Susahnya Dianggap Kaya Hanya karena Punya Mobil Kreditan – Terminal Mojok

Susahnya Dianggap Kaya Hanya karena Punya Mobil Kreditan

Artikel

Avatar

Siapa yang tidak senang mempunyai mobil sendiri? Mau kemana-mana bebas, nggak perlu ngantri naik ojek atau angkutan umum. Kalau panas nggak lagi kepanasan, hujan juga nggak kehujanan. Selain itu status saya juga naik menjadi orang kaya. Sayangnya itu hanya anggapan orang karena aslinya saya hanya orang biasa. Jadi orang kaya memang nikmat dunia, tapi kalau cuma dianggap kaya karena beli mobil kreditan, itu pahitnya dunia.

Sebenarnya saya tidak pernah punya niatan untuk dianggap kaya, tapi sudah telanjur. Saya pikir orang-orang ini sungguh aneh, anggapan tersebut muncul hanya karena saya membeli mobil. Padahal niatan untuk membeli mobil adalah karena kebutuhan, bahkan rumah yang saya tinggali pun bukan rumah saya sendiri alias ngontrak.

Kalau melihat gaji saya tentu sangat tidak cukup untuk membeli mobil yang telah membuat saya dianggap kaya tersebut. Saya mendapatkannya dari hasil kredit yang cicilan tiap bulannya membuat saya harus super duper irit. Bahkan untuk makan saja harus pilih-pilih makanan yang sesuai kantong. Nguenesss kan!

Mendapatkan kenyamanan karena membeli kendaraan ternyata tidak lantas menjadikan pikiran juga nyaman. Cicilan setiap bulan yang sungguh menguras gaji membuat saya tidak sanggup untuk menjalani hidup seperti orang kaya. Misalnya makan enak, shopping semaunya, dan bebas mencari hiburan. Masalah yang lebih besar adalah bagaimana orang lain yang hanya melihat saya dari luar. Mereka menganggap saya kaya, bahkan mereka tak terima kalau saya jelaskan yang sesungguhnya. Please deh, masa cuma bisa beli mobil saja dianggap kaya?

Anggapan orang-orang ini sungguh mendatangkan kesusahan yang membuat saya menyesal membeli mobil. Bayangkan, gara-gara “tuduhan” salah kaprah itu, ada banyak hal yang membuat saya serba salah dalam menjalani hidup.

#1 Dikatai pelit padahal cuma pengin irit

Seandainya orang-orang tahu, sungguh menyakitkan dikatain pelit. Tapi, mau bagaimana lagi, sudah protes berulang kali, tapi tetap saja mereka berkomentar sama. Sebenarnya sudah berusaha cuek, toh perilaku irit yang saya terapkan juga tidak merugikan mereka. Justru bahaya kalau sampai uang gaji saya kurang di akhir bulan, mereka pasti juga tidak akan memberi pinjaman.

Beginilah nasib dianggap kaya, pengin tampil apa adanya dengan memakai kaos oblong dan sandal jepit aja kok ada saja yang ngomong “Wah penampilanmu gak pantes bawa mobil.” Padahal sudah dijelaskan berkali-kali bahwa uang yang buat “beli penampilan” itu sudah buat bayar cicilan mobil.

#2 Susahnya disuruh bayar saat makan bareng padahal aslinya bokek

Sebenarnya setelah membeli mobil, hal yang paling saya hindari adalah makan di luar. Makan di luar sendiri saja saya hindari, apalagi kalau diajak makan rame-rame. Saya selalu berusaha mencari alasan yang logis untuk menghindar. Hal tersebut disebabkan setiap makan bareng pasti saya yang selalu ditodong untuk membayar.

Kawan-kawan saya beralasan, saya yang paling kaya karena sudah mampu membeli mobil sendiri. Bayangkan, uang untuk mentraktir 5 teman sekali makan di restoran itu bisa untuk makan lima hari kalau makan di rumah. Tentunya dengan sedikit bersusah payah memasak sendiri.

#3 Susahnya jadi tempat berutang tanpa bunga meski hidupnya sendiri pas-pasan

Sebelum mempunyai mobil, ada satu atau dua orang yang berutang dan saya cukup menjawabnya dengan: maaf saya tidak bisa. Setelah mempunyai mobil ternyata jawaban tersebut tidak cukup ampuh, mereka biasanya mementahkan jawaban saya dengan menimpali: masa bisa beli mobil nggak punya uang? Padahal soal utang piutang ini sungguh masalah yang sangat menyebalkan. Pas mau hutang mah mohon-mohon sampai ada juga yang nangis, tapi pas ditagih cueknya minta ampun. Seolah saya itu nggak butuh uang, padahal untuk hidup saja pas-pasan.

#4 Susahnya jalan rame-rame tapi nggak ada yang bayar uang bensin kecuali yang punya mobil

Semua pasti suka liburan, apa lagi jalan rame-rame. Liburan sangat berguna untuk mengusir penat setelah berhari-hari disibukkan dengan pekerjaan. Pada akhir pekan pasti ada saja yang nodong jalan-jalan menggunakan mobil dan pastilah mobil cicilan saya yang dipilih. Saya sih nggak apa-apa kalau uang bensinnya ditanggung bersama, tapi seringnya selain menjadi sopir gratisan, saya juga harus membayar biaya bensinnya. Walah dalah punya mobil kok susah. Padahal punya mobil nggak seharusnya jadi tanda otomatis seseorang dianggap kaya. Belum juga tahu bagaimana susahnya membayar kreditnya. Hadeeeh.

BACA JUGA Kata Orang Singapura, Orang Indonesia Mendadak Religius Saat Naik Pesawat

Baca Juga:  Level Sombong Ultimate: Nggak Mau Turun Mobil Pas Beli Roti Bakar
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
3


Komentar

Comments are closed.