Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Sampai Kapan Nongkrong di Warung Kopi Dianggap Pengangguran?

Ali Adhim oleh Ali Adhim
1 Desember 2019
A A
Sampai Kapan Nogkrong di Warung Kopi Dianggap Pengangguran?
Share on FacebookShare on Twitter

Kenapa segitunya sih sama warung kopi?

Salah satu tanda kesuksesan dan keberhasilan mahasiswa ketika sudah kembali ke kampung halaman adalah ketika mereka sudah mempunyai kantor, berangkat pagi, pulang sore, berseragam rapi, dan mempunyai gaji bulanan. Barangkali anggapan seperti itu masih saja diyakini oleh sebagian masyarakat. Padahal kadar keberhasilan tiap manusia tidak bisa digeneralisir sesempit itu.

ADVERTISEMENT

Menjadi manusia yang pernah sekolah di wilayah perkotaan, apalagi sekolah hingga ke luar negeri, tentu akan menjadi sorotan masyarakat. Minimal ketika kembali ke kampung halaman, aktivitasnya akan dipertanyakan. Entah pekerjaannya di mana? Mengabdi di lembaga apa? Atau nganggurnya bersembunyi di mana?

Tapi bagi sebagian mantan mahasiswa alias sarjana yang cuek-cuek saja dengan anggapan masyarakat, ia akan dengan santainya menjalani hidup, penuh rasa syukur, cengengesan sambil ngopi dan main game. Mungkin jenis sarjana yang ini memegang prinsip yang diajarkan Gus Dur, “Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian manusia, dia masih hamba yang amatiran.”

Singkat kata, warung kopi adalah tempat persembunyian paling nyaman bagi beban sosial yang melekat pada dirinya. Pertanyaannya adalah sampai kapan masyarakat kita terutama yang berada di wilayah pedesaan akan tetap menganggap bahwa nongkrong di warung kopi adalah aktivitas yang tak berfaedah? Sampai kapan nongkrong di warung kopi dianggap sebagai aktivitas pengangguran? Tidakkah masyarakat membuka cakrawala berfikirnya bahwa warung kopi adalah tempat kerja paling samar bagi para pelaku industri kreatif?

Mengapa saya menyebut demikian? Sebab, banyak sekali saya temui orang-orang di warung kopi bukan untuk sekadar bermain game, ngerumpi, main kartu, dan aktivitas tak berfaedah lainnya. Akan tetapi, mereka diam-diam justru fokus merampungkan projek kerjanya di dunia maya, yang mungkin sulit dipahami oleh orang di wilayah pedesaan.

Bahkan aktivitas nge-game saja kalau diseriusi ternyata juga menghasilkan. Saya berkata seperti ini karena ada beberapa kawan yang kerjaannya hanya bermain game, tapi siapa sangka, ternyata dia bermain untuk orang lain. Dia adalah “joki” game online. Dan hasil kerjanya ini bisa untuk membiayai hidup dan kuliahnya selama berada di perantauan.

Ada juga sebagian kawan saya yang nyaris tiap hari nongkrong di warung kopi hanya untuk berdiam diri di depan laptop, eh ternyata diam-diam kesibukannya adalah menjadi tukang desain dan tukang posting di sebuah perusahaan Lowongan Kerja yang ia rintis sejak awal menjadi mahasiswa. Dari aktivitasnya yang hanya berdiam diri di warung kopi itu, dia sering mentraktir kawan-kawannya ketika makan bareng.

Baca Juga:

Mengapa banyak pengangguran di Jogja enggan merantau?

Jadi Pengangguran karena Membela Diri dari Kekerasan, Berujung Diusir Kakak: Ketika Gaji 80 Ribu Lebih Berharga daripada Harga Diri

Saya juga punya kawan yang menjadi penerjemah dan penulis buku. Aktivitasnya ya hanya nongkrong di warung kopi. Tapi siapa sangka, mereka ternyata memiliki royalti tidak sedikit dari banyak buku-buku yang mereka terjemahkan dan mereka tulis. Apalagi, di zaman revolusi industri 4.0, ini merupakan lahan basah bagi para konten kreator dan influencer yang sekali posting di akun media sosial atau channel Youtube, penghasilannya bisa melebihi kerja satu bulan di bawah perintah atasan.

Banyak sekali jenis pekerjaan yang tampak “samar-samar” dan terlihat sepele tapi pendapatannya… mohon maaf, bisa jadi lebih banyak dari pekerjaan formal yang berangkat pagi pulang sore, berseragam rapi, dan berkantor. Intinya pekerjaan yang dianggap sebagai profesi ideal.

Beberapa contoh di atas tentu tidak sepenuhnya mewakili banyaknya ruang kerja kreatif yang sampai hari ini belum diketahui oleh masyarakat di wilayah pedesaan. Masih banyak lagi aktivitas remeh lainnya yang bisa dilakukan di balik bangku warung kopi. Aktivitas yang menunjukkan bahwa tidak selamanya nongkrong di warung kopi itu sama artinya dengan pengangguran.

Alasan saya menulis tema ini lantaran ketidakrelaan saya terhadap nasib sahabat dekat saya yang lamarannya ditolak karena menjawab bahwa aktivitas sehari-harinya hanya nongkrong di warung kopi sambil online. Bagi calon mertuanya, ia tidak yakin anaknya bisa dinafkahi oleh tukang online. Apalagi onlinenya pakai wifi di warung kopi lagi. Seolah-olah, untuk sekadar membeli kuota internet saja tidak bisa. Lantas, bagaimana mau menghidupi dan mencukupi kebutuhan keluarganya kelak?

Sungguh sayang sekali. Andai calon mertuanya tahu bahwa revolusi industri berdampak luar biasa bagi pelaku industri kreatif berbasis online, mungkin ia akan tercengang.

Seseorang yang tak punya sepetak tanah untuk bercocok tanam, tak punya kantor untuk bekerja, atau tak punya toko untuk berjualan pun, di kehidupan yang serba online ini bisa mendapatkan rezeki yang halal, berkah, bahkan bisa menggaji partner kerjanya hanya dengan memiliki satu akun game, satu website, satu platform startup, satu akun sosial media, atau satu channel YouTube.

Jadi, sampai kapan nongkrong di warung kopi dianggap nganggur?

BACA JUGA Nyangkruk: Ngopi itu Ngobrol atau Ngopi Saja Sendiri atau tulisan Ali Adhim lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 November 2021 oleh

Tags: pekerja kreatifPengangguranproduktifrevolusi industriWarung Kopi
Ali Adhim

Ali Adhim

Penyuka karya sastra, sedang belajar bersahabat dengan waktu. Beberapa bukunya telah beredar di toko online dan offline.

ArtikelTerkait

kartu prakerja

Pengalaman Nyoba Pelatihan Gratis (yang Nggak Gratis) dari Kartu Prakerja

2 Mei 2020
Kiat-kiat Menjadi Pengangguran Teladan

Kiat-kiat Menjadi Pengangguran Teladan

13 Januari 2023
Angka Pengangguran di Karawang Tinggi dan Menjadi ironi Industri (Unsplash) Malang

Tingginya Angka Pengangguran di Karawang Adalah Dosa Besar dan Menjadi Ironi bagi Sebuah Kota Industri

5 November 2023
Kapitalisme Membuat Kita Tidak Bisa Menjadi Manusia dan Pengangguran di Saat Bersamaan

Kapitalisme Membuat Kita Tidak Bisa Menjadi Manusia dan Pengangguran di Saat Bersamaan

27 November 2019
Syarat Lowongan Kerja Harus Single Itu Diskriminatif (Unsplash)

Syarat Lowongan Kerja Harus Berstatus Single Sangat Diskriminatif dan Primitif. Harus Segera Dimusnahkan!

1 Januari 2024
nyangkruk

Nyangkruk: Ngopi itu Ngobrol atau Ngopi Saja Sendiri

2 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru Mojok.co

Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru

22 Agustus 2026
Tegalrejo, kecamatan uderrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita Mojok.co

Tegalrejo, kecamatan underrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita

20 Agustus 2026
Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung Mojok.co

Ra srawung rabimu suwung adalah jokes tongkrongan yang sudah tidak relevan dan sebaiknya tidak usah disampaikan

16 Agustus 2026
Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat stres untuk wargi Jogja

Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan

19 Agustus 2026
Jabatan korlas SD kini jadi momok bagi orang tua murid karena ada saja dramanya Mojok.co

Jabatan korlas SD kini jadi momok bagi orang tua murid karena ada saja dramanya

19 Agustus 2026
Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa (Unsplash)

Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa hanya demi memuaskan ego merusak milik segelintir orang

17 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.