Sebagai Fans Manchester United, Saya Membela Manchester City – Terminal Mojok

Sebagai Fans Manchester United, Saya Membela Manchester City

Artikel

Kalau kalian mengikuti perkembangan sepak bola pada hari ini, mesti tahu kalau kemarin “hukuman” yang dialamatkan kepada Manchester City diringankan. City masih boleh bermain di Eropa dan denda dikurangi menjadi 10 juta euro saja.

Cukup mengagetkan. Banyak yang tidak terima keputusan ini dan menghujat Manchester City. Khususnya Chef @arsenalskitchen lewat tulisan Manchester United Ternyata Kalah Kelas dari Manchester City, Si Perusak Anus UEFA, yang isinya membandingkan Manchester City dengan Manchester United.

Isinya kurang lebih dibuka dengan perkiraan sepihak nan subjektif. Katanya ia tidak menyangka kalau Manchester United kalah kelas dari Manchester City. Katanya, “Bagaimana tidak, ketika Manchester United hanya bisa bermain imbang dengan Southampton, Manchester City menang dengan skor besar dari sebuah tim dengan kekuatan sangat besar di sepak bola: UEFA. Jika Manchester United ditahan imbang dengan skor 2-2, kebobolan di menit akhir lagi, City menang dengan skor 4-0.”

Apalagi setelah Khaldoon Al Mubarak, Ferran Soriano, Mohammed Al Nahyan, dan Sheikh Mansour berhasil membuat peradilan yang diselenggarakan oleh CAS hanya sekadar formalitas. Waduh, semakin membuat pusing para klub sepak bola lainnya. Masa iya otoritas tertinggi sepak bola di Eropa bisa begitu di bawah ketek pengusaha Timur Tengah itu.

Sebagai fans Manchester United, kali ini saya sepertinya tidak sepakat dengan ucapan Chef. Tidak ada yang salah dari kelakuan Manchester City, uang merupakan salah satu power meraih kemenangan. Fans zaman sekarang mana mau bersabar dengan keadaan, tengok saja Liverpool. Meskipun mereka nggak kaya amat, tapi setelah mengeluarkan uang untuk membeli pemain bagus, akhirnya toh menang Liga Inggris.

Saat Chef bilang “Ketika United, tim pemuja setan sudah begitu menyebalkan, ternyata City adalah klub yang jauh lebih jahat, lebih tidak “sportif”. Sejarah keculasan Real Madrid, Barcelona, Jenderal Franco, dan diktator sepak bola lainnya, tidak ada seujung upil kekuatan di balik layar yang dimiliki Manchester City,” itu mereka nggak salah alias mereka cuman visioner saja. Ujungnya, Manchester City yang melengkapi dan menyempurnakan. Masa gitu aja nggak paham.

Nggak usah kaget atuh, Chef. Hal-hal macam kejadian Manchester City hari ini kan sering terjadi di Liga Indonesia, harusnya sudah terbiasa. Kita hanya perlu adaptasi dan mengamini. Nggak usah tuh berpikir sampai ribet, lagian Manchester City dan para fansnya ikut senang.

Aturan hitam di atas putih yang menjadi omong kosong, sudah nggak usah dipikirin. Kan menjadi budak kapitalis lebih sukses. Banyak piala, dan bisa pamer dengan bangga. Persetan dengan integritas, persetan loyalitas.

Sekali lagi, ya, Chef saya beritahukan. Kalau klub kecil punya uang banyak, pasti ia akan bangkit dan semangat. Masa nggak tergiur dengan kemenangan instan macam itu?

Lihat itu Newcastle United yang kemarin baru dibeli, mungkin pasti sedikit lagi juga akan mengeluarkan uang sampai berhamburan mengikuti jejak Manchester City. Demi kesejahteraan, demi masa depan, dan tentu saja demi piala yang lebih banyak. Udah nggak asik ngomongin sportif.

Lagian hari gini masih ngomongin idealisme, itu coba lihat Arsenal nyangkut di papan tengah. Kayaknya degradasi aja lebih cocok buat Arsenal. Klub medioker Chef banggakan tidak akan pernah maju seperti City kalau masih berpegang teguh kepada sportivitas.

Loh, serius saya. Mau maju, hari ini ya harus ikut UEFA yang anusnya suka dielus itu. Jangan salah, kadang perbuatan terlarang dan menjijikan seperti itu kalau dijalani bikin ketagihan.

Jadi, sebagai fans MU yang baik. Saya ingin mengucapkan satu kata setelah bacotan saya yang sangat manis di atas, sebuah ucapan yang sangat ingin saya ucapkan. Bahkan, saya sampai terharu saat Manchester City diperbolehkan untuk bermain kembali. Selamat ya, saya cukup bahagia melihatnya. Nggak apa cuman punya uang, nggak apa menjilat anus. Haters gonna hate, santai saja. Semangat ya kalian.

Tapi bohong….

Enak aja, senang ya lu pikir gua bakalan bela? Kepala kau kuhantam dengan akal sehat dulu. Sudah nggak punya legenda, prestasi cuman dari uang. Eh, sekarang uangnya dipakai buat menjilat UEFA.

Asu, nggak tahu diri lu pada ya. Manchester City, kalian nggak cuman sekumpulan sampah di Manchester, dan para fansnya nggak lebih dari pemulung. Sampah kok didukung, cuih.

Nggak, saya bukan mau menyenangkan siapa pun di sini. Untuk Chef @arsenalskitchen, saya juga akan kasih kaca. Itu tolong Arsenal tukang nyakitin diri sendiri, berkaca dulu. Manchester United udah yang paling benar yang saya dukung, di antara ocehan medioker dan sampah berkedok uang kaya City. 

Glory Glory Man United! 

BACA JUGA Percampuran Budaya Sunda dan Betawi di Pernikahan Orang Bekasi dan tulisan Nasrulloh Alif Suherman lainnya.

Baca Juga:  Main Master League PES dengan Tim Medioker Itu Jauh Lebih Menyenangkan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.