Pengendara Mobil Kadang Lebih Sembarangan daripada Pengendara Motor – Terminal Mojok

Pengendara Mobil Kadang Lebih Sembarangan daripada Pengendara Motor

Artikel

Muhammad Arsyad

Sebagai pengendara motor saya sering kali dihujat sama pengendara mobil kalau sedikit saja melakukan kesalahan. Hal itu wajar, memang selama ini, pengendara motor dikenal berkelakuan buruk. Suka kebut-kebutan, menyerobot di sela-sela kemacetan, dan pokoknya macam-macam lah.

Sudah kena panas dan debu, dimarahin pula. Saya sendiri lebih sering dimarahi pengendara mobil ketimbang sesama pengendara motor.

Dalam kancah perlalulintasan tanah air, pengendara motor selalu dikenal seenaknya sendiri. Pengendara motor dibilang nggak patuh pada aturan lalu lintas dan sebagainya. Padahal kalau melihat realita di jalan raya, pengendara mobil juga sama.

Jadi seharusnya jangan mentang-mentang mengendarai mobil bisa seenaknya di jalan raya. Hei, Bung pengendara mobil, kalian-kalian itu kan juga pakai jalan raya, mestinya kewajiban dan haknya juga sama dong dengan pengendara moda transportasi lain! Namun, pengendara mobil itu jarang ada yang mau mengakuinya.

Bahkan beberapa orang cenderung menyembunyikannya rapat-rapat dan seolah justru membuat pengendara lain yang salah. Nih, saya kasih tahu agar kalian, duhai pengendara mobil nggak seenak udel di jalan raya dan mengganggu kendaraan lain.

Sering klakson

Saya mendengar suara klakson kendaraan yang tak henti-hentinya didengungkan itu cuma waktu ada demo. Atau kalau anak-anak SMA baru lulus yang melakukan long march pakai motor di jalan-jalan kota. Namun, tak ada demo, pawai, atau gemerlap perayaan pun saya acap kali mendengar suara klakson yang bukan sekali dua kali dibunyikan, tapi berturut-turut.

Suara klakson yang bunyi terus itu bermuara dari pengendara mobil. Biasanya ketika di depan mereka ada pengendara lain, mereka bakalan tak berhenti memencet klakson. Sungguh nggak sabaran betul.

Saya pernah di jalan raya, di belakang saya ada mobil. Waktu itu saya pakai Supra Fit andalan yang butuh setidaknya gigi 4 supaya mau tancap gas. Sebab saya nggak bisa memperlebar jarak, si pengendara mobil yang di belakang terus mengklakson.

Saya yang ada di depannya pun bingung. Akhirnya daripada kena risiko, saya pun sedikit menepi. Mobil yang dari tadi mengklakson pun melenggang begitu saja dari arah kanan saya seolah menunjukkan bahwa dia sudah menang.

Dari situ saya berkesimpulan, pengendara mobil ternyata jauh lebih nggak sabaran ketimbang pengendara motor. Lah gimana ya, kejadian semacam itu sering saya jumpai di jalan raya.

Tak hanya saat melaju di jalan, tapi setelah lampu merah berganti hijau pun bunyi klakson paling kencang dari pengendara mobil. Lebih-lebih nggak cuma sekali dibunyikan. Betapa menyebalkannya mereka itu.

Mbok ya, sabar dikit, Bos. Baru lima detik lampu berganti hijau udah main klakson berulang-ulang. Nggak cuma saat peralihan lampu merah ke hijau, pun dari hijau menjadi merah. Ketimbang main nyelonong, saya memilih berhenti jika kehabisan jatah lampu hijau. Eh lah kok mobil di belakang saya mengklakson. Sekali saya biarkan, lalu saya mengintip lewat spion. Oh, dia—si pengendara mobil—mau belok kiri.

Padahal, nggak ada rambu-rambu belok kiri supaya jalan terus. Tapi, si pengendara mobil tadi masih kekeh mau belok kiri tanpa peduli lalin. Klakson dipencet berulang-ulang bermaksud agar yang di depannya minggir sejenak.

Oke… oke klakson itu penting. Dan membunyikannya dalam keadaan darurat adalah sebuah keniscayaan. Tapi, terus terang saja, kalau dibunyikan berkali-kali bisa rusak gendang telinga. Apalagi klakson mobil yang bisa bikin jatung berdebar-debar.

Terlambat menyalakan lampu sein

Sewajarnya berkendara, ketika hendak berbelok kita menyalakan lampu sein. Tiada lain supaya pengendara yang di belakang maupun di depan bisa mengetahui apakah belok atau tidak. Ihwal lampu sein ini, pengendara motor dicap paling tidak taat alias jarang menyalakan.

Sedangkan jika kita menyaksikan fakta di jalan raya, pengendara mobil juga sama. Mereka bukan hanya nggak menyalakan lampu sen, melainkan kadang-kadang menyalakannya tapi telat. Lampu sein itu kan umumnya dinyalakan ketika hendak belok.

Ingat kata kuncinya: hendak belok. Artinya belum berbelok, masih ancang-ancang. Ibarat saat kita main bola sodok, sebelum menyodok bolak kita tarik tongkatnya dulu. Baru setelahnya tongkat didorong agar mengenai bola.

Lah pengendara mobil nggak begitu. Lampu sein dinyalakan kala sedang berbelok. Buntutnya, pengendara di belakang kaget. Lampu sein belum nyala tiba-tiba belok.

Ajaibnya lagi kalau terjadi kecelakaan, pengendara model begitu nggak bisa disalahkan. Lah wong dia itu menyalakan lampu sein kok. Malahan pengendara lain yang bisa jadi kambing hitam.

Makanya, saya saat mengendarai motor di jalan ekstra hati-hati. Kalau di depan ada mobil yang bimbang antara mau berbelok atau lurus, saya memilih memelankan motor. Bisa juga menyalipnya dengan memperhitungkan risiko matang-matang.

Membuka pintu sembarangan

Siapa sih yang nggak kaget jika sedang nyaman melaju di jalan, ada mobil berhenti di pinggir jalan dan membuka pintu mobil? Saya yakin sekelas Valentino Rossi pun bakalan terkejut bahkan bisa jadi memeluk aspal jika laju kendaraannya dihadang pintu mobil yang tiba-tiba dibuka.

Jika kamu berada dalam situasi ini, memilih menghindar sedikit juga membutuhkan siasat dan timing yang pas. Salah-salah pengendara lain yang melesat dari arah belakang bakal menabrak atau sekurang-kurangnya nyerempet. Dan pilihan yang kedua tentu saja kemungkinan menabrak orang yang baru keluar dari mobil. Kecuali orang tersebut menguasai jurus lompatan Spider-Man.

Begini, saudara-saudara yang punya mobil, dimohon dengan sangat kalau berhenti dan mau buka pintu tengok-tengoklah dulu kaca spion. Di belakang ada pengendara lain yang sedang melaju atau tidak. Pun boleh dengan memilih keluar melalui pintu lain yang nggak secara langsung bersinggungan dengan jalan raya. Pokoknya di sisi yang betul-betul aman, tidak membahayakan pengguna jalan lain.

Semoga lewat tulisan ini, pengendara mobil itu bisa menyadarkan diri mereka sendiri. Di jalan raya nggak cuma mobil yang melaju. Harga kendaraan kalian boleh lebih mahal, tapi hak dan kewajiban di jalan raya nggak bisa ditawar-tawar.

BACA JUGA Generasi Baby Boomer Punya Lini Masa Medsos yang Lebih Damai ketimbang Milenial dan tulisan Muhammad Arsyad lainnya.

Baca Juga:  Alasan Kita Harus Pakai Otak, Bukan Dengkul

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
1


Komentar

Comments are closed.