Balada Pengguna WhatsApp: Jika Penting dan Genting Itu Telepon, Bukan PING!

Namun, kembali lagi sepertinya kata PING maupun huruf P menjadi pengganti salam pembuka pada suatu obrolan di aplikasi chatting.

Artikel

Avatar

Suatu ketika, saya kaget ketika mendapati notifikasi WhatsApp sampai dengan 10 chat dari seorang teman. Saya sempat khawatir karena sepertinya ada sesuatu yang amat sangat penting. Lebih jauh lagi, saya bahkan berpikir mungkin ada kabar duka atau kemalangan. Tidak lama setelah itu, tanpa berpikir panjang lagi saya langsung membuka notifikasi tersebut.

Betul-betul dibuat kaget setelah saya mengetahui isi chat-nya, bukan karena adanya kabar duka atau kemalangan melainkan hanya pertanyaan “lagi di mana?” dan sisanya adalah kata “PING” 9 kali. Lalu saya pun sempat berpikir sejenak, rasa-rasanya BBM (BlackBerry Messanger) sudah tutup dan tidak digunakan lagi, kok ya masih saja menggunakan fitur PING. Ditambah, dia menghubungi saya melalui WhatsApp—yang kita semua tahu tidak ada fitur PING di dalamnya.

Biasanya selain kata PING, orang yang sama atau beberapa diantara teman menggunakan huruf P sebagai pengganti. Intinya sih sama, meminta si penerima chat untuk segera membalas. Sungguh, hal tersebut sangat menyebalkan dan mengganggu. Selain terlalu banyak notifikasi meski tidak memakai nada dering, tetap saja berlebihan karena hanya sembarang tanpa mau tahu sedang apa si penerima chat.

Bisa jadi penerima chat sedang sibuk atau tidak memegang handphone—itu kenapa tidak bisa dengan segera membalas juga merespon chat. Memang apa salahnya sih bersabar sedikit saja. Toh kalau memang ada pertanyaan—apalagi penting—pasti di jawab, kok. Wajar saja jika tidak dijawab, coba dicek kembali isi chatmu pertanyaan atau pernyataan? Tentu kedua hal tersebut berbeda dan wajar saja jika tidak dibalas kalau memang chat terakhir adalah pernyataan.

Seingat dan sepengetahuan saya, jika memulai atau membuka obrolan di melalui chat, normal dan sewajarnya adalah mengucap salam. Baik dalam bahasa arab sesuai dengan anjuran agama, bahasa Indonesia, daerah, atau bisa juga langsung membuka obrolan dengan cara bertanya atau mengajak sesuatu jika ingin melakukan kegiatan bersama.

Baca Juga:  Dilema Admin Tunggal WhatsApp Group (WAG) yang Nggak Laku

Namun, kembali lagi sepertinya kata PING maupun huruf P menjadi pengganti salam pembuka pada suatu obrolan di aplikasi chatting. Maksud saya sih, kenapa nggak salam atau menyebutkan nama saja? Mau bagaimana pun hal demikian lebih baik dibanding tidak jelas berbasa-basi seperti itu. Walau terkadang menyebalkan, karena adanya sapaan dalam huruf P maupun kata PING saya malah merindukan bagaimana cara seseorang mengawali percakapan dengan berbasa-basi.

Mengutip sedikit dari Wikipedia, PING sendiri merupakan singkatan dari Packet Internet Gopher, sebuah program yang dapat digunakan untuk memeriksa induktivitas jaringan berbasis teknologi. Lebih lanjut lagi, fungsi PING pada aplikasi BBM bahkan untuk memastikan apakah jaringan milik BlackBerry berfungsi atau tidak atau dengan kata lain untuk tes server jaringan agar dapat reaktif. Jadi, sudah jelas bukan untuk test contact, pengganti kata salam, apalagi meminta seseorang untuk segera membalas chat yang diterima.

Bagi saya sendiri, penggunaan PING secara berlebihan bahkan dirasa tidak sopan dan benar-benar menjengkelkan, “bahasa anak Jaksel”-nya sih annoying. Saya cukup yakin beberapa orang sependapat dengan saya, kecuali mungkin bagi mereka yang selalu menggunakan fitur PING secara sembarang, terlebih di aplikasi WhatsApp. Mungkin mereka akan berkomentar, “yaelah sepele banget”—intinya sih mempermasalahkan. hehe.

Jadi, gini lho, sewaktu-waktu khususnya kepada teman dekat mungkin bisa menggunakan PING dalam kondisi apa pun—walaupun tetap menyebalkan—tapi tentu perbuatan sekaligus kebiasaan ini tidak bisa disamaratakan ke banyak orang—salah satunya saya. Bahkan pernah ada orang yang baru kenal dan kali pertama menghubungi saya, dengan tidak merasa bersalah mengawali chat dengan PING baru memperkenalkan diri.

Perlu saya tegaskan, ini bukan soal saya yang terkesan kolot atau kaku dalam berkomunikasi. Sadar atau tidak, penggunaan PING tidak pada tempatnya dan tidak sesuai dengan fungsinya dapat membuat malu diri sendiri. Sebelum jauh ke arah itu, saya tentu selalu menegur teman secara langsung akan penggunaan kata PING di setiap chat-nya. Bukan untuk menyakiti, tapi lebih kepada agar tersadarkan dan hanya sekadar saran. Mau diikuti silakan, kalau pun tidak ya kalau bisa usahakan diikuti.

Baca Juga:  Belajar dari One Piece: Tak Semua Orangtua Mengerti Passion Anaknya

Bagaimana, dapat dan mudah dipahami, kan? Kok nggak ada respon, sih?

PING!!!

PING!!!

PING!!!

---
630 kali dilihat

22

Komentar

Comments are closed.