Tren “Wajah Tua” FaceApp, Menjadi Tua Kok Bangga?

Tren “wajah tua” FaceApp yang lagi ramai-ramaimya terutama di Facebook dan Instagram ini bikin saya geleng-geleng kepala. Heran aja gitu.

Artikel

Avatar

Tiba-tiba timeline media sosial saya dipenuhi foto-foto orang bermuka kisut dan beruban. Apakah saya sedang terjebak di semesta lain yang hanya berisi manusia-manusia lanjut usia? Oh, ternyata nggak. Teman-teman dunia maya saya itu ternyata cuma lagi seru-seruan aja. Lagi asik-asikan dengan aplikasi “wajah tua” FaceApp. Untunglah. Gawat juga kalau mendadak kawan-kawan bermedia sosial saya jadi mirip Soeharto dan Megawati semua. Bisa-bisa saya kena ciduk. Eh.

Tren “wajah tua” FaceApp yang lagi ramai-ramaimya terutama di Facebook dan Instagram ini bikin saya geleng-geleng kepala. Heran aja gitu. Kok semua orang jadi mendadak pamer foto muka tua mereka? Yang keriputan dan menyiratkan tanda-tanda telah dekat dengan kematian? Yang bikin saya bisa pura-pura bercanda dengan nulis komentar “emang muka lu udah tua kok, nggak usah pake aplikasi gituan segala, lah!”.

Biasanya aja mencak-mencak kalau dibilang tua atau dikomentari “Muka kamu kok kelihatan lebih tua, ya.” Lha ini, malah pada pamer foto 40 tahun dari sekarang. Manusia memang benar-benar unik dan misterius. Kayak mbaknya, dibilang “cantik” sama saya, disangkanya saya melecehkan. Giliran ada cowok yang sebetulnya kalau dipandang dengan mata batin nggak lebih tampan dari saya bilang begitu, malah menjerit-jerit kesenangan. Duh, rasanya kuingin menangys saja. Tisu mana tisu?

Kalau seseorang dibilang tua padahal emang betulan tua (tanpa maksud menghina, nih) kesannya nggak terima seolah-olah manusia bakalan awet muda selamanya kayak Dian Sastro dan Hamish Daud. Tapi, giliran disebut tua oleh aplikasi, dengan menampilkan foto-foto tua mereka, malah senang. Kan aneh.

Bukan cuma senang, malah foto itu disebar-sebarin biar khalayak melihatnya. Padahal, kan, walau hanya aplikasi “penebak muka masa depan”, intinya ya tua-tua juga. Eh, tapi malah pada kesenengan dibuat tua oleh aplikasi.

Baca Juga:  AirAsia yang Ikut Memeriahkan Suasana dengan Kontes Foto di Dalam Pesawat

Di situ saya kok kepengen jadi aplikasi saja ya. Biar bisa seenaknya nyebut dan bikin orang jadi tua tanpa harus dimarah-marahi. Kan asik tuh.

Memang sih, sebagian besar para pengguna fitur “wajah tua” FaceApp itu niatnya sekadar seru-seruan aja. Toh, di kolom komentar mereka, saya lihat pada asik saling bercanda. Nggak ada yang baper kalau dikasih emot ngakak atau diketawain “wkwkwkwkwkwk 10 jam” (Saya jadi penasaran kalau Nissa Sabyan bikin video anyar penerus Hmm Hmm Hmm 10 jam ini).

Mereka terlihat sekali merayakan “menjadi tua” dengan gembira.

Ini jadi semacam anomali. Saat di kehidupan nyata begitu banyak orang menolak tua dengan mengonsumsi obat ini itu, rutin olahraga, memakai makeup terbaik, dan sekian kiat mencegah penuaan lainnya. Di sisi lain—walau sebatas dunia maya—justru malah banyak banget yang berlomba-lomba menjadi tua. Lalu menyebar-nyebar foto itu tanpa beban apa pun.

Saya jadi berpikir, sebenarnya manusia itu nggak benci-benci amat menjadi tua. Mereka hanya perlu media untuk merayakan masa tua dengan gembira. Dan, aplikasi FaceApp ini seperti kekasih yang datang tepat waktu buat mereka. Sekonyong-konyong menjadi tua bukan lagi sesuatu yang dihindari, justru malah pada penasaran bagaimana rasanya.

Tapi, plis, kalau muka hasil olah aplikasi FaceApp itu membuatmu tampak seperti Soeharto, Adolf Hitler, atau Benito Musollini, nggak usah disebarluaskan. Soalnya jadi berasa horor gitu. Saya jadi ngeri membayangkan di masa depan kamu adalah seorang diktator-fasis yang bisa membunuh orang dan merampas uang negara seenaknya. Gaswat itu!

By the way, aplikasi FaceApp ini nggak betul-betul aman. Bagi kamu yang merasa penting untuk melindungi privasimu dan foto-fotomu agar tidak disalahgunakan pihak lain, sebaiknya nggak perlu pakai aplikasi ini. Atau kalau pun pakai, nggak usah sering-sering.

Baca Juga:  Menanggapi Tulisan Tidak Perlu Memberi Tip Untuk Ojol: Melihat Driver Ojol dan Orang Lain Bersyukur Itu Tak Ternilai

Ya, intinya mah, bagi kamu yang menggunakan aplikasi tersebut, gunakan sebijak-bijaknya. Namanya aja aplikasi seru-seruan, sekadar buat seru-seruan aja. Nggak perlulah tiap hari menggunakan fitur “wajah tua”. Tenang aja. Semua orang juga bakal disakiti dan patah hati menjadi tua pada waktunya, kok.

Ngomong-ngomong, sampai sekarang saya sendiri belum pernah menggunakan fitur “wajah tua” FaceApp itu. Saya lebih suka melihat foto kawan-kawan medsos aja. Sambil ketawa-ketiwi kalau memang ada yang terlihat lucu gitu. Atau tersenyum miris kalau melihat foto yang kesannya menyedihkan dan bikin hati menjadi jatuh iba.

Sesungguhnya orang-orang pengunggah foto hasil “wajah tua” FaceApp itu menyenangkan. Bikin timeline jadi lebih berwarna dan secara nggak langsung memberi pelajaran kepada saya bahwa masa muda ini fana sefana cintamu. Bahwa cepat atau lambat, kita akan menjadi tua, mati, dan dilupakan. Hikz. Kok jadi mellow gini.

Eh, tapi, kapan-kapan saya mau coba gunain fitur itu, deh. Namun, saya masih ragu. Saya masih belum siap kalau aplikasi itu membikin saya di 40 tahun mendatang jadi mirip Keanu Reeves dan ciwik-ciwik jadi mengejar-ngejar saya. Ah, sungguh, saya belum siap~

---
199 kali dilihat

0

Komentar

Comments are closed.