Sebelas Tahun Kerja di Stasiun TV Bikin Saya Punya Tiga Hal Ini

Artikel

Dessy Liestiyani

Pernah ada masa di mana saya nggak bisa rileks saat nonton TV. Bukan karena lagi sariawan, bisulan, putus cinta, atau mikirin utang, tapi sambil nonton tayangan tersebut saya juga membayangkan bagaimana tingkat kesulitan proses produksinya. Mereka-reka kenapa artis A yang dipilih, mereka-reka perubahan wajah pemain sketsa komedi saat membaca arahan kru, sampai menilai sukses atau tidaknya sebuah gimmick ditampilkan.

Kebayang kan, betapa capeknya saya nonton acara TV kala itu. Bisa jadi ini salah satu efek karena saya bekerja selama sebelas tahun di bagian produksi pada dua stasiun TV.

Komen standar saudara dan kerabat begitu tahu saya kerja di stasiun TV adalah, “Kenal sama artis dong.” Laaah, yang namanya program TV pasti ada artisnya kan. Abang bakso yang lagi disyuting pan artis juga.

Beberapa temen kru malah sering mamerin potonya bareng sang artis kalau lagi syuting. Saya kadang kasihan lho sama temen-temen saya itu. Pasti hidupnya sering direcokin dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Waaah, lagi bareng sama Luma Yan ya? Eh, doski sombong nggak?” atau “Eh, emangnya si Rapi’ih beneran pacaran sama Ning-Ning?”

Selain jadi tahu gimana karakter dan pembuktian gosip masing-masing artis, buat saya bekerja sebagai kru produksi memberikan banyak hal yang mengubah pola pikir saya terhadap dunia TV ini. Bikin acara TV itu tidak mudah. Nggak cuma mikirin gimana supaya acara ini bisa memberikan manfaat, tapi juga gimana tampilan dan kemasan yang menarik bagi pemirsa, bukan cuma menurut tim produksinya.

Hal yang saya dapatkan dari kerja di stasiun TV #1 Dipaksa selalu berpikir kreatif

Dalam memproduksi sebuah program acara, industri ini memaksa saya untuk selalu berpikir kreatif. Hal apa yang bikin orang nengok acara ini? Apa kekuatan yang bisa bikin orang mau tetap nonton dan nggak ganti channel sampai acara ini selesai? Apakah artis yang dipakai cukup bisa mengikat pemirsa, atau perlu ditambah gimmick yang terlihat tidak biasa?

Semua pertanyaan tersebut tidak boleh diabaikan oleh tim produksi. Jangan sampai memikirkan konsep yang sulit, tapi malah gagal pada saat eksekusinya. Yang tujuan awalnya mau ngerjain sang artis, jadi nggak tercapai. Lebih baik mencoba kreatif di hal-hal yang sederhana, namun (kalau bisa) belum pernah dilakukan sebelumnya. Contohnya seperti ini.

Bikin konser musik band God Bless, bisa ditambah gimmick puluhan penonton yang menggunakan wig kribo, sesuai dengan model rambut sang vokalis, Achmad Albar. Unsur surprise bisa lebih dapat jika para personel Godbless sendiri tidak mengetahui hal ini sebelumnya. Jadi nggak cuma music show yang ditampilkan dari acara ini, tapi juga ada unsur reality yang menampilkan ekspresi kaget, tertawa, dan mungkin kekesalan sang vokalis karena gayanya sengaja ditiru.

Salah satu hal yang juga sulit adalah bagaimana berpikir kreatif dengan biaya produksi yang minimal. Kalau acara besar seperti ultah stasiun TV, biasanya nggak mikir biaya. Pihak stasiun TV siap jor-joran untuk acara tahunan ini. Umumnya, sponsor pun banyak. Makanya tidak heran, tampilan acara ultah TV terlihat mewah, melibatkan puluhan artis top, atau menggunakan properti yang susah dan mahal.

Justru karena nggak semua program bermodal besar atau mendapat sponsor itulah dituntut kreativitas dari tim produksi untuk mewujudkan program sederhana yang bisa sukses.

Hal yang saya dapatkan dari kerja di stasiun TV #2 Terbiasa kerja keras nggak kenal waktu

Sejak tanda tangan pertama kali ditorehkan di kertas kontrak, bayangan pekerja kantoran yang datang jam 9 pagi pulang jam 5 sore gugur sudah. Dunia TV ini memaksa produktivitas saya jauh melebihi jam kerja pada umumnya. Datang jam 9 pagi, paling cepat saya pulang jam 7 malam. Itu juga jarang sekali terjadi. Umumnya saya pulang sekitar jam 9 malam. Sesekali saya pulang jam 5 pagi karena adanya syuting yang dilanjutkan dengan proses penyuntingan. Tak terelakkan, kantor pun akhirnya menjadi rumah kedua saya.

Kalau bagian pemberitaan (news) mungkin masih bisa dimaklumi karena yang namanya breaking news kan bisa terjadi kapan saja ya. Tapi kalau orang produksi, masak sih kerjanya nggak kenal waktu juga?

Umumnya persiapan syuting itu dilakukan antara 2-6 jam sebelumnya, tergantung tingkat kesulitan produksinya. Beberapa kali saya mengerjakan program kuis sahur yang tayang live 3 menit setiap jam 4 pagi. Rutinitas saya kala itu adalah berangkat ke kantor jam 1 pagi untuk persiapan kuis, pulang dari kantor jam 5 pagi, jam 11 siang kembali ke kantor bekerja sampai jam 7 atau 8 malam. Nonstop seperti itu selama sebulan Ramadan.

Bulan Ramadan biasanya emang bikin orang produksi lebih sibuk dari biasanya. Berbagai program Ramadan mulai dari spesial sahur, kultum, tablig akbar, sampai menjelang berbuka, biasanya benar-benar menguras tenaga. Ditambah siangnya harus menjalani ibadah puasa. Alhasil, sahur bareng keluarga atau bukber bareng konco jadi cuma impian.

Terbiasa bekerja tanpa kenal waktu ini ternyata menjadi “modal” di kehidupan saya kemudian hari. Hal ini membuat saya tidak mudah lelah dalam menyelesaikan pekerjaan, karena fisik saya sudah terbiasa untuk bekerja dan berpikir sampai larut malam.

Hal yang saya dapatkan dari kerja di stasiun TV #3 Tahu kesalahan-kesalahan teknis saat jadi pemirsa

Sebagai pemirsa yang mantan kru TV, saya tidak hanya mengetahui kesalahan-kesalahan teknis acara TV yang saya tonton, tapi juga gimmick yang tidak sesuai dengan rencana. Misalnya, tayangan yang tiba-tiba nge-black alias ilang di tengah program, audio talent yang mati, atau host yang mengulur-ulur waktu karena artis yang akan tampil belum siap, dll.

Selain itu saya juga bisa tahu kalau ada eksekusi gimmick yang gagal atau tidak sesuai yang diharapkan. Misalnya, skrip pengantar host yang nggak sinkron dengan tayangan videonya, ekspresi bintang tamu yang nggak nyaman dengan surprise dari host sehingga di segmen berikutnya sang bintang tamu tiba-tiba ilang tanpa say goodbye. Hahaha….

Dunia TV sendiri sebenarnya sudah saya tinggalkan tujuh tahun ini. Saya juga udah nggak terlalu bawel kalau nonton acara TV. “Kok begini?”, “Kok begitu?”, “Waduh, nggak nyambung!”, “Yaaah, garing”, “Laah artisnya kok ngilang?”, “Ah, nggak kontinyuiti. Tadi kan antingnya di kuping kanan, kok sekarang di kuping kiri?”. Itu adalah sederet kalimat yang sudah saya tinggalin jauh-jauh dari benak saya setiap kali saya nonton TV. Gantian sekarang saya yang ngetawain gimmick-gimmick yang gagal di TV. Pan sekarang saya pemirsa. Bebas aja dong. Hahaha.

BACA JUGA Cerita Pensiunan Penonton Bayaran tentang Profesi Penonton Bayaran Televisi dan tulisan Dessy Liestiyani lainnya.

Baca Juga:  ASN yang Rajin Itu Bukan Prestasi, tapi Bunuh Diri

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
12


Komentar

Comments are closed.