Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Musik

Sejarah Senggakan: Awalnya Pelengkap, Kini Jadi Menu Utama

Supriyadi oleh Supriyadi
6 April 2022
A A
Sejarah Senggakan: Awalnya Pelengkap, Kini Jadi Menu Utama

Sejarah Senggakan: Awalnya Pelengkap, Kini Jadi Menu Utama (Satab Ghana via Shutterstock)

Share on FacebookShare on Twitter

Sejarah senggakan begitu panjang. Tak mengherankan jika ia begitu menyatu dengan masyarakat, dan mengalir dalam darah.

Berbicara ihwal senggakan, pandangan yang akan muncul selanjutnya ialah dangdut koplo. Barangkali masih terngiang lagu bertajuk “Pamer Bojo”. Dalam lagu ini terdapat senggakan “Cendol Dawet” yang begitu populer. Atau “ha’e ha’e ha’e ha’e” yang seringkali dijumpai di banyak lagu dangdut koplo. Lebih ke belakang lagi, misalnya “buka sitik jos!”. Senggakan ini juga karib digunakan dalam berbagai lagu dangdut koplo. Senggakan yang populer dewasa ini ialah “Tarik, Sis! Semongko!” serta “Tak sogok, tak sogok, Aaaaaa! Aaaaaa!”.

Konser NDX (Satab Ghana via Shutterstock.com)

Bagi masyarakat pecinta dangdut koplo, senggakan menjadi sebuah ornamen musikal yang sangat penting. Pasalnya, selain menambah keriangan sajian, juga menjadi sebuah “cambuk” untuk memantapkan goyangan. Misalnya “Buka sithik, Jos!”. Pada aksen “Jos!”, biduan akan menghentakkan pinggulnya dengan lihainya. Penonton pun akan bersorak mengikuti irama sembari berjoget. Ketika aksen “jos!” berbunyi, penonton akan turut menghentakkan bagian tubuhnya. Senggakan ini menjadi sebuah tampuk untuk memantapkan goyangan.

Sejarah senggakan

Kita akan mulai berbicara tentang sejarah senggakan. Senggakan dalam kultur musik Jawa kiranya sudah karib ditemui. Tidak hanya dalam dangdut koplo, sebelum itu, senggakan sudah menggema dalam karawitan. Misalnya, dalam karawitan gaya Surakarta dan Yogyakarta. Senggakan sering tampak di berbagai gendhing, misalnya “Ha’e ha’e… Ooooo… Eeeeee!”. Selanjutnya, dalam Tari Gambyong Pareanom. Sembari bertepuk tangan, para gerong akan menyuarakan “Oeee… Oeeee… Ooooeeeeng!” di bagian-bagian tertentu.

Setelah itu, setiap kali gerong hendak melantunkan lagu bagiannya, senggakan “Sasolaheee!” akan terdendangkan. Dalam hal ini, senggakan menjadi sebuah ornamen gendhing yang mengisi ruang-ruang kosong. Juga, terkadang menjadi sebuah penanda terhadap akhir kalimat lagu. Dengan begitu, sajian gendhing menjadi rapat dan penuh; bahkan pada jembatan antarkalimat lagu.

Senggakan tak hanya milik karawitan saja, atau Surakarta dan Yogyakarta saja. Jika kita melihat sejarah senggakan, kita bisa menemui gaya tersebut di daerah lain. Dan kita akan bicara senggakan sejarah pada aliran musik lainnya.

Kemudian, senggakan pada kesenian Karawitan Banyumasan. Senggakan yang tampak pada Karawitan Banyumasan ialah, “Dowa lolo…Loiiiing!”. Senggakan ini menjadi yang paling umum digunakan dalam Karawitan Banyumasan. Dalam Kesenian Calung pun juga demikian. Menariknya, yang karib ditemui dalam dangdut koplo, yakni “Buka Sithik, Jos!” telah digunakan dalam kesenian ini. Penyajiannya juga sama laiknya pada dangdut koplo. Menurut Hastanto dalam Setiaji (2021: 116), “’Buka sithik, jos!’ sudah ada sejak tahun 70-an pada seni Calung Banyumasan”.

Senggakan dalam kultur musik Banyumasan sangatlah kaya. Pasalnya, masih terdapat banyak sekali senggakan. Misalnya, “ooo”, “eee”, “telululu”, “esod-esod”, dan lain sebagainya. Terlebih lagi, periode penggunaan dalam sajian gendhingnya sangat pendek. Bahkan, dalam satu kalimat lagu dua hingga tiga kali dilantunkan. Kepadatan, keriangan, dan keenerjikan menjadi sebuah keunikan tersendir.

Baca Juga:

Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

4 Salah Kaprah Jurusan Sejarah yang Terlanjur Melekat dan Dipercaya Banyak Orang

Kekayaan senggakan ini juga ditemui dalam kesenian jathilan. Apalagi, ketika sajian pertunjukannya berada dalam fase ndadi (kesurupan). Senggakan seperti “Ha’e… Ha’e…”, “Hokya…”, “Beh… Boh…Beh…”, “Slolololo…”, dan lain sebagainya. Pada fase ini, senggakan pada Kesenian Jathilan justru menjadi ornamen yang dominan. Tidak ada lagu, tidak ada nyanyian, yang ada hanyalah senggakan. Bermodalkan mengamati gerakan, mereka bisa menyesuaikan. Tentu, koridor musikalnya tetap dijunjung. Namun, dalam hal ini; agaknya senggakan melepas fungsi utamanya sebagai ornamen peramai. Justru mewujud menjadi sebuah sajian utama.

Jathilan (Faizal Afnan via Shutterstock.com)

Fenomena ini juga muncul pada campursari. Dalam berbagai karya campursari, senggakan yang digunakan tidak berbeda jauh dengan pada karawitan. Barangkali memang induk dari campursari memanglah gamelan, sehingga keidentikan juga ditemui. Namun, di sisi lain juga terdapat perbedaan dengan karawitan pada umumnya.

Pada campursari, seringkali terdapat senggakan yang menempel pada aksen kendhang laiknya senggakan Banyumasan. Dengan tempo yang tidak begitu cepat, dengan pilihan lagu yang sering kali sayu, dengan instrumentasi hybrid, serta aransemen yang tidak statis, campursari menghadirkan warna musikal baru. Ditambah, senggakan yang “malu-malu kucing” jika tidak boleh dikatakan nanggung. Campursari meleburkan senggakan karawitan yang dominan halus dengan Banyumasan yang terkesan energik.

Mutakhir, senggakan yang digunakan dalam musik dangdut, khususnya dangdut koplo. Perbedaannya, dalam dangdut koplo terdapat ketipung/kendang jaipong yang memberikan aksen-aksen di sepanjang lagu. Pada aksen-aksen tersebutlah, senggakan menempel. Selain itu, dalam dangdut koplo, begitu mendominasi di sepanjang lagu. Entah pada sela-sela kalimat lagu, di akhir kalimat lagu, bahkan ketika syair didendangkan.

Senggakan turut mempertebal kedudukannya. Alhasil, kesan padat dan penuh begitu terasa dalam sajian lagu. Dampaknya ialah melahirkan atmosfer riang (bahkan pada lagu yang berlirik melonkoli, patah hati, ataupun kehilangan) yang kemudian menuntun penonton untuk bergoyang. Terdapat nilai menarik dalam sisi kontekstualnya. Bahwa, senggakan turut memberikan sumbangsih dalam lagu. Keberadaannya turut menuntun penonton untuk merayakan kesedihan. Meskipun, dengan kemasan yang menentang aliran musik yang lebih populis di luar dangdut koplo.

Estetika

Senggakan menjadi sebuah ornamen musikal yang mewujudkan kesan ramai dari sebuah gendhing ataupun lagu. Lekas dari karawitan, kesenian tradisional, campursari, hingga dangdut koplo. Kehadirannya menjadi sebuah ornamen yang penting. Keberadaannya agaknya dibutuhkan. Jika diamati, senggakan sudah ada sejak lampau. Hingga kini, senggakan masih digunakan dalam berbagai lagu dengan kemasan yang selalu aktual.

Campursari (Ricky Kurniawan via Shutterstock.com)

Senggakan agaknya sudah menjadi habitus (kebiasaan melekat) masyarakat. Bahkan Michael (2013) menyebut bahwa hal tersebut menjadi sebuah identitas musikal hingga kultural. Hal ini dapat dirasakan senggakan tak muncul dalam karawitan, dangdut, dan campursari. Kiranya, terdapat “sesuatu” yang hilang dari sajian tersebut. Selain itu, dalam berbagai kesempatan saya sering melihat adanya respons penonton (entah itu karawitan ataupun campursari dan dangdut koplo) yang dengan refleks menyuarakan senggakan di bagian-bagian tertentu. Agaknya, senggakan sudah menubuh ke dalam diri masyarakat.

Menyatunya senggakan dan diri masyarakat tentu dipengaruhi oleh perjalanan historikal dari senggakan itu sendiri. Sering terdengarnya senggakan di berbagai gending dan lagu, membuat senggakan terekam ke dalam pikiran bawah sadar. Timbunan pengalaman musikal ini akan muncul ketika terpantik dengan sendirinya. Kiwari, senggakan tidak hanya menjadi ornament musikal saja. Melainkan mewujud menjadi sebuah estetika tersendiri. Senggakan menjadi sebuah cara menikmati sebuah musik. Hal ini membuat senggakan menjadi sebuah unsur musikal yang dinanti-nanti.

Melintas zaman

Sejarah senggakan yang panjang menunjukkan satu hal: bahwa ia sanggup dan sudah melintas zaman. Dari karawitan, lalu muncul di campursari, kini melengkapi dangdut koplo. Awalnya pelengkap, kini jadi menu utama. Kini, bisa dibilang, senggakan menyatu dengan masyarakat.

Senggakan menjadi sebuah bahasa musikal yang menyuratkan sebuah tempuhan. Dari para gerong yang duduk diam menuju ke penonton yang bergoyang. Kehadirannya menjajahi ingatan, jika tidak ada, akan dicari. Senggakan menjadi hal yang dibutuhkan. Pengukuhannya dapat dilacak dari gendhing dan lagu. Dari masa lampau hingga kiwari. Senggakan menjadi sebuah estetika yang menembus dan melintas zaman. Semoga abadi!

Penulis: Supriyadi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Dari ‘Buka Sitik Jos!’ hingga ‘Semongko’: Senggakan Adalah Unsur Penting Dangdut Koplo Jawa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 6 April 2022 oleh

Tags: Dangdutsejarahsenggakan
Supriyadi

Supriyadi

Juru tulis bersenjata kopi.

ArtikelTerkait

Sewa Tanah Gratis Buruh Jawa: Sejarah Pabrik Gula di Jogja

Sewa Tanah Gratis Buruh Jawa: Sejarah Pabrik Gula di Jogja

15 Juli 2022
they call me babu mojok

They Call Me Babu: Seutas Kisah Sejarah Babu pada Masa Kolonial Belanda

27 Juli 2021
Keistimewaan Ujungberung, Cikal Bakal Kota Bandung yang Sering Dianggap Wilayah Pinggiran

Keistimewaan Ujungberung, Cikal Bakal Kota Bandung yang Sering Dianggap Wilayah Pinggiran

21 September 2023
Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

5 Januari 2026
Daerah Sukamiskin Bandung Bukan Berarti Rakyatnya Senang Kemiskinan terminal mojok

Daerah Sukamiskin Bandung Bukan Berarti Warganya Senang Kemiskinan

9 November 2021
Jurusan Sejarah Kerap Dipandang Sebelah Mata, padahal Berjasa Menyelamatkan Ingatan Banyak Orang Mojok.co

Jurusan Sejarah Kerap Dipandang Sebelah Mata, padahal Berjasa Menyelamatkan Ingatan Banyak Orang

14 Mei 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Temanggung yang Terkenal Nyaman Malah Bikin Orang Jombang Nggak Betah Mojok.co

Temanggung yang Terkenal Nyaman Bisa Bikin Orang Jombang Nggak Betah

30 April 2026
Gaji ke-13 PNS: Tradisi Musiman yang Dirayakan dengan Sepatu Baru dan Kecemasan Baru

4 Tempat Ngutang Favorit PNS untuk Kebutuhan Hidup dan Membuat Diri Mereka Terlihat Kaya

25 April 2026
Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja Mojok.co

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja

26 April 2026
Kotabaru Jogja, Kawasan Pemukiman Belanda yang Punya Fasilitas Lengkap, yang Sekarang Bersolek Jadi Tempat Wisata

Hidup di Kotabaru Jogja Itu Enak, Sampai Kamu Coba Menyeberang Jalan, Ruwet!

28 April 2026
12 Istilah Hujan yang Aneh dalam Bahasa Jawa, Ada “Tlenik-Tlenik” hingga “Kethek Ngilo” Mojok

12 Istilah Hujan yang Terdengar Aneh dalam Bahasa Jawa, Ada “Tlenik-Tlenik” hingga “Kethek Ngilo”

30 April 2026
Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama Mojok.co

Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama

29 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya
  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.