Ki Seno Nugroho, Dalang yang Bikin Milenial Gandrung dengan Wayang – Terminal Mojok

Ki Seno Nugroho, Dalang yang Bikin Milenial Gandrung dengan Wayang

ArtikelFeatured

Seingat saya, pertama kali saya nonton wayang itu belasan tahun lalu—kira-kira pas saya masih kelas 6 SD lah—ketika berlibur di rumah pakde di Madiun. Kala itu belum kenal sama Ki Seno Nugroho. Bahkan ittu momen kebetulan, karena memang sudah sejak lama saya memendam rasa penasaran, sebenarnya gimana tho, wujud dari pentas pakeliran itu?

Sebab dari buku “Kisah Wali Songo” yang pernah saya baca, wayang merupakan salah satu media dakwah yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dan tercatat cukup ampuh untuk membuat masyarakat Jawa tertarik dengan ajaran Islam.

Lebih-lebih dari pelajaran bahasa Jawa di sekolahan, Bu Guru juga pernah menerangkan bahwa, kesenian wayang kulit memuat piwulang luhur yang sangat dalam untuk tuntunan hidup. Persis seperti yang sering diucapkan para dalang, “Wayang iku ora mung kanggo tontonan, nanging yo kudu dadi tuntunan (Wayang itu bukan hanya sekadar buat tontonan, tapi juga harus jadi tuntunan).”

Atas dasar ingatan-ingatan tersebut, malam itu saya sangat antusias menyambut tawaran pakde untuk nonton pagelaran wayang kulit.

Eh belum ada satu jam menyimak, tiba-tiba saya malah jadi nggak mood babar blas. Saya sudah kehilangan semangat dan antusiasme seperti sebelum berangkat tadi. Alhasil, saya lebih memilih tidur.

Begini, bagi saya yang beda generasi dengan pakde, bahasa yang digunakan mbah dalang sangat sukar buat saya pahami (karena keseluruhan menggunakan bahasa Jawa kuna). Ini yang bikin saya bosan dan ngantuk. Hla wong nggak paham, je.

Waktu kuliah, saya sempat membuat survei ala kadarnya dengan salah satu kawan saya atas pagelaran wayang kecil-kecilan yang kami tonton di gedung kesenian.

Hasilnya hampir sama dengan yang pernah saya alami, baru sebentar kawan saya ini sudah geger ngajak bubaran. Alasannya, alur ceritanya boseni banget, monoton, dan bikin boring.

Berhubung saya dari jurusan sejarah, saya kemudian iseng membuat analisa, sebenarnya model pakeliran di zaman Sunan Kalijaga itu kayak gimana, tho?

Ketemu dua asumsi. Pertama, saya curiga, jangan-jangan Sunan Kalijaga tidak menggunakan bahasa Jawa kuna murni, alias menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh banyak kalangan, bahasa ngoko biasa. Mestinya juga ditambah dengan improvisasi cerita dan selipan banyolan biar nggak terkesan monoton dan spaneng. Kalau nggak begitu, nggak mungkin bisa menarik minat masyarakat yang rata-rata dari kalangan menengah ke bawah. Sebab, asumsi saya, bahasa Jawa kuna terlampau elitis jika digunakan untuk komunikasi antar kawula cilik.

Kedua, mungkin saja menggunakan bahasa Jawa kuna dan masyarakat luas bisa memahaminya. Karena toh bahasa Jawa kuna menjadi bahasa komunikasi pada masa tersebut.

Namun, yang perlu dicatat, bukan berarti kerana wayang zaman itu menggunakan bahasa Jawa kuna, lantas wayangan jaman sekarang harus menerapkan hal yang sama persis. Sebab, Sunan Kalijaga sendiri pernah dawuh, “Jadi orang itu harus alarasaning ilining banyu.” Harus mengalir seperti air yang bisa menyesuaikan tempat yang dilalui atau wadah yang didiami. Dengan kata lain, harus mengikuti arus zaman yang bisa berubah sewaktu-waktu.

Apabila merujuk asumsi yang kedua, maka wayangan zaman sekarang mestinya nggak harus sama dengan model zaman dulu. Baik dari segi bahasa, penokohan, alur cerita, dan lain-lain. Wayang zaman sekarang baiknya menggunakan model yang kompatibel. Gampangnya, menggunakan konsep yang agak milenialistis jika memang bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya leluhur.

Nah menurut saya, hadirnya Ki Dalang Seno Nugroho—dalang fenomenal asal Bantul, Yogyakarta—itu sudah cukup jadi jawaban.

Nggak seperti dalang pada umumnya, Ki Seno merupakan salah satu dalang yang berani mendobrak pakem yang sudah bertahun-tahun jadi acuan dalam dunia pakeliran. Ki Seno bener-bener jadi gambaran dalang yang mengamalkan pitutur dari empunya wayang kulit, Kanjeng Sunan Kalijaga, perihal harus jadi orang yang alarasaning ilining banyu tadi.

Jadi bukan hanya sekadar terampil memainkan wayang di papan kelir, bahasa yang digunakan Ki Seno juga nggak saklek pakai bahasa Jawa kuna, melainkan dicampur—dan memberi porsi lebih banyak—dengan bahasa sehari-hari sehingga terkesan agak kekinian.

Dalang edan Sudjiwo Tedjo saja mengakui bahwa, Ki Seno adalah sosok dalang yang sangat kreatif, kaya imajinasi, pandai mengimprovisasi cerita, dan terkenal luas wawasannya. Sehingga nggak jarang lelakon yang dibawakan Ki Seno amat sangat nggak umum dengan lelakon yang sudah jadi referensi baku para dalang.

Beda jauh dengan dalang-dalang pada umumnya, Ki Seno kadangkala juga mencampuradukkan cerita yang dibawakan dengan isu-isu atau peristiwa yang lagi viral. Sehingga terasa sangat relate dengan kehidupan sehari-hari.

Wujud ketidakumuman Ki Seno bisa juga dilihat dari caranya memeragakan antar tokoh. Misalnya, mainstream-nya tokoh-tokoh sekaliber Bathara Guru, Arjuna, Baladewa, dan dedengkot-dedengkotnya itu kan sakral, gagah, dan penuh wibawa. Lah di tangan Ki Seno, tokoh-tokoh tersebut bisa diubah jadi tokoh yang bisa menimbulkan gelak tawa. Malah kadang dibuat kehilangan kesaktian, kesakralan, dan kewibawaannya tiap kali dihadapkan dengan tokoh Punakawan, utamanya sosok Bagong.

Iya, jika seringnya para dalang lebih memilih menjadikan tokoh-tokoh sakral tersebut sebagai lakon utama, yang otomatis menjadikan geng Punakawan hanya sekadar selingan, tidak demikian bagi Ki Seno. Punakawan justru mendapat porsi lebih banyak, khususnya Bagong yang lambat laun jadi tokoh ikonik bagi Ki Seno sendiri.

Kenapa bisa demikian? Ki Seno, dalam salah satu sesi wawancara pernah menuturkan, alasan mengangkat Punakawan jadi lakon utama itu karena Punawakan adalah representasi dari kawula cilik. Dengan begitu, dialog-dialog—yang kadang diselingi dengan pisuhan-pisuhan—dan cerita yang disuguhkan terasa lebih gayeng dan sangat relate dengan keadaan dan kehidupan penonton.

Kenalan saya yang merupakan pegiat wayang kulit pernah berkomentar, karakter Punawakan sengaja diberi porsi lebih oleh Ki Seno karena merupakan simbol kritik dan perlawanan masyarakat kecil terhadap kelompok elitis yang suka sewenang-wenang. Bisa dilihat lewat karakter Bagong yang nggak pernah keder tiap berhadapan dengan para dewa dari kahyangan.

Upaya Ki Seno cukup sukses membuat anak-anak muda jadi gandrung dengan wayang kulit. Terbukti dengan adanya kelompok fans Ki Seno yang tergabung dalam PWKS (Penggemar Wayang Ki Seno) dan Sobat Ngebyar (istilah wayangan yang berarti melek semalam suntuk) yang mengusung tagline, pantang pulang sebelum bubar.” Di mana mayoritas penghuninya adalah kawula milenial.

Ini baru satu Ki Seno. Belum kelak seumpama lahir dan tumbuh Ki Seno-Ki Seno lainnya, bukan hanya dalam jagad pakeliran, tapi juga dalam seluruh budaya dan kesenian tradisional, maka optimis, budaya dan kesenian tradisional (lebih khusus wayang kulit), nggak bakal punah sampai kapan pun.

BACA JUGA Meniti Karier Itu Harus Pelan, Nggak Usah Ngebet Pengin Terkenal dan tulisan Aly Reza lainnya.

Baca Juga:  3 Hal yang Bikin Deg-degan Saat Pilih Tukang Bangunan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.