Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Saya masuk desil 10, saya dianggap elite oleh negara, padahal hidup saya benar-benar mengenaskan

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
13 Agustus 2026
A A
Saya masuk desil 10, saya dianggap elite oleh negara, padahal hidup saya benar-benar mengenaskan

Saya masuk desil 10, saya dianggap elite oleh negara, padahal hidup saya benar-benar mengenaskan (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya akan buka tulisan ini dengan amat sederhana: penghasilan saya masuk desil 10.

Tidak, saya jelas tidak pamer. Saya tidak sedang memamerkan penghasilan, kekayaan, atau semacamnya. Justru saya sedang kaget, manusia tanpa kekayaan kok bisa-bisanya masuk ke penghasilan tertinggi, berbagi tempat dengan orang-orang sugih mblegedhu di Indonesia, kan MASUK AKAL.

ADVERTISEMENT

Bagi kalian yang nggak tahu maksud dari desil 10, sederhananya gini: orang yang masuk desil 10, masuk 10 persen kelompok penduduk teratas yang sangat kaya. Singkatnya lagi: elite. Sangar ora kui? Suangaaaar.

Saya, basically, sudah masuk kelompok elite of the elite orang Indonesia. Sudah lumayan pantas mendaku Kaum Naga Langit. Sudah lumayan pantas untuk menepuk dada. Saya elite menurut negara, po ra sangar kui.

Masalahnya adalah, realitas sebenarnya jauh dari kata masuk akal. Jauh. Banget.

Betul saya punya rumah (yang harus dicicil 10 tahun ke depan), kendaraan, dan pemasukan yang oke. Setidaknya nek adu penghasilan sama PNS, ya jelas saya bisa berdiri tegak menantang lah. Tapi kalau masuk elite, top 10 persen penduduk Indonesia, ra mashok blas.

Sebab, mana ada elite yang ndase mumet tiap bulan untuk berusaha hidup? Cara pengambilan datanya gimana sih?

Desil 10 dan masalah-masalah yang ada

Saya bukan pakar ekonomi, jelas. Tapi saya menggugat betul pengelompokan saya dan label penghasilan super kaya dari negara.

Baca Juga:

Sensus Ekonomi 2026 Cuma Hasilkan Sampah, Petugas BPS Dianggap “Intel Pajak” oleh Warga

6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang

Pertama, desil 10 adalah tier tertinggi, yang memang harusnya diisi oleh orang-orang dengan penghasilan tertinggi. Sedangkan saya saja tak sebesar itu. Saya bisa menyebut 20 orang kenalan saya dengan penghasilan yang lebih tinggi ketimbang saya. Dan saya yakin, ada jutaan orang dengan penghasilan yang jauh lebih tinggi ketimbang saya di Jawa saja.

Kedua, memasukkan saya ke kategori tertinggi jelas ada masalah. Saya tak tahu implikasi real life-nya apa, tapi bisa jadi saya akan dikira bisa afford segala-galanya, padahal realitas jauh dari itu.

Misalnya gini wis. Kalau tiba-tiba ada kebijakan, orang dengan desil 10 nggak boleh beli pertalite, itu pasti merugikan saya. Selama ini, saya hanya butuh 70 ribu per minggu untuk kebutuhan bahan bakar, alias 7 liter pertalite, karena saya lumayan mobile, plus rumah dan tempat kerja saya beda kota.

Nah, kalau saya nggak boleh beli pertalite, dan wajib beli pertamax, dari yang awalnya saya hanya habis 70 ribu, jadi 111 ribuan. Itu bedanya lebih dari 50 persen. Sebulan hampir 500 ribu saya habiskan buat bensin, kan goblok. Saya naik motor lho, bukan Innova. Kan anjeng.

Ketiga, jelas, desil 10 ini variabelnya nggak cuma penghasilan. Ada kepemilikan aset, pendidikan, demografi, ketenagakerjaan, dan sebagainya. Tapi, katakanlah tentang kepemilikan aset dan pendidikan yang bikin saya masuk desil 10, tetep nggak masuk akal. Masak saya yang punya rumah harga di bawah 200 juta, itu pun saya cicil 15 tahun, jadi satu kategori dengan Raffi Ahmad yang beli rumah kayak beli Point Coffee?

Bayangkan pengkategorian ini bikin saya harus bayar segalanya lebih mahal. Lha yo mung remuk bakule slondok, riiii.

Ketimpangan yang nyata

Di saat yang sama, saya justru melihat satu hal: ketimpangan yang ada di Indonesia ini beneran mengerikan. Maksudnya, jika kelas menengah macam saya, yang lebih sering ngirit ketimbang spending ini masuk elite, lha yang beneran miskin kayak apa?

Masak orang dengan pemasukan imut ini masuk desil 10. Saya malah jadi takut membayangkan orang-orang yang masuk desil di bawah saya. Hidup mereka pasti mengerikan. Jika saya yang dianggap elite ini hidup saja masih penuh tanda tanya, bagaimana mereka yang divonis miskin oleh negara?

Entah tabel desil itu hoax atau tidak (saya harap sih, iya), ada masalah besar yang akhirnya tampak. Kesenjangan serta kesulitan ekonomi di negara kita amat nyata. Kelas menengah makin pesimis dan menipis, kaum miskinnya ternyata banyak banget, sedangkan hari-hari ke depan, sama sekali tidak punya pegangan untuk optimis.

Menurut saya, sudah saatnya negara mengambil langkah drastis untuk menaikkan ekonomi, entah lewat perputaran uang yang masif atau peningkatan upah. Program-program yang ada sudah terbukti tak ada efeknya, justru bikin kondisi makin runyam. Tapi ya, ini langkah yang masuk akal. Sedangkan kita tahu sendiri, langkah yang diambil kerap sebaliknya.

Sebagai penutup, saya memaki status saya sebagai anggota desil 10, tapi di saat yang sama, mencoba mengaminkan hal tersebut. Semoga saya beneran punya penghasilan yang bener-bener elite. Sebab hidup di negara ini, kalau tak punya pemasukan yang besar, tak ada bedanya dengan mati berdiri.

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Saya Kelas Menengah, dan Saya Beneran Pengin Kaya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Agustus 2026 oleh

Tags: BPSdata bpsdesil 10desil 10 penghasilan berapakelas menengah
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.

ArtikelTerkait

Hidup dengan Gaji UMR Itu Indah, tapi Bo’ong (Pixabay)

Hidup dengan Gaji UMR Itu Indah, tapi Bo’ong

24 September 2025
3 Hal yang Jarang Orang Ketahui tentang Badan Pusat Statistik terminal mojok

3 Hal yang Jarang Orang Ketahui tentang Badan Pusat Statistik

16 Agustus 2021
statistik indonesia

Statistik Indonesia, Buku Terbitan Pemerintah yang Wajib Dimiliki Peneliti dan Penulis

22 Desember 2021
Urug-Urug Udan Gedhe, Sinyal Hujan Datang Orang Pantura curah hujan

5 Provinsi dengan Curah Hujan Tertinggi di Indonesia

29 Desember 2022
PPN Tetap Naik, Kelas Menengah Harus Siap Jadi Sapi Perah (Lagi) Mojok.co

PPN Tetap Naik, Kelas Menengah Harus Siap Jadi Sapi Perah (Lagi)

16 November 2024

Indonesia Lepas dari Resesi, Emang Bener Gitu, ya?

7 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

7 Agustus 2026
Sebagai orang Sunda, jujur saya iri banget sama orang Jawa (Unsplash)

Sebagai orang Sunda, jujur saya iri banget sama orang Jawa

10 Agustus 2026
Pekerja tambang bergaji besar, tetapi tidak sepenuhnya memiliki hidupnya

Pekerja tambang bergaji besar, tetapi tidak sepenuhnya memiliki hidupnya

11 Agustus 2026
3 kebiasan warga Tegal yang dahulu saya anggap aneh, tapi kini malah saya tiru Mojok.co

3 kebiasan warga Tegal yang dahulu saya anggap aneh, tapi kini malah saya tiru

11 Agustus 2026
Sisi gelap tren gaya hidup minimalis: kami nggak belanja bukan karena aesthetic, tapi memang nggak ada duit

Sisi gelap tren gaya hidup minimalis: kami nggak belanja bukan karena aesthetic, tapi memang nggak ada duit

11 Agustus 2026
Alasan saya suka curhat ke AI, nyaman karena tidak dihakimi dan tidak menambah beban hidup orang lain Mojok.co

Alasan saya suka curhat ke AI, nyaman karena tidak dihakimi dan tidak menambah beban hidup orang lain

11 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.