Lahir dan besar di Jogja membuat saya juga ingin bekerja di Jogja. Bagaimana tidak? Jogja tanpa disadari menjadi zona nyaman bagi akamsi seperti saya. Namun, nasib berkata lain. Saya malah diterima kerja di Gresik, Kota Industri dan Kota Santri.
Akan tetapi, pengalaman kerja di Gresik ini justru banyak menyadarkan saya kalau kerja di Jogja itu nggak baik-baik saja. Kerja di Jogja banyak kekurangannya dibanding Gresik.
Sebagai lulusan Teknik Industri saya bercita-cita kerja di pabrik. Walau tidak mentereng seperti PNS, menurut saya kehidupan di pabrik lebih macho karena sehari-hari bergulat dengan mesin besar dan target yang ketat. Saya sudah melamar ke beberapa pabrik di Jogja, tapi tidak ada yang nyantol.
Berbeda dengan lamaran yang saya kirimkan ke Gresik. Di sana memang ada banyak pabrik dan pusat perkantoran, jadi lebih banyak kesempatan bisa dicoba. Sebut saja pabrik pelat merah seperti Semen Indonesia dan Petrokimia Gresik. Ada juga pabrik perusahaan swasta seperti Mie Sedaap hingga Wilmar.
Mungkin itu mengapa mereka yang ingin bekerja di pabrik seperti saya lebih banyak mengincar pabrik-pabrik di sana. Skala pabriknya yang nggak main sehingga perlu lebih banyak tenaga kerja. Artinya apa? Lebih banyak tenaga kerja yang terserap.
Upah di Gresik lebih mending daripada Jogja
Selain peluang diterima kerja yang lebih besar, Gresik lebih menarik karena upahnya yang lebih tinggi daripada Jogja. Padahal, asal tahu saja, biaya hidup di Jogja itu semakin naik lho, beberapa kebutuhan bahkan bisa menyerupai kota-kota besar.
Sedangkan di Gresik UMR-nya sudah mendekati Surabaya. Tidak besar-besar amat, tapi cukup dan lebih mending dari Jogja. Tidak sia-sia membanting tulang, memeras keringat, berangkat kerja shift-shiftan asalkan masih ada uang mengendap di rekening akhir bulan. Belum lagi kalau sudah punya hutang dan cicilan, nampaknya untuk urusan UMR Gresik lebih rasional daripada Jogja.
Lalu lintas lebih manusiawi
Memang betul di Gresik kita harus berbagi aspal dengan truk kontainer, trailer atau tronton yang mendistribusikan barang jadi dari pabrik. Namun, anehnya, menurut saya, itu lebih mending daripada jalanan Jogja yang bikin pusing. Memang, sehari-hari jarang menghadapi truk, kebanyakan mobil dan motor, tapi kepadatannya minta ampun. Terlebih saat akhir pekan tiba.
Di Gresik lain cerita. Jalan yang padat hanya di sekitar tempat wisata religi seperti Sunan Giri dan Sunan Maulana Malik Ibrahim. Itu pun tidak sepenuh saat akhir pekan di Jogja.
Tulisan ini tidak bermaksud mengagung-agungkan Gresik dan membenci Jogja. Saya cuma ingin memberitahu pembaca sekalian, kalau ingin kerja di pabrik dengan gaji yang lebih baik, mending incar pekerjaan di Gresik saja. Selain kesempatan lebih besar, upah lebih oke, jalanannya terasa lebih masuk akal.
Akan tetapi, itu semua tetap tergantung kondisi masing-masing individu ya. Ada yang mengejar pundi-pundi memang, ada yang tidak. Ada yang mengejar ketenangan dalam bekerja, ada yang tidak. Dan, semua itu tetap patut dipertimbangkan dalam mencari kerja.
Penulis: Arief Nur Hidayat
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Mending Kerja di Bali daripada Jogja, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















