Marketplace Shopee Ternyata Sarangnya Orang-orang Minim Literasi – Terminal Mojok

Marketplace Shopee Ternyata Sarangnya Orang-orang Minim Literasi

Artikel

Jasmine Nadiah Aurin

Harbolnas alias Hari Belanja Online Nasional 11.11 telah berlangsung beberapa hari kemarin. Acara menghabiskan uang se-nasional dengan diskon besar-besaran dan gratis ongkir ini diadakan oleh sejumlah marketplace. Dilansir dari beberapa situs, marketplace yang turut memeriahkan pesta hedonisme antara lain Shopee, Lazada, Bukalapak, Tokopedia, JD.ID, Zalora, dan Blibli.com. Iklan-iklan berhiaskan wajah artis Korea pun kerap bermunculan di TV seperti Lee Minho dan Stray Kids. Agar terlihat semakin menarik, artis-artis Korea ini “disuruh” berbicara bahasa Indonesia.

Harbolnas memang nggak hanya diadakan pada 11 November, bahkan sebulan sekali pun selalu ada diskon besar-besaran yang diadakan oleh marketplace terutama Shopee, si oren setan yang selalu berhasil menggoyahkan keimanan seseorang dalam menahan hasrat berbelanja. Bagaimana tidak, Shopee dinobatkan sebagai marketplace nomor 1 di Indonesia meski pendirinya bukanlah orang Indonesia. Shopee memang rajin banget ngasih voucher gratis ongkir dan senantiasa menyediakan barang-barang dengan harga miring.

Melihat fenomena hedonisme dan kapitalisme yang mudah sekali ditemukan di marketplace, saya yakin orang yang doyan belanja di Shopee itu antara memang duitnya banyak atau termasuk ke dalam golongan BPJS (Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita). Nah, seseorang dengan penghasilan berlebih tentu (biasanya) diiringi dengan wawasan yang lumayan mumpuni atau mumpuni banget karena sudah pasti memiliki pekerjaan yang nggak ecek-ecek. Lha iya, bisa belanja banyak begitu dari mana coba uangnya? Kecuali kalau hasil memelihara tuyul atau ngepet tiap malam jumat.

Saya suka gregetan kalau membaca komentar para pembeli yang seenaknya memberi bintang satu, dua, tiga, padahal barang yang diterimanya nggak hancur-hancur banget (bahkan sama sekali masih bagus) atau hanya perkara pengiriman lama karena kurirnya ngaret. Kok, yang disalahin tokonya? Kasihan lho penjualnya, kalau terus-terusan dapat rating rendah bisa kena tegur dari pihak marketplace. Parahnya, pembeli yang pelit bintang itu sudah berpredikat tinggi seperti Gold bahkan Platinum, alias sudah sering sekali berbelanja.

Saya kalau mau membeli sesuatu di marketplace (dalam hal ini Shopee karena saya pakainya cuma itu) pasti selalu membaca deskripsinya baik-baik dari penjual. Kemudian saya melihat reputasi tokonya bagaimana, cara merespons penjual kepada pembeli bagaimana, dan membaca review dari pembeli. Kalau kebanyakan review buruk dan barang diterima dalam kondisi nggak layak terlepas dari kelalaian kurir, ya saya skip dan cari toko lain. Oh iya, voucher gratis ongkir juga sangat memengaruhi keputusan saya untuk membeli barang tersebut. Apalagi kalau ongkir lebih mahal daripada barangnya. Skip banget.

Nah, yang jadi permasalahan dan membuat saya mangkel adalah ketika si penjual sudah menuliskan deskripsinya panjang dan lengkap, tetapi masih ada saja pembeli yang protes. Pembeli melayangkan komentar bernada protes dan ngegas bin barbar yang sebetulnya aksi protes tersebut bernada retorik alias sudah ada jawabannya. Salah sendiri, kenapa nggak baca deskripsinya sampai tuntas, weee. Jadi sudah pasti bukan salah penjual apalagi kurir. Lebih baik cek lagi sebelum jempol mantap untuk terpeleset ke tombol checkout.

Contohnya, ketika saya baru saja membeli meja lipat lesehan untuk keperluan kuliah daring karena pegal jika selalu duduk di kursi belajar. Saya membaca deskripsi barangnya hingga tuntas sebelum memutuskan untuk men-checkout meja lucu tersebut. Salah satu slide menjelaskan bahwa jika ada sedikit “celah” di bagian pinggiran meja, itu adalah hal wajar karena merupakan hasil finishing. Saya membaca komentar para pembeli dan cukup banyak yang memprotes akan hal itu, dikiranya mejanya cacat padahal baik-baik saja, hanya perkara “celah” kecil di pinggiran meja dan sebetulnya nggak mengganggu estetika si meja itu sendiri.

Kemudian ada lagi pembeli yang memberi bintang satu dan menyalahkan penjual karena si pembeli mengira penjual salah memberikan warna. Pada kolom varian tertera warna “grey” alias abu-abu, tetapi si pembeli malah protes, “kok dikirimnya warna abu-abu? Saya kan mintanya grey!1!!1!”

Selain minim literasi, ternyata ada juga orang yang masih minim soal pengetahuan bahasa Inggris begitu dasarnya. Hadeuh. Berarti, kita harus menyalahkan siapa? Haruskah menyalahkan sistem pendidikan di negara ini yang belum begitu efektif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa? Hmmm, saya rasa nggak juga, sih. Kalau ada keinginan untuk belajar, meskipun hidup di bagian pelosok bumi, ilmu pengetahuan akan ketemu dengan sendirinya.

Yah, kalau boleh jujur saya pun pernah asal main checkout barang tanpa membaca deskripsinya secara lengkap terlebih dahulu. Begitu barangnya sampai ke rumah, saya merasa wujud barangnya agak di luar ekspektasi. Namun, saya nggak protes ke penjualnya karena ini murni kesalahan saya sendiri. Untung cuman ikat rambut sepuluh ribuan. Toh untuk apa juga protes hingga marah-marah ke orang lain hanya untuk sebundel ikat rambut? Ini juga jadi pelajaran bagi saya untuk ke depannya agar lebih teliti dalam membaca deskripsi barang di Shopee. Jadilah smart buyer!

BACA JUGA Iklan Shopee Adalah Iklan Paling Menyebalkan dan tulisan Jasmine Nadiah Aurin lainnya.

Baca Juga:  Ketahui Tipe Dosen Penguji Skripsi dan Kerja Praktik, Supaya Tidak Dibantai Saat Ujian
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
119


Komentar

Comments are closed.