Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kampung PNS dan Pudarnya Pesona Merantau

Jemmy Hendiko oleh Jemmy Hendiko
21 Agustus 2019
A A
merantau

merantau

Share on FacebookShare on Twitter

Dalam pengamatanku dari waktu ke waktu, kampungku kini perlahan-lahan bermetamorfosis menjadi ‘kampung PNS’. Seiring bergulirnya roda zaman, semakin banyak penduduk kampung ini yang kulihat berhasil menjadi pegawai negeri, entah itu bekerja sebagai karyawan kantor pemerintahan, guru, atau tenaga kesehatan.

Dahulu, saat aku masih ingusan, pegawai pemerintah di kampung ini hanya bisa dihitung jari, itu pun rata-rata bekerja sebagai guru. Kala aku kecil, masyarakat kampungku rata-rata hidup miskin dan apa adanya. Sekarang pun sebenarnya tak sedikit yang masih hidup susah, namun secara umum kini jauh lebih baik.

Betapa tidak, sebagian besar penduduk kampung hidup dari bekerja sebagai petani, dan rata-rata mereka hanya berpendidikan rendah. Yang namanya bertani padi, hasilnya tak selalu seperti yang diharapkan. Adakalanya petani bisa memperoleh hasil padi yang melimpah, yang kemudian sebagian besar bahkan keseluruhannya diserahkan kepada tauke padi langganan.

Saat musim panen, tauke padi ini akan tampak sibuk hilir-mudik mengangkut gabah para petani dari sawah-sawah dengan mobil bak terbuka. Kenapa kusebut tauke langganan? Ya, karena kepada para juragan kilang padi itulah para petani di kampung ini berutang beras dan uang untuk kebutuhan hidup sehari-hari jelang musim panen tiba, lalu dibayar dengan gabah saat musim panen. Bila berlebih, mereka akan menerima uang dari tauke tersebut.

Namun, tak jarang hasil panen hanya cukup untuk menutupi lubang hutang yang menganga lebar, bahkan terkadang hutang itu pun tak lunas. Begitu seterusnya dari tahun ke tahun. Singkatnya, mereka berputar-putar dari musim panen ke musim panen berikutnya dalam lingkaran gali lubang tutup lubang.

Lain lagi ketika sedang tidak beruntung, maka tanaman padi sudah lebih dahulu tandas oleh hama tikus sebelum dipanen, sehingga bulir-bulir padi menjadi hampa dan hanya berlebih beberapa sukat saja, bahkan habis tak bersisa. Bila sudah begini, maka di mana-mana hanya keluhan para petani yang terdengar. Di jalan atau di kedai kopi orang-orang akan menceritakan kisah sawahnya masing-masing.

Tak pelak, ketika hasil sawah tak didapat, maka alamat utang yang akan terus bertambah. Siapa pun tentu sedih dan iba melihat hal ini, karena kerja keras mereka mengolah sawah selama berbulan-bulan hanya menyisakan kecewa dan duka lara.

Maka, lantaran sebagian besar penduduk hidup dari bertani dan banyak yang hidup susah, maka dulu anak-anak mereka hanya bersekolah hingga jenjang SMA saja. Jarang yang bisa melanjutkan kuliah, kendati mereka mampu secara intelektual. Tak sedikit di antara anak-anak kampung ini yang berprestasi cemerlang di bangku sekolahnya.

Baca Juga:

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

Namun, karena orangtua mereka tidak mampu, mereka harus mengubur dalam-dalam impian untuk bisa melanjutkan pendidikan. Alhasil, selepas SMA, banyak yang memilih pergi merantau, entah itu ke Batam, Pekanbaru, Jakarta, dan wilayah-wilayah lain di Pulau Jawa. Sehingga, kala akhir tahun ajaran tiba, di saat yang sama terminal bus besar di kotaku biasanya ramai oleh keluarga yang akan melepas anak-anak mereka yang baru tamat sekolah untuk pergi mengadu nasib.

Bermodal ijazah SMA, mereka kemudian bekerja sebagai buruh pabrik, sedang sebagian lainnya memilih berniaga, seperti lazimnya yang dilakukan oleh orang Minang di perantauan. Dari hasil bekerja di perantauan itulah, mereka bisa mengirim uang untuk orangtua di kampung halaman.

Dulu, aku menjadi saksi hidup dan merasakan sendiri kepedihan hidup di kampung ini. Orangtuaku, seperti halnya penduduk lainnya, adalah petani. Sejak kecil kami sudah terbiasa hidup dalam segala keterbatasan, namun aku berusaha untuk tidak mengeluh dan meratapi nasib. Lebih tepatnya, memilih untuk menahan diri dari menginginkan sesuatu yang tak mampu dimiliki.

Sebaliknya, sejak kecil aku sudah terbiasa berpikir keras bagaimana agar bisa terlepas dari belenggu kemiskinan ini. Aku ingin kuliah setinggi mungkin. Walau sebenarnya aku tak ingin mengadu nasib dengan merantau seperti yang dilakukan oleh orang-orang. Akan tetapi, bukan hidup namanya bila ia tak berputar. Roda hidup akan terus bergulir, akan selalu ada perubahan dan keajaiban yang terjadi. Apa yang kututurkan di atas adalah potret kampungku sekira dua puluh tahun yang lalu.

Kini, visi dan orientasi hidup orang-orang sudah jauh berubah ke arah yang lebih baik. Entah bagaimana jalan ceritanya, mungkin juga karena kemajuan zaman, sekarang semakin jarang terdengar anak-anak kampung yang pergi merantau dan mengadu nasib ke kota besar. Mereka kini lebih banyak yang melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Pesona merantau sepertinya sudah memudar di mata mereka. Kemajuan teknologi, membaiknya kondisi ekonomi, dan semakin mudahnya akses informasi agaknya turut berperan mempengaruhi dan mengubah pola pikir penduduk kampungku. Selain itu, mereka yang berhasil menjadi PNS terlihat semakin bertambah dari tahun ke tahun, seiring dengan semakin banyaknya lulusan perguruan tinggi, sehingga dengan alasan itulah aku menjuluki kampungku itu dengan sebutan ‘kampung PNS’.

Menjadi PNS kini sudah menjadi tolok ukur keberhasilan orang-orang. Bila di sebuah keluarga ada yang menjadi PNS, maka keluarga itu dipandang sukses dan terhormat. Oleh karena itu, hampir di setiap rumah kini ada sarjana atau setidaknya yang tengah menimba ilmu di bangku universitas, dengan harapan suatu hari nanti bisa mengikuti jejak orang-orang menjadi pegawai negeri.

Begitu juga denganku, apa yang aku khawatirkan tentang diriku dulu alhamdulillah tidak terbukti. Berkat segenap usaha dan doa, aku berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan S1 dan S2 di luar negeri. Pada musim penerimaan CPNS tahun lalu, aku pun ikut berkompetisi untuk menjadi bagian dari abdi negara. Bila ada yang bertanya, mengapa (masih) tertarik menjadi pegawai negeri? Jawabnya adalah karena merantau dan mengadu nasib di negeri orang bagi kami juga tidak lagi menarik. (*)

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

Terakhir diperbarui pada 21 Agustus 2019 oleh

Tags: anak mudakampung pnsKritik SosialmerantauPendidikan
Jemmy Hendiko

Jemmy Hendiko

ArtikelTerkait

toleransi kebahagiaan

Toleransi Terhadap Perbedaan Kadar Kebahagiaan

5 Juni 2019
4 Alasan Orang Cimahi Terpaksa Ngaku Asli Bandung di Perantauan terminal mojok.co

4 Alasan Orang Cimahi Terpaksa Ngaku Asli Bandung di Perantauan

27 Januari 2022
uang

Uang Tidak Bisa Membeli Segalanya, Ini Buktinya!

8 Juni 2019
peternak ikan

Apa Salahnya Punya Cita-Cita Sebagai Peternak Ikan?

11 Oktober 2019
Sohibul Tethering

Tips dan Trik Menyikapi Para Sohibul Tethering yang Ngakunya Cuma WhatsApp-an Ternyata YouTube-an

10 Juli 2019
Menebak Kepribadian Seseorang Berdasarkan Pilihan Obat Nyamuk terminal mojok.co

Jangan Hidup Seperti Nyamuk!

6 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

25 April 2026
3 Kebiasaan yang Harus Kamu Lakukan kalau Mau Selamat Kuliah di Jurusan Ilmu Politik

Penghapusan Jurusan Kuliah yang Tak Relevan dengan Industri Itu Konyol, kayak Nggak Ada Solusi Lain Aja

26 April 2026
3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung, Iri kepada Kota Bandung Mojok.co

3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung Iri pada Kota Bandung

27 April 2026
LCGC Bukan Lagi Mobil Murah, Mending Beli Motor Baru (Unsplash)

Tidak Bisa Lagi Disebut Mobil Murah, Nggak Heran Jika Pasar LCGC Semakin Kecil dan Calon Pembeli Jadi Takut untuk Membeli

25 April 2026
Kotabaru Jogja, Kawasan Pemukiman Belanda yang Punya Fasilitas Lengkap, yang Sekarang Bersolek Jadi Tempat Wisata

Hidup di Kotabaru Jogja Itu Enak, Sampai Kamu Coba Menyeberang Jalan, Ruwet!

28 April 2026
4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak (Wikimedia Commons)

4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak, Daya Tarik Penjual juga Nggak Kalah Penting

28 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya
  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.