Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Teror Jalan Silayur Semarang Lebih Seram dari Sekadar Jalan Angker

Ida Rahayu oleh Ida Rahayu
21 Oktober 2025
A A
Teror Jalan Silayur Semarang Lebih Seram dari Sekadar Jalan Angker Mojok.co

Teror Jalan Silayur Semarang Lebih Seram dari Sekadar Jalan Angker (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah sejak lama Jalan Silayur, Ngaliyan, Semarang terkenal akan urban legend-nya. Orang asli atau mereka yang sudah lama tinggal di Semarang pasti sudah tidak asing dengan sosok bernama Ranem yang ada di sana. Pengguna jalan pasti juga sepakat kalau Jalan Silayur Semarang itu singup. Pencahayaan di sana cukup, tapi rasanya merinding aja tiap melewatinya. 

Warga Ngaliyan dan pengguna Jalan Silayur kerap menghubungkan cerita angker ini dengan banyaknya kecelakaan yang terjadi di sana. Mulai dari truk yang ngos-ngosan menanjak hingga suara rem berdecit di malam hari memang bikin merinding. Tidak heran kalau sebutan Jalur Tengkorak diberikan ke Jalan Silayur Semarang. 

ADVERTISEMENT

Penghubung BSB dan UIN Walisongo yang padat

Silayur adalah jalur utama yang menghubungkan BSB City dan Mijen dengan Ngaliyan hingga UIN Walisongo. Tiap hari, ratusan kendaraan melintas, motor mahasiswa, mobil pribadi, hingga truk besar bermuatan berat. 

Pagi hari, jalan ini ramai oleh mahasiswa dan pekerja yang berangkat. Siang hari, panas matahari memantul dari aspal dan truk-truk besar merayap perlahan sambil mengeluarkan asap knalpot. Menjelang sore, langit oranye di atas Silayur terlihat cantik, tapi juga menyisakan rasa sepi.

Dan, saat malam tiba, suasana berubah total. Penerangan jalan ada, tapi jarangnya luar biasa. Hanya sorot lampu kendaraan yang memecah gelap. Di momen seperti itu, pengendara sering merasa ada yang “mengawasi”, padahal mungkin cuma bayangan sendiri di spion.

Terlepas dari urban legend itu, Jalan Silayur Semarang memang berbahaya. Dari arah Kendal menuju kampus, jalan ini tampak menanjak panjang, perlahan tapi pasti menguras tenaga mesin. Sebaliknya, dari arah atas, jalur turunan Silayur justru menantang,  memacu adrenalin, tapi sekaligus bikin pengendara ngeri.

Pokoknya menantanglah. Bahkan, boleh dibilang kondisi jalanan seperti ini yang membuatnya lebih seram dibanding sekadar julukan jalan angker. 

Turunan Jalan Silayur dijuluki Jalur Tengkorak

Bagian paling berbahaya dari jalan ini adalah turunannya. Warga menjuluki jalur tengkorak. Julukan itu muncul bukan karena kisah mistis, tapi karena seringnya terjadi kecelakaan fatal, terutama yang melibatkan truk besar.

Baca Juga:

Pengalaman mencoba roti subuh yang lagi viral di Semarang: cukup sekali coba saja, nggak mau lagi-lagi

Banjir di Semarang selama ini tak hanya perkara alam, tapi justru gara-gara ulah warganya sendiri,

Truk bermuatan berat kerap tidak kuat menanjak, lalu berhenti mendadak di tengah jalan. Sebaliknya, dari arah atas, banyak juga truk yang mengalami rem blong karena turunan panjang yang membuat mesin dan rem kepanasan. Akibatnya, truk meluncur tanpa kendali.

Bagi warga sekitar, suara rem truk yang meraung tengah malam bukan hal aneh lagi. Itu suara yang sudah terlalu sering mereka dengar dan hampir selalu diakhiri dengan suara benturan keras. Pemerintah setempat sempat berencana melakukan perbaikan dan pelebaran jalan, tapi kontur tanah Silayur yang naik-turun panjang membuat risiko tetap tinggi.

Aturan tidak tertulis Jalan Silayur Semarang

Kecelakaan di Jalan Silayur Semarang  hampir selalu melibatkan kendaraan besar. Kadang truk berhenti di tanjakan hingga mundur tiba-tiba karena tidak kuat menanjak. Di sisi lain, ada juga yang meluncur terlalu cepat saat menurun.

Warga sudah hafal satu aturan tak tertulis di sana, “Kalau di depanmu ada truk, jaga jarak. Kalau kamu di belakangnya, jangan terlalu dekat.” Karena jika truk itu kehilangan kendali, semua yang berada di belakang bisa jadi korban. Itulah sebabnya, Jalan Silayur juga berbahaya karena bahaya teknisnya, bukan kisah mistisnya.

Antara Bahaya, Gotong Royong, dan Cerita yang Tak Pernah Usai

Di balik reputasinya yang menegangkan, Silayur juga menyimpan cerita kemanusiaan. Tak jarang warga sekitar turun tangan membantu mendorong kendaraan yang mogok, atau menolong sopir yang kendaraannya terguling.

Gotong royong masih terasa kuat di sana. Mungkin karena semua orang tahu, siapa pun bisa jadi korban di jalan itu, entah pengendara, pejalan kaki, atau warga yang sedang melintas. Pemerintah telah berupaya melakukan pelebaran jalan dan perbaikan infrastruktur. Tapi tetap saja, karakter Silayur tak bisa diubah. Ia tetap panjang, menanjak, menurun, dan kadang menakutkan.

Jalan Silayur Semarang bukan sekadar jalan penghubung. Ia adalah pengingat nyata bahwa bahaya bisa muncul dari banyak hal, jalanan curam hingga rem blong. Bahkan, mau disebut dari makhluk halus pun juga boleh. 

Itu mengingatkan pengguna jalan, baik di Jalan Silayur maupun di mana pun berada, untuk selalu berhati-hati. Jangan lupa untuk selalu memastikan kendaraan dalam kendaraan prima, apalagi sudah tahu rutenya curam. 

Penulis: Ida Rahayu
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Depok Semarang Ruwet, tapi Masih Bisa Dimaafkan, Tidak Seperti Depok di Daerah Lain.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Oktober 2025 oleh

Tags: jalan angkerjalan SemarangJalan Silayur SemarangNgaliyanNgaliyan SemarangSemarangSilayurSilayur Ngaliyan
Ida Rahayu

Ida Rahayu

Perempuan asal Yogyakarta yang kini bekerja sebagai pegawai pabrik di Semarang. Lulusan Pendidikan Biologi yang lebih sering meneliti tingkah laku manusia dibanding tumbuhan. Suka menulis hal-hal ringan tentang kehidupan sehari-hari, terutama soal adaptasi, logat, dan hal-hal kecil yang sering luput tapi lucu.

ArtikelTerkait

Berkendara dari Ngaliyan ke Mranggen di Siang Hari Bisa Bikin Kepala Menguap

Berkendara dari Ngaliyan ke Mranggen di Siang Hari Bisa Bikin Kepala Menguap

27 Agustus 2023
UNNES Semarang Bukan Lagi Tempat yang Ramah buat Mahasiswa Pas-pasan, Kos Mahal, Uang Kuliah Melejit, Gaji Part Time Seuprit Pula makelar kos

Pemilik Kos-kosan di UNNES Geram dengan Kelakuan Makelar Kos yang Setiap Tahun Membuat Trauma Mahasiswa Baru

5 Agustus 2025
Pasar Lerep Semarang: Pasar Tradisional dengan Konsep Go Green

Pasar Lerep Semarang: Pasar Tradisional dengan Konsep Go Green

22 September 2022
Semarang Unggul Jauh dari Surabaya dari sisi BRT (Unsplash)

Cek Fakta! Klaim Surabaya Lebih Unggul dari Semarang Soal BRT Itu Nggak Masuk Akal

25 Juli 2023
4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu Mojok.co

4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu

12 Mei 2026
3 Pekerjaan Paling Menjanjikan di Semarang di Tahun-tahun Mendatang Mojok.co

3 Pekerjaan di Semarang yang Punya Prospek Cerah

10 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

5 Agustus 2026
Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di nikahan desa, tetap saja sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja Mojok.co

Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di hajatan desa, tetap saja muda-mudi sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja

5 Agustus 2026
3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya Mojok.co

3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya

6 Agustus 2026
Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama Mojok.co

Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama

6 Agustus 2026
Nakes vs pasien BPJS sama-sama korban sistem kesehatan (Unsplash)

Nakes vs pasien BPJS terjadi karena sistem kesehatan yang busuk

9 Agustus 2026
Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

9 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.