Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

Andre Rizal Hanafi oleh Andre Rizal Hanafi
5 Januari 2026
A A
Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

Share on FacebookShare on Twitter

Bukannya tidak suka menonton kesenian tradisional barongan. Saya justru termasuk orang yang tumbuh bersama suara gamelan, topeng besar, dan aroma kemenyan yang samar-samar ikut terbawa angin sore. Tapi entah sejak kapan, menonton barongan di Kendal rasanya seperti beli tiket nonton seni, bonusnya malah tontonan tambahan menjadi ajang silaturahmi berantem antarpenonton.

Dan ini bonus yang jelas-jelas tidak saya minta.

Dulu, menonton barongan itu soal menikmati gerak, irama, dan suasana kampung yang mendadak ramai. Sekarang, beberapa kali datang ke acara barongan, fokus saya justru terpecah. Bukan karena atraksi barongannya, tapi karena waswas ini nanti pulangnya damai atau malah ada keributan lagi.

Masa ketika penonton barongan masih anak-anak

Kalau mengingat masa remaja, penonton barongan di Kendal itu mayoritas bocah-bocah SD dan SMP. Anak-anak yang datang beramai-ramai, tertawa cekikikan, dan merasa paling berani di dunia. Hiburan mereka sederhana menggodai pemain barongan atau dawangan.

Godaannya juga khas bocah kampung. Teriak-teriak, mendekat lalu kabur. Kalau dawangan atau pemain barongan mulai mengejar, mereka lari terbirit-birit sambil tertawa bangga karena merasa berhasil “mengganggu” orang dewasa.

Keributan? Ada, tapi dalam skala bocah. Paling banter jatuh, nangis sebentar, lalu ikut nonton lagi. Tidak ada yang pulang dengan kepala bocor atau dendam berkepanjangan. Barongan tetap barongan tontonan rakyat yang meriah, riuh, tapi aman.

Penonton barongan bergeser, niatnya ikut berubah

Sekarang, penontonnya sudah beda generasi. Anak-anak masih ada, tapi mulai tersisih oleh remaja ABG yang datang berombongan. Niat mereka pun bermacam-macam. Ada yang memang ingin menonton kesenian, ada yang sekadar ikut teman, ada pula yang datang dengan misi khusus hunting cewek.

Kalau sekadar cari kenalan, itu masih tergolong wajar. Acara barongan di Kendal memang ruang sosial terbuka. Semua orang berkumpul, musik keras, suasana ramai. Tapi masalah mulai muncul ketika sebagian penonton datang dengan niat lain minum minuman keras.

Baca Juga:

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

Membayangkan Kendal Maju dan Punya Mall Itu Sulit, sebab Mie Gacoan Aja Baru Ada Setahun

Ini yang jadi pemantik utama masalah. Minum, lalu berjoget. Awalnya masih santai. Tapi ketika joget sudah diiringi senggolan kecil, tatapan sinis, dan emosi yang naik tanpa rem, barongan berubah fungsi. Dari panggung seni jadi arena adu gengsi dan nyali.

Musik dangdut dan campursari: salah siapa?

Tidak bisa dimungkiri, barongan di Kendal sekarang banyak yang berubah. Beberapa kelompok di Kendal mulai memainkan musik dangdut dan campursari. Gamelan yang dulu identik dengan gending Jawa kini bercampur dengan beat dangdut yang menghentak.

Sebagian orang menyalahkan perubahan ini. Katanya, inilah biang kerok keributan. Tapi menurut saya, menyalahkan kelompok barongan itu kurang adil. Mereka hanya beradaptasi. Zaman berubah, selera penonton juga berubah. Kalau masih memaksakan format lama tanpa inovasi, bisa-bisa barongan ditinggal penonton.

Musik dangdut dan campursari jadi cara supaya kesenian ini tetap hidup dan diterima generasi sekarang. Masalahnya bukan di musiknya, tapi di mental sebagian penontonnya. Begitu beat dangdut dimainkan, suasana memang langsung berubah. Arena penonton mendadak mirip konser dangdut Palapa.

Orang berjoget, teriak-teriak, dan semakin larut dalam euforia. Kalau semua sadar diri, harusnya aman. Tapi ketika alkohol ikut campur, senggolan kecil bisa berubah jadi ajang adu pukul.

Oknum penonton, bukan kesenian

Yang perlu digarisbawahi yang salah itu oknum penonton, bukan kesenian barongannya. Barongan Kendal hanya menyediakan panggung. Soal rusuh atau tidak, itu tergantung siapa yang datang dan bagaimana mereka membawa diri.

Sayangnya, stigma keburu melekat. Setiap ada barongan, orang-orang mulai waswas. “Nanti pasti ribut.” Padahal tidak semua acara barongan berakhir ricuh. Banyak juga yang berjalan tertib dan penuh apresiasi seni.

Masalahnya, yang rusuh selalu lebih diingat daripada yang tertib.

Untungnya, tidak semua kelompok barongan di Kendal ikut arus memainkan musik dangdut dan campursari. Masih ada kelompok yang tetap menonjolkan sisi seni. Bahkan, mereka justru meng-upgrade pertunjukan dengan memasukkan unsur reog dan leak.

Hasilnya menarik. Penonton tidak hanya disuguhi jogetan, tapi juga atraksi yang memancing rasa kagum. Gerakannya lebih variatif, kostumnya lebih niat, dan ceritanya lebih terasa. Kelompok seperti ini biasanya menarik penonton yang memang ingin menikmati kesenian, bukan sekadar cari hiburan murah atau pelampiasan emosi. Suasananya pun cenderung lebih kondusif.

Dari pagi–sore ke siang–malam

Perubahan lain yang cukup terasa adalah soal waktu pementasan. Dulu, barongan di Kendal biasanya ditanggap dari pagi sampai sore. Begitu matahari mulai turun, acara selesai. Penonton bubar, kampung kembali tenang.

Sekarang, banyak barongan digelar dari siang sampai malam. Bahkan ada yang lewat tengah malam. Semakin malam, risikonya juga semakin besar. Penonton yang datang sore hari beda dengan yang datang tengah malam.

Kalau siang masih banyak keluarga dan anak-anak, malam mulai didominasi anak muda. Dan lagi-lagi, alkohol sering jadi faktor pembeda antara tontonan seni dan keributan.

Soal biaya dan aturan anti rusuh

Menanggap barongan di Kendal bukan perkara murah. Biayanya bervariasi, mulai dari 5 juta sampai puluhan juta rupiah. Tergantung kelompok, durasi, dan kelengkapan pertunjukan. Oleh karena itu, tuan rumah sekarang mulai lebih tegas. Beberapa membuat aturan siapa yang bikin rusuh harus mengganti seluruh biaya hiburan barongan.

Aturan ini sebenarnya masuk akal. Keributan tidak hanya merugikan secara moral, tapi juga materi.

Sayangnya, aturan ini sering hanya jadi ancaman lisan. Saat kejadian benar-benar terjadi, Ada yang mau bertanggung jawab tapi juga ada yang lari dari tanggung jawab. Yang ribut kabur, yang nanggung malu dan rugi tetap tuan rumah.

Dulu kesurupan, sekarang apresiasi seni

Ada satu hal menarik yang berubah. Dulu, daya tarik barongan salah satunya adalah adegan kesurupan dan makan beling. Penonton menunggu momen itu dengan antusias, setengah ngeri setengah penasaran.

Sekarang, minat penonton mulai bergeser. Banyak orang justru lebih tertarik pada keseniannya gerak tari, kostum, dan musik yang dimainkan para penabuh gamelan atau sekarang lebih tepat disebut pemain musik.

Dangdutnya memang tetap jadi magnet, tapi apresiasi terhadap seni mulai tumbuh, meski perlahan. Ini sebenarnya kabar baik, asal tidak dirusak oleh oknum yang datang hanya untuk bikin kisruh.

Menonton barongan di Kendal tanpa rasa waswas

Barongan adalah kesenian rakyat. Ia lahir dari kampung, untuk kampung. Sudah seharusnya menjadi ruang hiburan yang aman, ramah, dan menyenangkan. Kalau sekarang menonton barongan malah harus siap mental menghadapi keributan, berarti ada yang salah bukan pada seninya, tapi pada cara kita menjaganya.

Saya masih ingin menonton barongan tanpa harus berdiri di pinggir sambil waspada. Ingin menikmati irama, gerak, dan suasana tanpa khawatir tiba-tiba ada kursi melayang atau orang terkapar.

Barongan pantas mendapatkan penonton yang datang untuk menikmati, bukan mencari masalah. Dan kita, sebagai penonton, punya peran besar menentukan apakah barongan tetap jadi kesenian, atau berubah jadi sekadar panggung keributan.

Penulis: Andre Rizal Hanafi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kendal Itu Persis kayak MU: Punya Kekayaan, tapi Nggak Bisa Apa-apa, Alih-alih Berjaya, Malah Konsisten Jadi Medioker!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Januari 2026 oleh

Tags: baronganbarongan di kendalbiaya nanggap barongan di kendalcampursariDangdutkendal
Andre Rizal Hanafi

Andre Rizal Hanafi

Seorang yang menjalani hidup dengan tenang, namun menyimpan kegaduhan di dalam kepalanya. Menulis adalah ritual untuk merapikan kekacauan itu—atau setidaknya, sebuah cara untuk menertawakan absurditas yang terjadi di dalam sana

ArtikelTerkait

cendol dawet

Pemersatu Bangsa Sebenarnya adalah Cendol Dawet

26 September 2019
Goyang Denny Caknan Adalah Goyangan Dangdut Paling Magis Saat Ini terminal mojok.co

Goyang Denny Caknan Adalah Goyangan Dangdut Paling Magis Saat Ini

12 Desember 2020
Semua Lagu Akan Koplo Pada Waktunya dan Semua Orang Akan Joget Bareng Karenanya

Semua Lagu Akan Koplo pada Waktunya dan Semua Orang Akan Joget Bareng Karenanya

1 November 2019
5 Lagu Sunda yang Maknanya Nggak Kalah sama 'Cidro' dan 'Sewu Kutho' terminal mojok.co didi kempot campursari sunda keroncong sunda

Dari Saya yang Sering Patah Hati: Terima Kasih Om Didi Kempot

4 Juli 2019
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
Apa pun Genre Musik Kalian, Lagu Dangdut Wajib Ada di Acara Pernikahan terminal mojok

Apa pun Genre Musik Kalian, Lagu Dangdut Wajib Ada di Acara Pernikahan

15 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co

Warga Depok Habiskan Hampir 2 Juta Rupiah per Bulan Cuma buat Kerja di Kawasan Senayan, Dedikasinya Tinggi!

16 April 2026
7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa (Unsplash)

Terima Kasih Indomaret, Berkatmu yang Semakin Peduli dengan Lingkungan, Belanjaan Jadi Sering Nyeprol di Jalan Gara-gara Plastik yang Makin Tipis

20 April 2026
Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

21 April 2026
Karimun Wagon R: Mobil Kecil yang Menyelamatkan Pemiliknya dari Gosip Kampung

Karimun Wagon R, Rekomendasi Cerdas Mobil Pertama untuk Kaum Mendang-mending yang Belajar Punya Mobil

15 April 2026
Cisarua Bogor dan Cisarua Bandung Barat: Dua Daerah yang Beda, tapi Nasibnya Sama-Sama Terlupakan  Mojok.co

Cisarua Bogor dan Cisarua Bandung Barat: Dua Daerah yang Beda, tapi Nasibnya Sama-sama Terlupakan 

17 April 2026
7 Mobil Bekas Harga Rp100 Juta-an yang Paling Masuk Akal Dimiliki sebagai Kendaraan Keluarga Mojok.co

7 Mobil Bekas Harga Rp100 Juta-an yang Paling Masuk Akal Dimiliki sebagai Kendaraan Keluarga

16 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • WNA Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Kontrak di Indonesia dan Mengabdi untuk Anak Pekerja Migran di Sana
  • WNA Malaysia Pilih Lanjut S2 di UNJ, Penasaran Ingin Kuliah di PTN karena Dosen Indonesia yang “Unik”
  • Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga
  • Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!
  • Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran
  • Lulusan SMK Kerja di SPBU Diremehkan, Malah Jadi Tempat Ngutang buat Kuliah Anak Saudara karena Dikira Punya Segepok Uang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.