar. Setelah menjadi karyawan tetap pun, saya diwajibkan bekerja dari pukul 7 pagi hingga 9 malam dengan target lebih dari 20 desain per hari.
Parahnya, selama tes desain saya malah mendapat candaan misoginis dari pelanggan yang punya kedekatan dengan owner percetakan. Saya jadi kurang fokus. Hasil tes tidak maksimal, dan akhirnya saya ditolak.
Sepulang dari tempat percetakan tersebut, perasaan saya campur aduk. Sedih, marah, kecewa, hingga malu bercampur menjadi satu. Saya menceritakan semuanya kepada ibu sambil menangis sesenggukan.
Pengalaman kedua cari kerja yang tak kalah menyedihkan
Pengalaman kedua cari kerja, saya mencoba melamar di salah satu toko kosmetik di Baturetno. Karena pengalaman buruk sebelumnya, saya mencoba menurunkan ekspektasi soal gaji. Saya berekspektasi bisa dapat gaji sekitar Rp1,5 juta.
Akan tetapi, pemilik toko hanya menawarkan gaji Rp1,1 juta. Padahal, tanggung jawab pekerjaannya nggak main-main. Jam kerjanya sekitar 10 jam lebih. Namun, saya tetap coba terima tawaran itu karena sedang tak punya pilihan lain.
Lagi-lagi apes. Owner tidak memberi tahu saya harus masuk shift apa. Saya malah datang di shift pagi dalam kondisi kurang fit dan wajah pucat. Pegawai shift pagi kemudian memberi tahu bahwa seharusnya saya masuk siang, tetapi saya bilang kalau owner tidak pernah memberi tahu jadwalnya. Anehnya, pegawai tersebut malah membela owner dengan alasan beliau lupa.
Saya mulai merasa dipermainkan. Saat giliran shift siang tiba dan saya mulai bekerja di toko itu, owner datang untuk visit. Menjelang toko tutup di waktu malam, saya diberitahu owner bahwa saya dipecat.
Alasan pemecatannya pun tak masuk akal. Saya dianggap kurang menarik dan wajah saya pucat, padahal tidak ada insentif untuk pegawai membeli makeup. Rasanya, cobaan saat mencari kerja selalu datang silih berganti.
Pengalaman ketiga cari kerja tidak lebih baik dari sebelumnya
Cobaan berikutnya datang ketika saya melamar sebagai buruh jahit di sebuah pabrik garmen di Wonogiri Kota. Saya sempat yakin karena perusahaan itu besar, terdaftar, ada BPJS, status karyawan tetap, dan gaji UMK Wonogiri.
Akan tetapi, saat hari pertama pengenalan perusahaan, ternyata karyawan baru harus training selama tiga bulan. Anehnya, di bulan pertama kami tidak menerima gaji. Kami hanya mendapat uang makan Rp105.000 untuk sebulan. Saat itu kondisi keuangan saya sedang menipis, sementara saya sudah terlanjur deal kos.
Saya pun berpikir, bagaimana membayar kebutuhan lain kalau sebulan tidak menerima gaji? Akhirnya saya memilih pergi daripada perusahaan memeras tenaga dan keringat saya hingga kering.
Hidup di Wonogiri cuma dapat hikmahnya
Apa yang didapat dari berkali-kali melamar kerja di Wonogiri? Betul, hikmahnya saja. Hikmah bahwa mendapat upah layak dengan bekerja di Wonogiri adalah kemustahilan. Hikmah untuk tidak langsung percaya apa yang tersebar di media sosial.
Lebih dari itu, pengalaman berkali-kali cari kerja di Kota Gaplek menyadarkan saya untuk merantau. Itu lebih baik daripada terjebak di daerah dengan kesempatan yang sempit dan upah tak seberapa ini.
Penulis: Sonya Mawardani
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Sentolo Kulon Progo Banyak Berubah dan Warlok Kebagian Jadi Penonton Aja.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













