Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Flores Nggak Perlu Diromantisasi, Nggak Bakalan Bisa!

Alexandros Ngala Solo Wea oleh Alexandros Ngala Solo Wea
13 April 2023
A A
Flores Nggak Perlu Diromantisasi, Nggak Bakalan Bisa!

Flores Nggak Perlu Diromantisasi, Nggak Bakalan Bisa! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Berbicara mengenai romantisasi kota, semua mata pasti akan tertuju ke arah Jogjakarta dan Bandung. Jogjakarta dengan romantisasi angkringannya atau Bandung dengan romantisasi Dago atau Buah Batu. Selain Jogja dan Bandung beberapa orang akan mengatakan kota lain yang bisa diromantisasi juga seperti Bali, Solo, atau Malang.

Setelah saya membaca beberapa artikel, saya menarik kesimpulan bahwa Jogjakarta dan Bandung memiliki satu persamaan sehingga bisa menjadi kota yang diromantisasi. Yaitu karena sama-sama memiliki destinasi wisata yang banyak dengan nuansa yang adem dan syahdu.

ADVERTISEMENT

Jika faktor destinasi wisata bisa menjadi alasan kuat suatu daerah bisa diromantisasi, Flores pun sebenarnya bisa diromantisasi ala-ala Jogjakarta dan Bandung. Sebab, Flores memiliki banyak tempat destinasi wisata yang seksi. Suasana Flores yang hening dan syaduh juga mendukung untuk diromantisasi. Selain itu juga, eksotisme Pulau Flores juga akan sedikit menggodamu untuk mengunjungi. Akan tetapi, tidak semudah itu ferguso untuk meromantisasi suatu daerah seperti Jogjakarta atau Bandung.

Setelah merenung dan mengheningkan cipta di meja kerja, saya pun mencoba berselancar di Mbak Google untuk mencari-cari artikel ataupun tulisan orang lain terkait dengan romantisasi Flores untuk mendukung tulisan saya ini.

Dan hasilnya adalah… zonk. Sekalipun ada beritanya hanya berisi romantisnya senja di Labuan Bajo. Akan tetapi yang perlu kita ketahui bersama adalah Flores bukan cuman tentang Labuan Bajo. Ada banyak hal di Flores yang tidak serta merta dapat diromantisasi.

Berikut beberapa alasan kenapa Flores tidak mudah diromantisasi seperti Jogjakarta dan Bandung.

Lokasi dan jarak tempuh yang sulit

Flores memiliki topografi yang “sedikit” berat untuk dijelajahi. Hampir di setiap daerah yang ada di Pulau Flores memiliki paling tidak satu tempat wisata yang menyajikan pemandangan dan spot foto yang cantik nan Instagrammable dan Facebookable bagi para wisatawan yang berkunjung.

Akan tetapi untuk sampai ke tempat tersebut dibutuhkan waktu dan tenaga extra. Salah satu contohnya adalah Desa Wisata Wae Rebo yang ada di Manggarai yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi para traveler. Untuk sampai ke Desa Waerebo, para pengunjungnya harus tracking dan memakan waktu sekitar 60 menitan dengan medan yang sulit karena mendaki dan licin tanahnya karena lembab.

Baca Juga:

Modal 20 ribu rupiah, kamu bisa makan tiga kali sehari di Ngaglik, Jogjakarta

Saya gagal kerja di Bandung dan Jakarta karena terhalang restu orang tua, kadang sedih, tapi sudah bisa menerima takdir

Coba bayangkan, kamu dan pasanganmu menuju ke lokasi wisata dengan melewati jarak dan medan yang begitu rumit dan menghabiskan banyak tenaga sehingga membuat kamu ngos-ngosan. Apakah kamu masih sempat untuk ayang-ayangan sama pasangan kamu? Kalau saya sih mendingan istirahat biar pegal-pegalnya hilang lalu menikmati pemandangannya. Daripada meromantisasi situasinya dengan puisi dan lagu dalam kondisi capek suluruh badan.

Tidak banyak seniman

Seniman menjadi garda terdepan perihal romantisasi suatu tempat atau suatu momen tertentu. Hal inilah yang mungkin menjadi salah satu alasan kenapa Bandung dan Jogjakarta bisa diromatisasi. Pidi Baiq dan Fiersa Besari yang meromantisasi Bandung melalui puisi dan lagu serta Pakde Nasirun yang meromantisasi Jogjakarta melalui lukisannya.

ADVERTISEMENT

Nah, di Flores tidak banyak seniman terkenal yang menciptakan puisi atau lagu romantis lalu diviralkan oleh kaum-kaum kasmaran. Sehingga kadar romantisme daerah Flores ya tetap gitu-gitu aja. Musisi-musisi lokal yang ada di Flores lebih banyak menciptakan lagu-lagu daerah yang menceritakan kehidupan masyarakat sekitar. Kalau nggak ya menciptakan lagu-lagu daerah yang enak untuk dijogetin di dalam tenda pesta. Hal ini menunjukan bahwa di Flores, lagu-lagu pesta yang baru dan enak untuk dijogetin lebih dibutuhkan daripada lagu romantis.

Semakin ke Timur, semakin kasar

Flores merupakan salah satu bagian dari Indonesia Timur. Semakin ke Timur maka intonasi dan gaya bicara semakin kasar kedengarannya. Stigma negatif yang sudah terlanjur melekat pada orang-orang Timur bahwa orang Timur itu keras dan kasar berimbas juga bagi orang Flores.

Berbeda dengan orang-orang di Jogjakarta yang (terkenal) lemah lembut seperti yang dikatakan orang-orang. Sehingga selaras antara sisi romantisme kota Jogjakarta dengan karakter orang-orangnya.

Nah, susah meromantisasi Flores jika stigma ini terus-terus melekat dengan orang Timur. Sehingga membuat orang-orang untuk berkawan saja masih memiliki rasa takut. Ditambah lagi dengan perawakan khas orang timur yaitu kulit hitam, rambut kriting, dan mata merah menyala seperti materi stand up komedi Bang Arie Kriting.

Nah, inilah beberapa alasan menurut saya kenapa tidak semua tempat itu bisa diromantisasi seperti Jogja dan Bandung. Flores tidak bisa serta merta diromantisasi dengan puisi dan lagu.

Tapi, kayaknya nggak perlu diromantisasi pun, orang kayaknya setuju kalau Flores itu indahnya bukan main. Betul apa betul banget?

Penulis: Alexandros Ngala Solo Wea
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Bisakah Kita Menciptakan Ramadan Tanpa Petasan?

ADVERTISEMENT

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 April 2023 oleh

Tags: BandungFloresJogjaromantisasisolo
Alexandros Ngala Solo Wea

Alexandros Ngala Solo Wea

Laki-Laki asal Indonesia Timur (Flores). Menaruh perhatian pada isu-isu di Indonesia Bagian Tumur.

ArtikelTerkait

Circle K Lempuyangan, Tempat Ngedate Underrated di Jogja, Bisa Deep Talk Tanpa Bikin Dompet Boncos! warung madura

Circle K Lempuyangan, Tempat Ngedate Underrated di Jogja, Bisa Deep Talk Tanpa Bikin Dompet Boncos!

10 Juli 2024
Surakarta, Kota yang Pandai Mematahkan Harapan Orang (Unsplash)

Buat Saya, Surakarta Nggak Seindah Kata Orang. Kotanya Panas, Pengendaranya Ngawur

7 September 2024
4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

Sebagai Warga Jogja, Saya Punya Empat Permintaan Kecil untuk Pendatang agar Bisa Beradaptasi dengan Baik

8 Juni 2026
Membayangkan Teras Cikapundung Bandung kalau Dirawat Lebih Serius oleh Pemkot Mojok.co

Membayangkan Teras Cikapundung Bandung kalau Dirawat Lebih Serius oleh Pemkot

13 Mei 2024
Surat Terbuka untuk Pembenci Perantau di Jogja: Hanya Dhemit yang “Pribumi Jogja”, Kalian Bukan! konten kreator jogja

Hanya Ada 2 Tipe Orang yang Bisa Menetap di Jogja, yaitu Orang yang Berjiwa Wirausaha atau Orang yang Nggak Butuh Duit

31 Mei 2025
Loji Papak Boyolali yang Tersembunyi, Indah, Sekaligus Mencekam (Unsplash)

Loji Papak: Rahasia Kekayaan Sejarah Boyolali yang Mampu Memacu Nyali dan Adrenalin Pengunjung karena Aura Mistisnya

11 Februari 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Tegalrejo, kecamatan uderrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita Mojok.co

Tegalrejo, kecamatan underrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita

20 Agustus 2026
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini Mojok.co

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini 

22 Agustus 2026
Stasiun Gubeng Surabaya, stasiun paling membingungkan dan menyebalkan

Stasiun Gubeng Surabaya, stasiun paling membingungkan dan menyebalkan

20 Agustus 2026
Gen Z lanjut S2 bukan karena ambisi, tapi patah hati (Unsplash)

Banyak Gen Z lanjut S2 bukan karena gelar dan ambisi, tapi karena patah hati dan bingung mau ngapain lagi

20 Agustus 2026
Seminar perencanaan keuangan nggak guna selama nggak punya duitnya Mojok.co

Seminar perencanaan keuangan nggak guna selama nggak punya duitnya

24 Agustus 2026
Cengkareng, tempat kumpul banjir, macet, lawan arah, dan kekacauan

Cengkareng, tempat kumpul banjir, macet, lawan arah, dan kekacauan

22 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.