Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Dilema “Jawa Murtad” di Gunungkidul: Ketika Lidah Sumatra Menjadi Petaka

Ogidzatul Azis Sueb oleh Ogidzatul Azis Sueb
7 Mei 2026
A A
Dilema Jawa Murtad di Gunungkidul Lidah Sumatra Jadi Petaka (Wikimedia Commons)

Dilema Jawa Murtad di Gunungkidul Lidah Sumatra Jadi Petaka (Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada sebuah beban moral yang sangat berat ketika wajahmu terlihat sangat “Jawa”, namamu njawa banget, tapi lidahmu lebih lancar mengucap “Kau” dan “Aku” daripada “Nyuwun Sewu“. Inilah nasib saya, keturunan Jawa yang lahir dan besar di tanah Sumatra, lalu tiba-tiba harus “pulang kampung” ke Gunungkidul karena orang tua pensiun.

Secara genetik, saya adalah orang Gunungkidul asli. Bapak dan ibu saya adalah produk asli perbukitan kapur yang tangguh. Namun, secara linguistik, saya adalah seorang asing di tanah leluhur. 

ADVERTISEMENT

Saya mengerti kalau orang bicara Bahasa Jawa, tapi kalau disuruh membalas? Rasanya seperti mencoba menjalankan aplikasi Android di sistem operasi Windows. Lag, macet, dan akhirnya force close.

BACA JUGA: Tinggal di Pelosok Sumatera Selatan Cuma Bikin Menderita, Warga Pilih Merantau karena Nggak Ada Perubahan

Dilema di Gunungkidul

Keresahan ini memuncak ketika saya harus berurusan dengan birokrasi dan pelayanan publik di Gunungkidul. Sebagai warga baru yang taat administrasi, saya rajin mengunjungi instansi pemerintah dan fasilitas kesehatan. Di sinilah “tragedi” itu bermula.

Di loket pendaftaran, petugas dengan ramah menyapa, “Badhe mriksa nopo, Mas? Sampun mbeta KTP kaliyan kertu BPJS-ipun?”

Saya tertegun sejenak. Otak saya menerjemahkannya dengan cepat, tapi lidah saya terkunci. Saya tahu saya harus menjawab “Inggih”, tapi yang keluar malah, “Iya Pak, ini berkasnya.”

Suasana mendadak jadi sedikit canggung. Petugasnya mungkin batin, “Ini anak gayanya Jawa, tapi kok bicaranya kayak orang Jakarta mau beli tanah.” Sementara saya merasa seperti agen rahasia yang penyamarannya terbongkar.

Baca Juga:

Sebagai Orang Jawa, Saya Merasa Miskin saat Tahu Orang Sumatra Tak Bisa Makan tanpa Lauk Ikan

Sebagai Warga Jogja, Saya Punya Empat Permintaan Kecil untuk Pendatang agar Bisa Beradaptasi dengan Baik

Masalahnya bukan sekadar saya tidak bisa menjawab. Namun, ada asumsi kolektif bahwa karena kita berada di Gunungkidul, maka semua orang yang datang ke sana adalah “orang kita” yang mahir berbahasa Jawa. 

Padahal, pelayanan publik, sesuai namanya, adalah untuk publik. Dan publik itu beragam. Tidak semua orang yang tinggal atau sedang berkunjung ke Gunungkidul adalah mereka yang paham bedanya ‘ngoko’ dan ‘krama inggil’.

Bukan salah petugas, hanya masalah “gelombang” Jawa

Saya sadar betul, petugas yang menggunakan Bahasa Jawa itu niatnya mulia. Di Gunungkidul, Bahasa Jawa (apalagi yang halus) adalah cara untuk merangkul, menciptakan suasana kekeluargaan, dan menghormati lawan bicara. Itu adalah bentuk kearifan lokal yang luar biasa.

Namun, bagi saya, dan mungkin bagi perantau lain yang nasibnya serupa, penggunaan Bahasa Jawa di ranah publik ini sering kali menciptakan “gap” informasi. Ada istilah-istilah medis atau birokrasi dalam bahasa Jawa yang kalau saya salah artikan sedikit saja, urusannya bisa panjang.

Kadang saya berandai-andai, betapa tenangnya hati ini jika di setiap instansi pemerintah ada satu loket khusus bertuliskan: “Layanan Bahasa Indonesia bagi Jawa Murtad”.

Belajar dari kasir minimarket di Gunungkidul

Kalau mau jujur, ada satu tempat yang membuat saya merasa “aman” secara linguistik: Alfamart atau Indomaret. Di sana, nggak peduli orangnya, sapaannya tetap seragam: “Selamat datang, selamat belanja.”

Bahasa Indonesia di sana berfungsi sebagai jembatan yang paling rata. Tidak ada tingkatan bahasa (ngoko atau krama), ada sebuah kenyamanan psikologis ketika kita tahu bahwa komunikasi akan berjalan lancar tanpa takut salah pilih kosa kata yang dianggap tidak sopan.

Semua orang berdiri di level yang sama. Dan menurut saya, inilah esensi dari pelayanan publik yang inklusif: memastikan semua orang, dari latar belakang apapun, paham dan dipahami tanpa rasa was-was.

Bukan berarti menghilangkan jati diri sebagai orang Jawa

Sering muncul argumen, “Lho, ini kan di Jawa, ya harus bisa Bahasa Jawa!” atau “Jangan lupakan jati diri!” Bahasa Indonesia diciptakan sebagai bahasa persatuan justru untuk mengatasi masalah-masalah seperti ini. Menggunakan Bahasa Indonesia di instansi publik tidak akan membuat Gunungkidul kehilangan jati dirinya.

Gunungkidul akan tetap menjadi daerah dengan pemandangan pantai yang indah dan tiwul yang enak. Meski petugas di instansi bicara bahasa Indonesia yang baku.

Kita harus sadar bahwa mobilitas penduduk saat ini sangat tinggi. Ada orang Sumatra yang pindah ke Jawa, ada orang Sulawesi yang bekerja di Jogja, dan ada orang-orang seperti saya yang terjepit di antara dua identitas.

Saya tidak berharap petugas berhenti bicara Bahasa Jawa. Justru itu adalah kekayaan yang harus dijaga. Harapan saya sederhana: semoga ada kepekaan situasional. Jika lawan bicara sudah membalas dengan bahasa Indonesia, alangkah indahnya jika petugas segera “pindah frekuensi” ke bahasa Indonesia juga tanpa merasa si lawan bicara ini sombong atau lupa asal-usul.

BACA JUGA: Pengalaman Saya Tinggal di Pedalaman Sumatera Selatan Sebagai Masyarakat Transmigran

Menjadi Jawa di tengah transisi

Pindah ke Gunungkidul adalah keputusan keluarga yang saya hormati. Saya mencintai ketenangan dan keramahan orang-orangnya. Namun, rasa nyaman saya akan jauh lebih lengkap jika saat saya mengurus KTP atau memeriksakan kesehatan, saya tidak perlu merasa seperti orang asing yang sedang menjalani ujian lisan bahasa daerah.

Mari kita jadikan layanan publik sebagai ruang yang ramah bagi siapa saja. Mau dia asli penduduk lokal, perantau yang pulang kampung, atau pendatang dari ujung Indonesia. Bahasa Indonesia adalah jembatannya. Dan untuk para petugas, tolonglah, sedikit empati untuk kami yang “Jawa di kulit, Sumatra di lidah” ini.

Penulis: Ogidzatul Azis Sueb

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Serba Salah Orang Jawa yang Lahir dan Besar di Sumatra: Mengaku Jawa Ribet, Mengaku Sumatra Nggak Dipercaya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Mei 2026 oleh

Tags: Bahasa Jawabudaya jawabudaya sumatraJawalidah jawalidah sumatraorang jawaSumatra
Ogidzatul Azis Sueb

Ogidzatul Azis Sueb

Seseorang yang suka banget ngulik hal-hal berbau sosial, politik, dan lingkungan, tak lupa juga mengikuti perkembangan budaya pop terbaru. Basis menulis ada di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

jilu

Gagal Nikah Gara-Gara Larangan Menikah Anak Pertama dengan Anak Ketiga (JiLu)

4 September 2019
8 Peribahasa Sunda yang Wajib Diketahui Gen Z jawa

Culture Shock Orang Jawa yang Merantau di Tanah Sunda, Banyak Orang Ngomong Pakai Dialog ala FTV

8 Juli 2024
Kuliner Palembang Memang Sedap, tapi Nggak Semua Lidah Orang Cocok Mojok.co

Kuliner Palembang Memang Sedap, tapi Nggak Semua Lidah Orang Cocok

16 November 2024
Cidro 2 Adalah Lagu Jawa Terbaik, yang Lain Minggir Dulu

Cidro 2 Adalah Lagu Jawa Terbaik, yang Lain Minggir Dulu

23 Desember 2023
Budaya Pekewuh yang Hanya Mitos di Masyarakat Kita terminal mojok

Budaya Pekewuh yang Hanya Mitos di Masyarakat Kita

6 Agustus 2021
siklus hidup

Memahami Makna dari Likuran, Selawe, Seket, dan Sewidak yang Berhubungan dengan Siklus Hidup

29 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jika Berani Berbenah, Malang Bakal Sejahtera (Unsplash)

Jika Berani Berbenah, Malang Bakal Sejahtera karena Potensi Wisata Kota Ini Begitu Besar tapi Terbentur Tembok Birokrasi

5 Juli 2026
Wahai Haters Masakan Jawa, Manis Itu Bukan Dosa, Lidah Kalian Saja yang Rewel

Wahai Haters Masakan Jawa, Manis Itu Bukan Dosa, Lidah Kalian Saja yang Rewel

1 Juli 2026
Obsesi Beli iPhone Bukan karena Gengsi, tapi Ingin Setara (Unsplash)

Obsesi Saya untuk Membeli iPhone Bukan Soal Gengsi, tapi Ingin Merasa Setara karena Tidak Ada Manusia yang Terlihat Kecil di Depan Orang Lain

4 Juli 2026
Menjadi Tutor Bahasa Inggris untuk Anak TK dan SD Membuat Saya Sadar, "Hello" Jauh Lebih Penting daripada "Open Your Book"

Menjadi Tutor Bahasa Inggris untuk Anak TK dan SD Membuat Saya Sadar, “Hello” Jauh Lebih Penting daripada “Open Your Book”

7 Juli 2026
Dapat Harta Warisan Itu Justru Menyebalkan, Lebih Banyak Dramanya!

Dapat Harta Warisan Itu Justru Menyebalkan, Lebih Banyak Dramanya!

2 Juli 2026
Saya Lulusan Ilmu Perpustakaan, tapi Saya Nggak Mau Jadi Pustakawan Sekolah, Isinya Cuma Makan Hati! perpusnas

Larangan Bawa Tumbler di Perpustakaan Daerah Itu Aneh, Minum Saja Dipersulit, Gimana Orang Mau ke Perpustakaan?

4 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.