Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Sinetron Kolosal Punya Level Kreativitas di Luar Nalar

Muhammad Arsyad oleh Muhammad Arsyad
14 November 2020
A A
Sinetron Kolosal Punya Level Kreativitas di Luar Nalar terminal mojok.co

Sinetron Kolosal Punya Level Kreativitas di Luar Nalar terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau ingatan saya tidak berkhianat, dulu saya pernah menulis, penulis skenario sinetron layak disematkan sebagai orang paling kreatif. Pasalnya tayangan sinetron sungguh kreatif. Namun, kalau boleh merevisi sedikit, saya akan mengerucutkan bahwa tayangan sinetron kolosal lebih layak disebut tayangan kreatif.

Selama ini, sebagai penonton setia sinetron, saya mengamati sinetron-sinetron Indonesia ini terbagi menjadi beberapa tema yang diangkat. Keagamaan, hubungan pranikah atau pacaran, hubungan pernikahan, azab, kolosal, dan tren terbaru yaitu sinetron komedi (sitkom). Namun, di antara sinetron-sinetron yang saya sebutkan itu, yang paling layak dinobatkan sebagai tayangan paling kreatif adalah sinetron kolosal.

Sejauh ini, industri pertelevisian Indonesia sering mendapat hujatan dari masyarakat negeri +62. Tayangan-tayangan yang disiarkan dan program-program yang disuguhkan sama sekali tidak menunjukkan bahwa insan televisi punya kreativitas. Sampai hari ini bahkan kita melihat bagaimana menjamurnya tayangan televisi yang kontennya cuma mencomot dari media sosial macam TikTok ataupun YouTube.

Nah, kehadiran sinetron kolosal membawa angin segar di kancah persinetronan tanah air. Ia hadir di tengah dominasi sinetron bernuansa cinta dan keagamaan. Menjelma sesuatu yang pelan-pelan menjadi tren.

Saya nggak tahu apa yang ada di benak para produser sinetron tanah air. Bisa-bisanya kepikiran untuk membuat cerita sejarah yang kadang berupa mitos dan cerita tutur, dibikin serial. Mungkin ide sinetron kolosal ini terinspirasi dari sandiwara radio.

Produser program televisi mungkin mengira di radio saja kisah-kisah sejarah, mitos, legenda, cerita tutur, dan semacamnya bisa dibikin series. Bahkan bisa berepisode-episode. Lalu, mengapa televisi nggak bisa begitu?

Kemudian lahirlah sinetron kolosal, yang kalau dalam penyebutan saya itu malah kayak adaptasi dari sandiwara radio. Misalnya, sinetron kolosal Tutur Tinular, Saur Sepuh, Misteri Gunung Merapi, dan yang lainnya. Tentu televisi tidak sepenuhnya menjiplak sandiwara radio. Ada beberapa bagian yang mungkin saja dihilangkan, atau beberapa adegan yang ditambahi.

Di situlah letak kreativitasnya. Produser, sutradara, dan penulis skenario sinetron kolosal jelas bukanlah orang yang sembarangan. Mereka bisa jadi berasal dari orang-orang yang punya kreativitas di luar kewajaran orang normal.

Baca Juga:

5 Acara Kuis Paling Dikenang Tahun 90-an dan 2000-an

Kiat Menjadi Pria Idaman kayak Abdullah Rendy di ‘Ikatan Cinta’

Di luar sinetron bertemakan kolosal, memang ada tayangan-tayangan yang kreativitasnya nyaris di luar kewajaran. Misalnya boneka Hello Kitty yang nggak salah apa-apa direbus. Konyol memang. Tapi, itu masih dalam satu ruang dan waktu yang sama. Soalnya adegan perebusan boneka itu lokasinya di rumah dan tidak ada yang aneh dengan keberadaan boneka di situ.

Sinetron kolosal jauh lebih kreatif dari itu. Mereka kadang melompat sampai ke luar dimensi dan waktu. Saya pernah menonton tayangan kalau nggak salah judulnya Misteri Gunung Merapi.

Tampilan awalnya memang menggetarkan, seolah-olah di-setting supaya penonton terbawa suasana zaman dulu. Semua tokohnya memakai pakaian jauh sebelum tren celana jeans, laiknya pendekar kuno. Situasi perkelahian dibuat seakan di tengah hutan. Namun, tiba-tiba muncul adegan yang aneh.

Imajinasi saya yang sudah diatur ke era Mak Lampir mendadak sirna setelah melihat jalanan beraspal di dalam salah satu adegannya. Ini seolah menabrakkan dua zaman yang berbeda. Entah apa yang ada di benak para kru dan kreatif sehingga ada aspal di semesta Mak Lampir.

Saya belum pernah menemukan imajinasi yang melewati batas ruang dan waktu seperti itu. Bahkan imajinasi itu pun ditampilkan. Memaksa penonton menerimanya dengan lapang dada tanpa bisa protes.

Selain itu, efek jurus di sinetron kolosal patut menjadi alasan berikutnya. Jika Marvel punya Doctor Strange dengan efek sihir yang memukau, Jepang punya Naruto dengan efek jutsu yang ciamik, Indonesia punya sinetron kolosal dengan efek jurusnya yang tak kalah keren.

Bukan cuma ledakan, api, atau getaran tanah, tapi lebih dari itu. Saya ambil contoh sinetron Raden Kian Santang yang sekarang berganti judul menjadi Kembalinya Raden Kian Santang. Selain punya jalan cerita yang bertolak belakang dengan judul, sinetron satu ini punya efek jurus bermacam-macam.

Berbentuk cahaya lingkaran, efek menembus tanah dengan angin puting beliung, halilintar, dan yang paling ikonik: efek warga mondar-mandir saat jurus pamungkas di keluarkan. Orang yang belajar seni pun belum tentu berimajinasi demikian. Mengeluarkan jurus pamungkas bisa membuat penduduk—yang nggak tahu dari mana—kocar-kacir.

Kreativitas sinetron kolosal tak cuma dari segi visualnya, tapi juga dari segi cerita. Kalau semisal pemeran salah satu tokoh di cerita tak bisa lagi shooting, tentu penulis skenarionya harus memutar otak. Mau tak mau, kreativitas diuji lagi.

Penonton akan terkejut dan protes jika tiba-tiba salah satu tokohnya diperankan oleh orang yang berbeda. Hal itu disiasati si penulis naskahnya dengan menambahkan cerita, entah tokohnya dibikin kena kutukan atau wajahnya sengaja ditukar karena satu hal. Padahal, kalau dibaca ceritanya lewat buku atau apa pun nggak ada tuh perubahan wajah dari Prabu Siliwangi, Raden Surawisesa, atau Raden Walang Sungsang.

Dalam sinetron kolosal, kita juga sering ditunjukkan hal-hal yang sebenarnya simpel tapi dibikin rumit. Perkara memberi kabar atau surat menyurat misalnya.

Saking kreatifnya, untuk memberikan kabar penyerangan musuh, prajurit yang ditugaskan menjaga perbatasan wilayah harus naik kuda dulu menghadap sang raja. Ealah… baru sampai istana, musuh sudah merangsek ke istana, wagu banget. Padahal memberikan sinyal dari jarak jauh pun bisa. Nggak mungkin orang kerajaan, sekelas prajurit segoblok itu.

Lagi, dalam satu kesempatan diperlihatkan seorang pendekar punya kemampuan menghilang dari satu tempat ke tempat lain. Simpelnya kayak jurus Hiraishin-nya Hokage Keempat.

Namun, karena saya bilang sinetron kolosal adalah tayangan paling kreatif, nggak mungkin dong untuk berpindah tempat hanya dengan metode menghilang. Alhasil, untuk menuju satu perkampungan ke perkampungan lain si pendekar yang punya mantra menghilang tadi menaiki kuda. Percuma ya jurusnya? Nggak lah, ini namanya kreatif.

Dari apa yang saya tulis ini, saya yakin industri televisi tanah air tak kehilangan sedikit pun kreativitas. Justru insan-insan televisi ini kalau diuji, mereka jauh lebih kreatif daripada Youtuber. Akhirul kalam, saya berpesan pada saudara-saudara, jangan sekali-kali ngatain televisi kita miskin ide. Miskin rasional, iya.

BACA JUGA Pengendara Mobil Kadang Lebih Sembarangan daripada Pengendara Motor dan tulisan Muhammad Arsyad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 November 2020 oleh

Tags: program televisireview sinetron
Muhammad Arsyad

Muhammad Arsyad

Warga pesisir Kota Pekalongan, penggemar Manchester United meski jarang menonton pertandingan. Gemar membaca buku, dan bisa disapa di Instagram @moeharsyadd.

ArtikelTerkait

Sinetron dan Reality Show Settingan Adalah Penyelamat Televisi terminal mojok.co

Sinetron dan Reality Show Settingan Adalah Penyelamat Televisi

17 Januari 2021
atun trombon tanjidor terompet si doel anak sekolahan episode 5 musim 2 sinopsis jalan cerita mojok.co

Si Doel Anak Sekolahan Episode 5, Musim 2: Awal Kisah Terompet Tanjidor Bisa Ada di Rumah Doel

8 Juni 2020
Lirik Lagu Jamrud 'Kau dan Ibumu’ Nyuruh Kita Jangan Nangis, tapi Saya Malah Mewek mojok.co/terminal

Si Doel Anak Sekolahan Episode 25, Musim 3: Roy Mempermalukan Doel

1 Agustus 2020
si doel anak sekolahan episode 33 musim 3 munaroh dan nunung mojok.co

Si Doel Anak Sekolahan Episode 33, Musim 3: Konspirasi Munaroh dan Zaenab

13 Agustus 2020
5 Lokasi Shooting Sinetron Indonesia yang Monoton dan Tidak Kreatif terminal mojok.co

5 Lokasi Shooting Sinetron Indonesia yang Monoton

10 Januari 2021
sinopsis preman pensiun episode 1 musim 1 mojok.co preman pensiun episode 2 preman pensiun episode 3 episode 4 episode 5 episode 8 episode 10 episode 19 kang bahar

Pensiun Pensiun Episode 16, Musim 1: Jamal Mulai Kesal Dipermainkan Kang Mus

10 Juni 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasib Peterongan Semarang: Dulu Pusat Cuan, Sekarang Terancam Jadi Kawasan Kumuh

Nasib Peterongan Semarang: Dulu Pusat Cuan, Sekarang Terancam Jadi Kawasan Kumuh

21 Mei 2026
Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

15 Mei 2026
Penjilat Atasan Adalah Borok dalam Dunia Kerja yang Bikin Pekerja Keras Tersingkir dan Menderita Mojok.co

Penjilat Atasan Adalah Borok dalam Kantor yang Bikin Pekerja Lain Tersingkir dan Menderita

21 Mei 2026
Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

18 Mei 2026
8 Tipe Pengguna Toilet Mal Paling Red Flag di Mata Cleaning Service, Semoga Kalian Bukan Salah Satunya Mojok.co

8 Tipe Pengguna Toilet Mal Paling Red Flag di Mata Cleaning Service, Semoga Kalian Bukan Salah Satunya

19 Mei 2026
Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal Mojok.co

Masalah Utama Tulungagung Bukan Wisata, tapi Tradisi Korupsi di Kursi Bupati

19 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.