Jangan Jadikan Ritual Minta Bunga sebagai Kebiasaan Sepulang Bertamu – Terminal Mojok

Jangan Jadikan Ritual Minta Bunga sebagai Kebiasaan Sepulang Bertamu

Artikel

Reni Soengkunie

Belum lama ini ibu saya yang tinggal di kampung, menelpon saya. Beliau curhat kalau tanaman hias di pekarangan rumah “dijarah” oleh beberapa tamu. Jadi, tamu itu adalah teman-teman pakde saya. Beliau kebetulan tengah piknik ke Jogja dan kemudian mengajak teman-temannya itu untuk mampir ke rumah adiknya alias bapak saya.

Sepulang bertamu tersebut para ibu-ibu kota ini kemudian meminta tanaman hias yang ditanam ibu di halaman. Tamu itu sekitaran sepuluh orang dan semuanya itu meminta sekitar 2-4 jenis tanaman. Ibu saya mau menolak nggak enak karena mereka itu teman-teman pakde saya. Sehingga ibu hanya bisa sambat di telepon sama saya.

Sebenarnya untuk bunga-bunga yang mudah pembibitannya, ibu sering membagikan secara cuma-cuma. Hanya saja, kadang ada beberapa tamu yang suka memilih sendiri bunga yang ingin mereka minta. Mending kalau jumlahnya ada banyak. Pernah waktu itu, anggrek hitam ibu yang hanya ada satu biji, diminta sama saudara. Ibu saya kebetulan sedang nggak ada di rumah, sehingga bapak mengiyakan saja permintaan itu. Toh, ibu saya tiap kali diminta bunganya oleh orang selalu mengiyakan ini. Padahal di balik kisah bunga itu, ibu sudah merawat bunga tersebut selama sepuluh tahun untuk melihat si anggrek hitam berbunga. Gara-gara itu, ibu nggak berhenti mengomel.

Kejadian semacam ini sebenarnya sangat lazim terjadi dan semua orang rentan mengalaminya. Saya sendiri juga gitu, kok. Nggak cuma sekali dua kali tamu-tamu yang merupakan teman suami, sangat sering minta tanaman hias di taman depan rumah. Mereka biasanya saat datang sudah memantau dulu. Melihat-lihat taman dan mengamati tanaman apa saja yang ada. Nah, kemudian setelah keperluan selesai, biasanya sebagai tuan rumah tentu kami mengantar mereka keluar rumah. Pada saat itulah momen di mana para tamu mengutarakan keinginannya untuk meminta bunga.

Baik saya dan suami, sama-sama dua manusia yang nggak enakan. Jadi, mau nggak mau yah mengiyakan saja permintaan tersebut. Walau dalam hati rasanya nano-nano. Kalau saya sudah menunjukan tanda-tanda akan marah, biasanya suami bakal bilang, “Yaudah, nggak apa-apa besok beli lagi aja. Nanti aku ganti bungamu, ya.”

Kadang yang bikin saya heran itu, kenapa gitu ada orang yang minta tanaman hias padahal dia sudah tahu item itu hanya ada satu doang. Kalau ada banyak, mah, saya nggak masalah. Lah, ini cuma ada satu pot doang, eh kok ya diminta. Akhirnya harus beli lagi deh tanaman yang serupa.

Ini bukan perkara ikhlas atau nggak ikhlas, tapi bagi sebagian orang yang suka berkebun, tanaman itu sudah dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan di hidupnya. Bukan masalah uangnya, ya. Mungkin untuk tanaman hias tertentu, harganya nggak seberapa, tapi karena setiap hari kita merawatnya, menyiraminya, memupuknya, dan melihat pertumbuhannya dari hari ke hari, tentu akan meninggalkan kesan tersendiri.

Coba tanya saja sama para pecinta buku. Gimana perasaannya kalau ada orang yang meminta bukunya. Jangankan diminta, dipinjam tapi pulang dalam keadaan cacat saja rasanya pasti sakit hati, kan? Ingat, ini bukan masalah harganya, ya. Kadang beberapa pecinta buku justru rela memberikan buku baru pada orang lain, ketimbang bukunya dipinjam. Gimana sih rasanya kita sayang sama sesuatu, tuh.

Selama pandemi ini, entah mengapa orang-orang jadi keranjingan bercocok tanam. Mereka jadi gemar membeli tanaman hias dan memamerkan kinerjanya dalam merawat tanaman hias. Bahkan tanaman jenis talas yang banyak dijumpai di tepi sungai, kini jadi primadona yang diminati banyak orang dengan harga yang lumayan tinggi.

Ritual meminta tanaman hias sepulang dari bertamu ini ternyata juga semakin meningkat. Saya membaca di story teman-teman saya, banyak sekali dari teman saya yang mengeluh karena orang-orang semakin gencar dalam meminta koleksi tanaman hiasnya. Bahkan tak sedikit orang yang meluangkan waktu untuk bertamu dengan tujuan mau minta tanaman hiasnya, doang.

Sekali lagi, ini bukan masalah harga tanaman tersebut. Kadang saya sendiri, jika memiliki banyak tanaman hias dengan jenis yang serupa, saya akan baik-baik saja untuk membagikan pada para teman atau tamu yang datang. Tanpa mereka minta pun, saya biasanya sudah menawarinya terlebih dahulu. Hanya saja, tolong dong, jangan minta tanaman hias yang limited edition gitu. Pahamilah, tidak semua tuan rumah itu punya nyali buat menolak. Terlebih bagi manusia-manusia ‘nggak enakan’ kayak saya ini.

BACA JUGA Bocoran 5 Tanaman Hias Paling Banyak Diburu Belakangan Ini dan tulisan Reni Soengkunie lainnya.

Baca Juga:  Menunggu Penjelasan Ariel Heryanto yang Suka Upload Bunga di Media Sosial
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
20


Komentar

Comments are closed.