Waktu SD, Baca Komik 'Crayon Shinchan' Itu Ibarat Baca Majalah Porno – Terminal Mojok

Waktu SD, Baca Komik ‘Crayon Shinchan’ Itu Ibarat Baca Majalah Porno

Artikel

Crayon Shinchan adalah manga dan anime karya Mendiang Yoshito Usui yang menceritakan kehidupan sehari-hari dari seorang bocah berusia lima tahun bernama Shinnosuke “Shinchan” Nohara.

Shinchan ini tinggal bersama adik dan kedua orang tuanya di Kasukabe, Prefektur Saitama, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Ibu Kota Tokyo. Saya sendiri pertama kali mengenalnya saat nonton di RCTI ketika saya masih SD pada 2000-an. Saya pun langsung menyukai cerita Shinchan yang betul-betul kocak banget.

Saat saya SD, ada beberapa penjual komik, majalah, dan koran yang berjualan di depan gerbang sekolah. Saya pun cukup sering membeli komik yang blio jual seperti komik Doraemon, Detektif Conan dan Ninja Hattori. Tidak lupa, saya juga mulai membeli komik Crayon Shinchan sejak kemunculannya di RCTI.

Setelah saya dibelikan komik Crayon Shinchan oleh orang tua saya, saya tidak langsung pulang. Saya, orang tua saya, dan sepupu saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke salah satu toko kue tidak jauh dari sekolah dan bertemu dengan ibu-ibu lainnya yang sama-sama membawa anak sekolah seumuran kita. Setelah melihat saya membawa komik Crayon Shincan, blio pun langsung panik dan mengajak ibu saya bicara, “Itu awas jangan baca Crayon Shinchan aduh! Bisa ditangkap polisi! Itu buat dewasa, Bu!”

Ibu saya pun langsung menyita komik Crayon Shinchan tersebut setelah termakan omongan ibu-ibu random yang kami temui di toko kue tersebut. Ibu saya pun menunjuk kalimat yang terdapat pada cover komik tersebut yang berbunyi “Untuk 15 tahun ke atas” dan berkata komik ini belum waktunya untuk saya baca. Tentu saja, sebagai anak SD, saya langsung menangis karena komik saya tersebut telah disita oleh orang tua saya. Bahkan sampai tulisan ini dibuat, saya tidak pernah bertemu lagi dengan komik tersebut.

Sejak kejadian itu, saya tidak tinggal diam. Saya membaca komik Crayon Shinchan secara diam-diam dengan meminjamnya dari teman atau saudara saya ketika saya mengunjungi rumah mereka. Saat itu pun, membawa komik Crayon Shinchan di SD tempat saya menuntut ilmu ibarat membawa majalah porno saking tabunya. “Banyak hal tidak senonoh yang tidak sesuai dengan kebudayaan kita yang tertuang di komik Crayon Shinchan.”, ujar guru saya dalam salah satu ceramahnya.

Guru-guru di SD saya akan langsung menyita komik tersebut jika ada siswa dan siswi yang kedapatan membawa komik Crayon Shinchan tersebut. Guru-guru tersebut masih mentoleransi jika ada siswa dan siswi yang kedapatan membawa komik Detektif Conan meskipun isinya sama-sama tidak baik untuk konsumsi anak SD karena banyak kasus pembunuhan sadis di dalamnya, asalkan tidak dibaca saat pelajaran sekolah berlangsung.

Padahal kalau dipikir-pikir, senakal-nakalnya Shinchan dalam manga dan animenya, saya tidak pernah meniru apapun kelakuannya di dalam manga dan animenya. Meskipun banyak lelucon yang merendahkan martabat wanita, seperti catcalling pada wanita cantik yang sering dilakukan oleh Shinchan, Hiroshi Nohara (ayah Shinchan), dan Ginnosuke Nohara (kakek Shinchan), maupun aksi Shinchan yang gemar memamerkan alat genitalnya kemana-mana yang sudah digambar menggunakan spidol seolah-olah merupakan belalai gajah. Saya pun tidak pernah menirunya, baik saat anak-anak atau saat sudah dewasa seperti sekarang.

Bahkan saat saya berusia 15 tahun, yakni waktu duduk di bangku SMA dan secara hukum sudah legal untuk membaca komik tersebut, saya malah memetik hikmah yang bisa diambil dari komik ini seperti kisah persahabatan Shinchan dengan anjing peliharaannya yang bernama Shiro, hangatnya suasana makan malam keluarga Shinnosuke, kesetiakawanan dan kepolosan Shinchan dan teman-temannya yang masih duduk di bangku TK, hingga tragisnya kisah cinta Ume Matsuzaka, salah satu guru di TK Shinchan yang harus kehilangan pacarnya, Kyioda Tokuro yang tewas dalam insiden terorisme di Afrika.

Saat saya sudah dewasa, saya bahkan sangat relate dengan kaum pekerja seperti Hiroshi Nohara yang bekerja dari pagi sampai malam hari, dan hanya libur dua kali dalam seminggu. Itu pun kalau tidak lembur. Dengan gaji yang tidak terlalu besar, hanya cukup untuk membayar cicilan rumah, cicilan mobil, uang sekolah anak, tagihan listrik, tagihan BPJS, dan untuk kebutuhan makan sehari-hari. Di mana gaji itu tidak tersisa untuk membeli kemewahan seperti kaum menengah ke atas.

Mungkin memang ada hikmahnya juga kenapa Crayon Shinchan muncul di tahun 90an dan awal 2000an karena kalau tayang di tahun 2021 ini akan ada begitu banyak orang yang tersinggung karena tidak sedikit kisah yang tertuang dalam manga dan anime Crayon Shinchan ini menceritakan banyak adegan catcalling, jokes-jokes berbau porno, hingga menyinggung adegan LGBT. Waktu saya sekolah mah mana kepikiran buat tersinggung karena saya malah fokus sama jokesnya. Kalau sekarang kayaknya bakal dihujat deh sama orang-orang yang gampang tersinggung, lebih-lebih dari ibu-ibu random yang saya temui di toko kue dan guru-guru SD saya.

Sumber gambar: YouTube Sakura Hattori

BACA JUGA Label Nakal Crayon Shinchan, Bukti Orangtua Asia Tak Pernah Salah dan tulisan Raden Muhammad Wisnu lainnya.

Baca Juga:  Serba Serbi Car Free Day: Berolahraga, Tempat Nongkrong, dan Isu Kristenisasi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.