Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Betapa Sialnya Jadi Mahasiswa Jurusan Sejarah

Fikry Ainul Bachtiar oleh Fikry Ainul Bachtiar
26 September 2020
A A
Betapa Sialnya Jadi Mahasiswa Jurusan Sejarah fakultas sejarah mata pelajaran sejarah nadiem makarim terminal mojok.co

Betapa Sialnya Jadi Mahasiswa Jurusan Sejarah fakultas sejarah mata pelajaran sejarah nadiem makarim terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Tiap kali saya bertemu dengan teman seangkatan pas reunian atau dengan saudara pas silaturahmi keluarga, pasti aja ada yang menanyakan kuliah ambil jurusan apa. Mereka kelihatan heran ketika saya jawab bahwa saya mahasiswa Jurusan Sejarah. 

Hal itu tampak dari raut muka mereka walau berusaha ditutup-tutupi, saya sudah paham betul. Lantas dengan respons yang hampir seragam, semuanya basa-basi memuji, “Oalahh mau jadi guru, ya? Mulia sekali.”

ADVERTISEMENT

Saya cengengesan aja agar, ya Tuhannn, suasana canggung tersebut segera berlalu. Mereka kira dengan mengambil Jurusan Sejarah, masa depan saya bakal suram. Seolah takdir bakal jadi orang miskin semiskin-miskinnya, sial sesial-sialnya telah mengalir di darah orang-orang lulusan Sejarah. 

Maka ada semacam kewajiban bagi orang-orang yang bertemu dengan mahasiswa Jurusan Sejarah untuk menghiburnya dengan puja puji. Lantaran kelak di masa depan, orang-orang kayak saya ini bakal dibuang oleh teman-teman di bursa kerja. Lulusan nggak guna memang.

Pengalaman itu sebenarnya nggak bisa dibandingkan dengan pengalaman teman-teman satu jurusan. Setidaknya beberapa dari mereka bahkan sempat direndahkan begitu rupa oleh guru di depan kelas. 

Lha daftar SNMPTN atau SBMPTN-nya ke PTN mentereng, ngambil jurusannya malah sejarah. Mbok ya milihnya jurusan elit kek yang lulus bisa langsung dapat duit, bisa mengganti biaya UKT dan kos-kosan dari orang tua.

Lucunya, bagi sebagian orang yang cukup mengerti kebahagiaan kami menimba ilmu “tak berguna” ini kerap menganggap jurusan kami gembongnya komunis. Sebelas duabelas lah kayak yang masuk Filsafat bakal dibilang jadi ateis. Jadi, masuk Jurusan Sejarah kalau nggak dianggap remeh ya dianggap jadi gerombolan PKI yang mau membangkitkan komunisme di Indonesia. Ya ampun.

Kita dibesarkan di lingkungan yang menganggap kuliah itu buat cari duit doang. Segala sesuatu dibuat jadi hitung-hitungan untung-rugi. Dikotomi jurusan elit dan jurusan rendahan ya dasarnya dari pemikiran tersebut. Dari SMA pun kita sudah diperingatkan oleh guru dan orang tua kalau masuk IPS itu cuma buat anak-anak bandel, masuk IPA buat anak-anak teladan. Ironis memang, harusnya kita diberi pengertian bahwa semua bidang keilmuan itu penting sesuai kapasitasnya.

Baca Juga:

5 Dosa Jurusan Ekonomi yang Bikin Lulusannya Kagok di Dunia Kerja

4 Salah Kaprah Jurusan Sejarah yang Terlanjur Melekat dan Dipercaya Banyak Orang

Bagi kebanyakan orang, Jurusan Sejarah jadi terasa nggak penting-penting amat. Anggapan itu dijustifikasi dengan keputusan menghapuskan mata pelajaran Sejarah buat sekolah menengah. Hayolo, setingkat Kementerian Pendidikan aja nganggep ilmu ini nggak punya dampak apa pun buat kemajuan bangsa.

Apa sejarah bisa membantu pembangunan? Nggak! Pak Nadiem yang doyan ngomongin pendidikan buat kebutuhan industri saja secara nggak langsung mengiyakan hal itu kok. Sudah dipastikan nggak penting oleh guru sekolah, sekarang diiyaikan juga sama negara. Sial memang.

ADVERTISEMENT

Namun, setelah dipikir-pikir mungkin ada benarnya juga omongan orang-orang soal jurusan saya ini. Sebagai mahasiswa akhir saya jadi makin ngeri saja bagaimana nanti menghadapi hidup sebagai produk dari jurusan yang tidak diinginkan industri. Iya dong, wong kerjaan pas kuliah cuma gibahin orang yang hidup di masa lalu apa profitnya? Itu mah udah kayak acara gosip selebritis saja.

Perkuliahan kami memang cuma berkutat ngomongin tanggal-tanggal peristiwa kok. Nggak jauh beda lah sama hafalan rumus matematika atau fisika. Jadi kenapa nggak belajar lewat buku dan internet aja ya?

Kami cuma menghafal kenapa Hitler kumisnya sebaris kayak gitu, kenapa Napoleon disebut jenderal bertubuh pendek, kenapa Stalin pas mudanya ganteng, kenapa Soeharto bisa jadi presiden semenjak Supersemar, dan kenapa Sukarno sempat bilang “jasmerah: jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Hadehhh pertanyaan-pertanyaan kayak gitu mah Google juga bisa jawab.

Lalu dalam konteks perekonomian yang terancam resesi akibat pandemik, mempelajari krisis moneter di 1960-an, 1997, dan 2008 bukanlah persoalan penting bagi pemangku kebijakan. Mempelajari masa lalu memang nggak relevan buat bikin kebijakan-kebijakan yang sifatnya vital, seperti kebijakan moneter ini misalnya. Kalau ada yang bilang penting, itu mah akal-akalan dosen Jurusan Sejarah aja biar mereka tetap bisa ngajar ya, kan? Hmmm.

Tetapi, di balik kengerian saya soal masa depan suram lulusan Sejarah, saya selalu bersyukur kok dah jadi mahasiswanya. Apalagi karena saya bisa kuliah gratisan. Apalagi pas kementerian akhirnya mencabut keputusan penghapusan kurikulum Sejarah buat sekolah menengah itu. Huhhh lega banget rasanya.

Kalau kurikulum bakal dihapus saya nggak bisa membayangkan ketika bertemu saudara dan teman seangkatan pas kumpul-kumpul nanti. Mereka yang mau basa-basi soal kerjaan mahasiswa Sejarah bakal bingung. Soalnya mau nyenengin saya bakal jadi guru, ya kerjaannya udah bakal nggak relevan lagi, ya kan. Mau jadi guru Sejarah di sekolah mana wong pelajarannya dihapus oleh pemerintah?

Photo by Clem Onojeghuo via Pexels.com

BACA JUGA Mengapa Lulusan Fakultas Filsafat UGM Bisa Sukses Nyaris di Segala Bidang? dan tulisan Terminal Mojok lainnya. 

ADVERTISEMENT

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Agustus 2021 oleh

Tags: sejarahstereotip jurusan kuliah
Fikry Ainul Bachtiar

Fikry Ainul Bachtiar

Peminat sejarah, suka nonton film.

ArtikelTerkait

Ujungberung

Ujungberung, Daerah yang Punya 4 Versi Sejarah yang Berbeda

20 November 2021
Stasiun Kendal: Pernah Berjaya di Masa Kolonial, Redup Ditelan Pembangunan Massal

Stasiun Kendal: Pernah Berjaya di Masa Kolonial, Redup Ditelan Pembangunan Massal

18 Agustus 2023
Nasi Kandar dan Nasi Padang, Serupa Bentuknya, Serupa Rasanya

Nasi Kandar dan Nasi Padang, Serupa Bentuknya, Serupa Rasanya

1 Desember 2023
karang taruna pentas agustusan bendera merah putih indonesia terminalmojok

Menilik Sejarah Karang Taruna, Organisasi Paling Eksis di Bulan Agustus

5 Agustus 2021
10 Fakta tentang Kota Suwon, Kota yang Akan Jadi Tempat Pratama Arhan Berkarier

10 Fakta tentang Kota Suwon, Kota yang Akan Jadi Tempat Pratama Arhan Berkarier

29 September 2023
4 Lokasi Wisata Banyuwangi yang Paling Cocok untuk Pacaran Low Budget Terminal Mojok

3 Peninggalan Kolonial Belanda di Banyuwangi yang Jarang Diketahui

20 Maret 2022
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

5 kesalahan penjual es dawet yang sulit dimaafkan, bikin rasanya kurang enak Mojok.co

5 kesalahan penjual es dawet yang sulit dimaafkan, bikin rasanya kurang enak

27 Agustus 2026
30 menit ngopi di angkringan, puluhan info bawah tanah saya dapat (Shutterstock)

30 menit ngopi di angkringan, saya bisa mengakses puluhan informasi bawah tanah

23 Agustus 2026
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini Mojok.co

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini 

22 Agustus 2026
Gen Z lanjut S2 bukan karena ambisi, tapi patah hati (Unsplash)

Banyak Gen Z lanjut S2 bukan karena gelar dan ambisi, tapi karena patah hati dan bingung mau ngapain lagi

20 Agustus 2026
In this economy punya rumah warisan itu repot, dipertahankan butuh duit, dijual susah laku Mojok.co

In this economy punya rumah warisan itu repot, dipertahankan butuh duit, dijual susah laku

26 Agustus 2026
7 hal yang sebaiknya diajarkan saat PKKMB, bikin atribut aneh dan tradisi nggak bermanfaat lain mending dihapuskan Mojok.co

7 hal yang sebaiknya diajarkan saat PKKMB, bikin atribut aneh dan tradisi nggak bermanfaat lain mending dihapuskan

21 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.