5 Barang yang Sering Dibeli dengan Uang Sunat – Terminal Mojok

5 Barang yang Sering Dibeli dengan Uang Sunat

Artikel

Gusti Aditya

Saya yakin, hanya sedikit orang yang memutuskan sunat karena keinginannya sendiri. Membayangkan daging dipotong dan dijahit saja sudah mengerikan, ini malah minta. Maka saya yakin kalau hanya sedikit orang yang memutuskan sunat karena ingin. Saya yakin, mereka yang ingin sunat tanpa paksaan dan tendensi lainnya, kini sudah jadi filsuf atau tokoh masyarakat karena saking bijaknya.

Ngomongin tentang sunat selalu nggak bisa jauh-jauh dari uang salam tempel. Kata orang, uang sunat itu merupakan sebuah seremonial menuju kedewasaan. Dengan dipotongnya kulup, itu berarti kita telah keluar dari sisi anak-anak dan bisa berpikir dengan jernih. Saya curiga, kok ya bisa gitu lho kulup menentukan pola pikir dan kedewasaan seorang manusia?

Ya kalau menurut saya, sunat adalah pilihan tepat untuk sehat. Dan alasan ada uang tempel pasca sunat, itu hanya semacam pola pikir manusia yang selalu menghargai pilihan yang baik. Nggak ada salahnya. Yang salah itu ketika sudah sunat, malah nakut-nakutin teman kita yang belum sunat. Itu namanya bajilak. Atau kata orang bijak sih namanya nggak ada akhlak.

Tapi, pernahkah di antara kalian setelah sunat, diajak menghitung uang tempel bersama-sama? Saya yakin ada, namun tidak semua. Saya salah satunya. Dan dari uang itu, biasanya ketika kita sudah sembuh, ndilalah sudah berubah menjadi barang atau makanan. Nah, berikut adalah beberapa kemungkinan kemana atau dialih fungsikan menjadi apa uang sunat tersebut berdasarkan pengalaman beberapa orang.

Playstation

Playstation adalah hal yang paling sering diminta anak-anak yang sedang menahan perih dan panas sehabis sunat. Untuk mewujudkan itu, biasanya orang tua melakukan dua hal. Pertama, Langsung beli. Ha wong ada duitnya kok. Kedua, uang tempel yang nggak cukup untuk beli, biasanya ditomboki oleh orangtua. Dahulu, harga Playstation 2 slim berada di angka 1,5-2 juta. Dan angka tersebut, biasanya jauh di atas ekspetasi uang tempel sunat.

Sepeda

Jelas main sepeda sudah jaman sejak dahulu kala. Edan po, siapapun bakal pernah jadi anak hits kabupaten yang ngepit tiap sore jejer lima di Ring Road Selatan. Sejak jaman BMX hingga sepeda downhill, anak-anak pasca sunat, 20% memutuskan untuk membeli sepeda.

Baca Juga:  Tren Sepeda, Asyik Gowes, Lupa Etika di Ruang Publik, Mending Rebahan Aja

Bahkan, pernah teman saya yang tititnya masih bau gosong dan pakai sarung, sudah mancal menuju toko sepeda di Perintis Kemerdekaan. Percaya nggak percaya, blio pulangnya naik sepeda dari Umbulharjo sampai Banguntapan dekat JEC. Khawatir sih enggak, tapi ngilunya itu lho.

Beli HP biar bisa muter lagunya D’Masiv

Sunat adalah privilege khusus untuk masuk ke dunia papan atas sebuah ponsel. Kalau ponsel layar sentuh disebut ponsel pintar, pada jaman ini disebut ponsel pekok gitu, ya? Entah lah.

Biasanya, sesudah sunat, ada teman yang datang membawa majalah Pulsa. Di sana ada daftar harga, spesifikasi dan gim-gim apa saja yang bisa dimainkan. Space Impact, Bounce dan uler-uleran adalah primadona. Hukumnya wajib. WapTrick adalah jalan pintas menuju hal-hal ndakik tahap berikutnya.

Ibaratnya, Nokia Express Music (kalau nggak salah ngejanya) itu adalah iPhone. Speaker di samping, warna merah mbois, menandakan gejolak kawula muda. Rasanya nenteng ponsel ini seperti….nggak tahu. Lha wong ponsel saya Nokia 6300 di mana ibaratnya jaman sekarang adalah Xiaomi. Kalah nama, tapi masalah spesifikasi siap diadu. Urusan nyetel lagu D’masiv, Pee Wee Gaskins dan Captain Jack, berani tanding.

Komik

Teman saya pernah bilang, cita-cita jadi dokter adalah sampingan dan yang utama adalah punya rental komik. Beberapa dari kami, bisa tidur di tengah tumpukan komik, membaca tiap waktu dan tidak usah bersaing dengan mas-mas kuliahan untuk nyewa komik terbaru Naruto adalah sebuah impian terselubung. Dan uang tempel sunat, adalah jawaban untuk melampiaskan keinginan tersebut.

Ya, walau sesudah sampai di Shopping Book Center Taman Pintar, paling hanya beli lima atau enam komik saja. Itu pun komik bekas. Jangan berharap komik One Piece atau Conan, yang ada hanyalah komik-komik yang tidak kami kenal. Kalau pun ada, palingan sudah setengah hancur terkena air atau dicoret-coret pemilik sebelumnya.

Berburu huruf “N” dalam permen karet Yosan

Ini adalah cara menghabiskan uang sunat yang amat tidak mainstream, yaitu berburu huruf “N” dalam permen karet Yosan. Biasanya hal ini dieksekusi dengan cara beli Yosan belasan renteng banyaknya, hanya demi mendapatkan N untuk melengkapi kata-kata Y-O-S-A-N. Jika berhasil, katanya bisa dapat sepeda dan pernak-pernik lainnya. Padahal, uang sunat segitu mendingan beli sepedanya secara langsung. Duh dek.

Baca Juga:  Musim Gowes sih Boleh Aja, tapi Jangan Menuh-Menuhin Jalan Juga kali!

Mungkin apa yang saya sebutkan tidaklah menyeluruh. Ada beberapa dari kalian yang tidak terwakilkan. Nah, alangkah baiknya jika kalian tuliskan di kolom komentar. Siapa tahu ada pengalaman yang lebih menarik dari lima poin di atas.

Atau malah ada yang dibisikin orangtua ketika sepertiga malam dengan kata-kata begini; “uangnya disimpen dulu sama ibuk/bapak, ya,”? Jika ada, kalian adalah MVP-nya karena telah mensukseskan swasembada pangan dalam rumah tangga sejak dini. Alias modyar uang sunatmu raib begitu saja.

BACA JUGA Nostalgia Rental PS 2 yang Diabadikan dalam Tiap Gimnya dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
4


Komentar

Comments are closed.