Review 'Record of Ragnarok': Bukan Sekadar Anime Dewa Adu Jotos dengan Manusia – Terminal Mojok

Review ‘Record of Ragnarok’: Bukan Sekadar Anime Dewa Adu Jotos dengan Manusia

ArtikelFeatured

Beberapa pekan lalu jagad dunia anime sedang ramai-ramainya dengan anime baru yang sangat fenomenal serta sensasional. Kalau biasanya anime itu, utamanya genre aksi atau petualangan, melawan musuh yang masih dibilang “standar,” anime ini antagonisnya adalah “tuhan” atau kita sebut dewa saja. Biar lebih aman, wqwqwq. Anime tersebut berjudul Record of Ragnarok, atau judul asli dalam bahasa Jepangnya adalah Shuumatsu no Valkyrie. Di sini, saya mau menulis review Record of Ragnarok.

Anime ini bercerita tentang “kompetisi” pertarungan antara dewa dengan manusia untuk menentukan nasib eksistensi manusia. Apakah manusia layak untuk tetap eksis di dunia? Semua itu ditentukan oleh pertandingan yang disebut “Ragnarok.”

Sebenarnya para dewa ini ingin langsung melenyapkan manusia saja, namun karena provokasi yang dilakukan oleh seorang Valkyrie bernama Brunhilde, maka nasib manusia ditentukan lewat pertarungan tersebut. Petarung terkuat dari kalangan dewa akan bertarung dengan petarung terkuat dari kalangan manusia. Hasil pertandingan tersebut akan menentukan nasib umat manusia selanjutnya.

Anime Record of Ragnarok yang rilis dari bulan lalu ini adalah serial original dari Netflix yang diadaptasi dari manga berjudul sama. FYI, anime ini adalah ONA (Original Net Animation) yang rilis dan tayang di internet saja. Konsep yang jarang dari sebuah serial anime, bukan. Entah kerja sama atau bukan, yang pasti serial ini digarap oleh studio bernama Graphinica yang juga menggarap anime adaptasi light novel berjudul Juni Taisen: Zodiac War.

Kalau secara visual, studio Graphinica memang lebih proper dan ahli dalam membuat animasi tiga dimensi, jadi beberapa tampilan anime ini agak mix dengan versi CGI dari karakter yang ada di dalamnya. Meski begitu, walaupun tiga dimensi sering bikin aneh dan mengecewakan, tapi ini anime malah jadi sangar banget. Komposisi campuran dua dan tiga dimensi malah justru membuat puas mata. Asli.

Vibes seperti ini sebenarnya sudah pernah saya rasakan juga dari anime Juni Taisen: Zodiac War yang tadi saya sebutkan, sebab satu studio kan. Namun, kelihatannya untuk anime yang satu ini peningkatan kualitas visual sangat signifikan sih, ya. Harus deh kayaknya, wong serial original dari Netflix.

Ouh iya, karena dari tadi saya sebutkan kalau Record of Ragnarok adalah serial anime original Netflix, maka anime ini jelas tersedia di Netflix kawan-kawan. Kalau mau streaming di tempat lain, ya, tanggung jawab masing-masing saja itu mah. Saya nggak ngajak, menyarankan, atau nyuruh. Musim pertama dari anime ini berjumlah 12 episode saja, tapi alur cerita agak lebar dan lebih detail dari manganya. Mengingat satu musim hanya ada tiga pertandingan saja.

Tapi anime ini memang bangsat sih, kalau kamu orang yang merasa sensitif dengan isu agama mending jangan nonton ini. Coba tokoh-tokoh yang “suci” di sini malah pada adu jotos dengan dewa atau penciptanya. Adam (tokoh yang sering muncul dalam berbagai kitab suci, utamanya agama samawi, dan dipercaya sebagai manusia pertama) adu jotos sama Zeus. Bajingan. Eh, spoiler alert hehehe. Di India saja, anime ini dilarang tayang. Untung Indonesia lagi banyak isu, kalau nggak, mungkin rame juga kali ya (?). 

Tapi terlepas dari ranah teologi, anime ini juga sangat menarik karena membuat kita jadi harus “kepo” dan baca-baca ulang. Wong kebanyakan dewanya dari mitologi kuno, terus banyak tokoh-tokoh sejarah yang menjadi karakter di dalam anime ini. Mau itu karakter utama sampai sampingan. Istilahnya nih, tiap chapter bikin kamu buka Wikipedia buat tahu latar belakangnya. Tokoh macam Lu Bu emang udah terkenal, tapi saya yakin Sasaki Kojiro bukan tokoh yang familiar. Setidaknya bagi saya sih.

Kalau kita memandang dari perspektif sejarah, anime ini alus pisan. Apalagi, karakter petarung manusianya sungguh keren dan saya kenal dari kecil. Oleh karena alasan kagum dari kecil itulah, saya jadi tertarik dengan sejarah. Aduhhh, buat saya sih nonton Record of Ragnarok jadi kayak nostalgia dan double karena ada sejarahnya. 

Kalau dibandingkan dengan manga, alur cerita memang sangat jauh sekali sih ya. Lalu, detail dalam anime jauh lebih lengkap, tapi tetap ada miss juga sebenarnya kalau nggak baca manganya. Overall, anime ini masih bisa dinikmati tanpa harus baca manganya. Tapi, ya, kalau mau baca manganya silahkan. Kalau nggak salah, sudah ada juga manga resmi di Gramedia. Kalau nggak salah.

Setelah saya tulis panjang review Record of Ragnarok ini, saya perlu ngasih skor untuk anime ini. Skornya adalah 8/10, alias highly recommended gas!!!

Baca Juga:  Kartun Barat Itu Bagus, tapi Kalah Kreatif Dibanding Anime

Sumber gambar: YouTube Ito Rogu

BACA JUGA Misteri di Balik Kemunculan Kozuki Oden: Review ‘One Piece’ Chapter 1007 dan artikel Nasrulloh Alif Suherman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.