Bumijawa merupakan salah satu dari 18 kecamatan yang ada di Kabupaten Tegal. Kecamatan yang berdekatan dengan Gunung Slamet ini memiliki 18 desa.
Saya lahir dan tumbuh di salah satu desa di Kecamatan Bumijawa Tegal. Barulah, selepas SMP turun gunung, maksudnya melanjutkan sekolah ke dataran rendah, tepatnya di Kecamatan Lebaksiu. Siswa di sekolah SMA saya ini multi kecamatan. Bahkan, ada yang berasal dari kabupaten sebelah, Brebes dan Cirebon.
Di masa putih abu-abu inilah saya mulai mengetahui stereotip yang berkembang di tengah masyarakat mengenai orang Bumijawa.
Beberapa stereotip mungkin terdengar sebagai candaan biasa, tetapi jika terus diulang, stereotip ini dapat membentuk pandangan yang seolah-olah menggeneralisasi semua orang Bumijawa.
Berikut empat stereotip yang cukup sering saya dengar dari orang-orang di luar Bumijawa Tegal.
#1 Orang Bumijawa Tegal itu pintar
Seperti kebanyakan daerah lain, sekolah favorit di Tegal juga terletak di pusat kota. Sebelum diterapkannya sistem zonasi, banyak pelajar Bumijawa yang melanjutkan ke SMA/SMK favorit di Kabupaten Tegal maupun Kota Tegal.
Saya masih ingat dulu ketika pengumuman kelulusan UN SMP, pihak SMA favorit nomor satu di Kabupaten Tegal sampai datang ke sekolah, memberikan semacam sosialisasi.
Dan, pelajar Bumijawa di sekolah-sekolah tersebut mewarnai khazanah akademik, entah itu ranking kelas maupun lomba. Di hari pertama masuk kelas, mengetahui saya orang Bumijawa, teman sebangku saya nyeletuk, mengatakan bahwa orang Bumijawa pintar-pintar.
Nah, ranking paralel 2 dan 3 di angkatan saya waktu itu adalah orang Bumijawa. Kemudian kakak kelas saya yang mendapatkan medali emas tingkat nasional bidang ekonomi juga orang Bumijawa.
Kemudian di Jakarta, saya bertetangga dengan guru. Ia masih satu kabupaten dengan saya. Tetangga kosan saya ini alumni SMA favorit nomor satu di Kabupaten Tegal tahun 2006. Dalam suatu obrolan tentang masa SMA, ia mengatakan bahwa teman-temannya yang dari Bumijawa itu pintar-pintar.
Bagi sebagian orang Bumijawa, label ini merupakan kebanggan. Namun, di sisi lain bisa menjadi beban ketika seseorang merasa harus selalu memenuhi ekspektasi banyak orang yang telanjur terbentuk.
Pada akhirnya, tentu tidak adil menilai kemampuan seseorang hanya berdasarkan daerah asalnya. Pintar atau tidaknya seseorang lebih banyak ditentukan oleh pribadi, kesempatan, pendidikan, pengalaman, dan kerja kerasnya.
#2 Perihal kulit
Teman sebangku saya dari kelas satu sampai kelas tiga di SMA suka sekali bercanda. Dia seringkali menanyakan apa sih yang menyebabkan terjadinya perbedaan kontras warna kulit antara perempuan dan pria Bumijawa.
Kalimatnya sering disampaikan sebagai candaan, seolah-olah ada perbedaan yang cukup mencolok antara penampilan perempuan dan laki-laki dari daerah ini. Dia mengatakan perempuan di Bumijawa berkulit putih, sementara pria berkulit sawo matang.
“Perbedaannya kontras sekali,” katanya. Lantas saya menjawab sekenanya, “Barangkali berkaitan dengan cerita masa lalu.”
Pertanyaan tersebut ternyata bukan hanya datang dari teman sebangku saya saja, tetapi juga dari teman-teman lain. Teman saya semasa di Jakarta yang ternyata pernah sekolah di Tegal, menanyakan hal serupa. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Sampai sekarang saya belum menemukan jawaban apa penyebabnya.
Tentu saja, anggapan tersebut tidak bisa dianggap sebagai gambaran semua orang Bumijawa. Warna kulit dan penampilan seseorang sangat beragam dan dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan semata-mata karena berasal dari satu kecamatan. Namun, menariknya, stereotip semacam ini tetap muncul dan menjadi bagian dari cara daerah lain memandang orang Bumijawa.
#3 Perajin Gypsum
Orang Bumijawa banyak yang menekuni pekerjaan sebagai perajin gypsum di luar kota. Bukan hanya di Jakarta, tetapi sampai Makassar dan Aceh. Sehingga, tidak jarang muncul stereotip pada orang Bumijawa jika merantau pasti bekerja sebagai pengrajin gypsum.
Pada 2023 saya ada pekerjaan di Bandung. Sesampainya di stasiun langsung mencari makan, sebab belum sarapan. Lontong kikil di stasiun lantas menjadi pilihan. Begitu ngobrol ternyata dia orang Balapulang Tegal. Begitu saya memperkenalkan diri sebagai orang Bumijawa, ia langsung menanyakan ada pemasangan gypsum di hotel mana. Lantas saya mengatakan bahwa saya tidak bekerja di gypsum.
“Saya kira kamu kerja di gypsum,” lanjutnya. Ternyata bukan hanya saya saja yang dikira demikian, banyak teman-teman saya mengalami kejadian serupa.
#4 Bumijawa dianggap minim fasilitas
Dataran tinggi identik dengan daerah terpencil, fasilitas minim. Sehingga muncul anggapan bahwa Bumijawa merupakan daerah yang minim fasilitas. Gara-gara hal tersebut, orang Bumijawa sering dikasihani karena jauh dari pusat kota.
Saya sendiri sering ditanya, orang Bumijawa membuat rekening di mana. Padahal fasilitas di kecamatan ini terbilang lengkap. Ada tiga pasar di sini, yaitu Pasar Bumijawa, Pasar Jejeg, dan Pasar Sayur Guci. Makanya warga di sini nggak perlu jauh-jauh ke Slawi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kemudian ada minimarket, ada bank, kantor pos.
Nah, jika kasihan karena jauh ketika mengurus surat-surat penting, ya memang jauh. Tetapi kan sekarang hampir setiap rumah pasti punya motor. Selain itu, transportasi umum dari Bumijawa ke Tegal masih tersedia, belum punah, ada namanya elef.
Itulah empat stereotip yang cukup sering saya dengar tentang orang Bumijawa Tegal. Stereotipe ini mungkin benar bagi beberapa orang, tapi ingat, ini tidak bisa digeneralisasi juga yaa.
Penulis: Malik Ibnu Zaman
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 5 istilah di hajatan orang Tegal yang masih membingungkan bagi banyak orang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













