Eksploitasi Tempat Viral Kayak Ranu Manduro Itu Buat Apa, sih?

Ranu Manduro akhirnya ditutup untuk umum. Sebab, kawasan ini sebenarnya cukup berbahaya, apalagi dengan banyaknya kunjungan mengingat ia adalah kawasan tambang.

Artikel

Avatar

Akhir-akhir ini, frasa viral menjadi sesuatu yang sedikit menyebalkan. Alih-alih menjadi sebuah sebutan, frasa ini seakan menjadi sebuah target yang harus dicapai bagi kebanyakan orang. Tidak melulu orang, bisa juga tempat, makanan, atau hal-hal lainnya. Kecenderungan untuk dikenal, atau menjadi orang pertama yang tahu dan pernah melakukan jadi salah satu penyebab mengapa frasa viral ini seakan jadi sebuah pencapaian, selain mudahnya mengakses informasi. Tentunya, sisi negatif hal ini adalah rawan eksploitasi, seperti yang terjadi dengan salah satu tempat ini.

Adalah Ranu Manduro, sebuah kawasan seperti padang savana yang terletak di daerah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur ini mendadak ramai. Hal ini dikarenakan ada salah satu warganet yang mengunggah dan menyebarkan video bagaimana keindahan Ranu Manduro. Dalam video itu, terlihat padang rumput hijau yang cukup indah, mirip seperti padang savana di perbukitan New Zealand. Video tersebut mendapat banyak sekali reaksi takjub dari warganet lain, dan ada juga yang mengkhawatirkan kelangsungan tempat tersebut.

Seperti dugaan, tidak lama setelah video itu tersebar, banyak sekali orang-orang yang ingin sekali mengunjungi tempat tersebut. Orang-orang berbondong-bondong pergi ke sana, hanya untuk mencari spot foto yang mereka kira bagus, khas kebiasaan warga Indonesia. Belum genap satu pekan, kawasan yang dulunya dikenal hanya sebagai bekas tambang ini sudah ramai sekali oleh manusia-manusia yang sebenarnya tidak terlalu penting tujuannya. Mereka paling hanya melihat-lihat, foto sana foto sini, dan biasanya “nyampah”. Bahkan di beberapa video akhir-akhir ini, jalan masuk ke tempat ini saja sudah sangat macet.

Imbasnya, kawasan Ranu Manduro ini akhirnya ditutup untuk umum pada akhir Februari lalu. Bukannya tanpa alasan, kawasan ini sebenarnya cukup berbahaya, apalagi dengan jumlah kunjungan lebih dari seribu orang per hari, mengingat kawasan ini adalah kawasan tambang. Apalagi namanya Ranu, yang artinya danau. Itu kalau hujan lebat apa tidak jadi kubangan besar nantinya? Demi keamanan (dan demi mencegah eksploitasi kawasan oleh banyak orang), kawasan ini akhirnya ditutup.

Baca Juga:  Izinkan Saya Ngiri dengan Anak Teknik

Sebenarnya, maksud dari eksploitasi di atas adalah bagaimana kebiasaan orang-orang yang hanya memanfaatkan keindahan suatu tempat untuk keinginan dan kepentingan diri sendiri, tanpa ikut menjaga dan merawat tempat tersebut. Ini terjadi juga di Ranu Manduro. Dari sekian banyak orang yang datang ke sana, saya cukup yakin bahwa semuanya hanya ingin foto-foto saja buat mengisi feed Instagram mereka yang sedikit pengikutnya itu. Bahkan, foto-foto orang di sana tidak ada yang bagus sama sekali, lho. Yang ada, mereka di sana malah nyampah, dan bikin sesuatu yang tidak jelas.

Ini sudah jelas bentuk eksploitasi, memanfaatkan keindahan dan ketenaran suatu tempat, hanya untuk kepentingan pribadi, lalu pergi dengan meninggalkan sampah setelah tempat itu tidak tenar lagi. Beruntung tempat ini segera ditutup, sebelum kelakuan orang-orang di sana semakin parah. Bikin foto ini itu, bikin video ini itu, lalu ditambahi lagu-lagu “feeling good” apalah itu yang lagunya sangat mengganggu dan tidak enak sama sekali. Saya cukup yakin, kalau ada daftar lagu terburuk sepanjang masa, lagu ini pasti masuk dan berada di urutan sepuluh teratas.

Lagian, buat apa juga sih seperti itu, lha wong cuma foto-foto saja, kok. Buat apa? Tidak perlu beralasan kalau kamu itu suka foto, suka travelling, menjelajahi tempat yang baru, terus yang kamu lakukan itu sebagai bentuk menyenangkan diri sendiri, tidak perlu. Itu bukan alasan yang bagus. Bilang saja kalau kamu ikut-ikutan orang-orang, biar kamu bisa dibilang oleh kawan-kawan atau pengikutmu dengan sebutan “keren”. Persetanlah dengan alasan itu. Orang seperti ini yang biasanya tidak ada tanggung jawabnya, salah satunya ya nyampah saja.

Ya sebenarnya bagus ketika ada tempat-tempat yang punya potensi menjadi tempat wisata. Ini bisa menjadi pemasukan bagi daerah setempat, dan bisa jadi peluang bisnis bagi warga-warga setempat. Namun, perlu juga diperhatikan bagaimana etika menjadikan alam sebagai kawasan wisata. Kebersihannya dijaga, kelakuan manusianya juga dijaga, dan kalau perlu tidak hanya dijadikan kawasan foto-foto saja. Untuk kasus Ranu Manduro, sudah betul mending ditutup saja selamanya, daripada semakin banyak orang norak yang datang dan semakin banyak orang norak yang nyampah di sana. Sudah cukup eksploitasinya.

Baca Juga:  Sampai Kapan Fans Manchester United Harus Bersabar? Sampai Kapan-kapan!

BACA JUGA Tentang Viral dan Pentingnya Mengambil Jarak Terhadapnya atau tulisan Iqbal AR lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
2


Komentar

Comments are closed.