Rumah Atap, Hunian Populer bagi Tokoh Drakor dan Warga Korea Selatan – Terminal Mojok

Rumah Atap, Hunian Populer bagi Tokoh Drakor dan Warga Korea Selatan

Artikel

Saya baru-baru ini mencoba menonton drama Korea Selatan berjudul Doom at Your Service. Drama yang tayang di stasiun TV tvN ini menghadirkan Seo In-guk dan Park Bo-young sebagai pemeran utamanya. Selain itu, Original Soundtrack atau OST dalam drama ini juga dibawakan oleh Tomorrow x Together. Bayangin, deh, aktor dan aktris plus boygroup favorit saya ada dalam satu drama. Mana mungkin saya skip drama ini.

Sekilas tentang alur ceritanya, drama ini mengisahkan seorang editor bernama Tak Dong-kyung yang mengidap glioblastoma multifocal. Ia diperkirakan hanya bisa hidup selama 3-4 bulan jika nggak menjalani operasi. Keterbatasan biaya membuat Dong-kyung enggan menjalani operasi. Suatu malam ia melihat bintang jatuh sewaktu lagi berada di halaman rumah atapnya. Ia berteriak dan mengucapkan permintaan agar dunia ini hancur. Dah, sekian, nanti ndak kebanyakan spoiler.

Nah, ketika Dong-kyung berada di rumahnya itu saya menyadari bahwa lagi-lagi ada tokoh dalam drama Korea yang tinggal di rooftop. Alih-alih hunian biasa yang begitu kita keluar dari rumah langsung menginjakkan kaki di atas tanah, banyak banget karakter dalam drakor yang tinggal dekat dengan langit. Kalau kita mengabsen judul-judul drakor populer, pasti ada saja adegan di rumah salah satu tokohnya yang ada di rooftop. Misalnya saja He is Psychometric yang dibintangi oleh Shin Ye-eun dan Jin-young, kemudian rumah Kim So-hyun bersama bibi dan sepupunya di Love Alarm, sampai Pyo Ye-jin dan Lee Chung-ah di VIP, semuanya tinggal di rooftop.

Baca Juga:  Wawancara dengan Eiichiro Oda, Perihal Perdebatan One Piece dan Naruto

Satu keseragaman yang bisa kita lihat dari peran-peran yang tinggal di rooftop tersebut adalah keterbatasan biaya. Mereka digambarkan sebagai karakter yang kesulitan buat membayar biaya rumah. Memang dalam dunia nyata nggak semua penghuni rooftop adalah orang yang kesulitan secara finansial. Ada pula rooftop modern yang harganya nggak kalah mahal dari apartemen. Tapi, sebagian besar penghuni rumah atap adalah mereka yang ingin menghemat pengeluaran atau pengin tinggal sendiri tapi nggak punya banyak bujet. Inilah yang membuat rooftop identik dengan hunian bagi penghuni yang butuh harga sewa murah.

Pada awalnya, sebagian besar rumah atap di Korea Selatan digunakan sebagai gudang. Namun, meningkatnya permintaan akan tempat tinggal, terutama di ibu kota Seoul, membuat banyak pemilik gedung merenovasi rumah atap yang mereka miliki dan disulap untuk dijadikan tempat tinggal sewaan. Selain itu, kondisi geografis Korea Selatan yang didominasi oleh pegunungan membuat masyarakatnya membangun hunian bertingkat karena keterbatasan lahan datar.

Selain bekas gudang, beberapa rumah atap juga nggak begitu aman buat ditinggali. Coba perhatikan, selama ini di dalam drakor hampir nggak pernah ada, kan, rumah atap yang dipagerin atau pakai sistem smart home dengan smart-lock? Beberapa tokoh dalam drakor kadang kala mengalami kesulitan gara-gara ketidakamanan ini. Misalnya saja rumah atap yang dimiliki oleh Louie dan Go Bok-shil dalam drama Shopping King Louie pernah kemasukan orang jahat karena kurangnya pengamanan.

Baca Juga:  Aturan Tidak Tertulis di Masyarakat Sebaiknya Ditulis Saja

Kekurangan lain yang dimiliki oleh rumah atap yang membuat harganya jadi jauh lebih murah dibandingkan dengan hunian lain adalah soal lokasinya. Namanya saja rumah atap, tentunya posisi rumah ini akan berada di paling atas. Untuk menuju sekaligus pergi dari rumah atap memerlukan tenaga ekstra. Masih dari drama Shopping King Louie, digambarkan untuk mencapai rumah atap tersebut, para tokohnya harus melewati rintangan berupa tangga yang jumlahnya bisa sebanyak anak tangga di Makam Raja-raja di Imogiri. Perjuangan yang sesungguhnya adalah ketika berangkat kerja, lalu ada barang kelupaan di rumah. Rumah atap ini bakal membuat penghuninya cepat kurus sekaligus cepat tipes. Rumah atap juga bukan pilihan terbaik agi orang tua yang mengalami masalah pada sendi tentunya.

Lokasi rumah atap yang berada di paling atas ini juga bikin menderita ketika musim dingin dan panas. Masih ingat dengan drama fenomenal Start-Up? Saat nonton Start-Up, kalian pasti pernah mendengar Lee Chul-san melarang Nam Do-san yang ingin menjual AC demi bisa membayar sewa rumah atap yang mereka pakai. Chul-san mengatakan bahwa mereka akan mati kepanasan saat musim panas. Memang benar bahwa rumah atap kebanyakan di Korea Selatan membuat penghuninya merasa berada di sauna karena rumah ini langsung terpapar panasnya matahari. Terlebih jika rumahnya berada di tengah kota, sirkulasi udara yang nggak bagus, dan seng sebagai atapnya.

Baca Juga:  Bukan buat Gaya-gayaan, Ini Alasan Saya Lebih Memilih Tablet Ketimbang Laptop untuk Bekerja dan Kuliah

Saat musim dingin, penghuni rumah atap juga harus merasakan dingin yang menusuk tulang, apalagi kalau sedang ada badai salju atau angin yang berembus kencang. Semakin lengkap penderitaan kalau pintu rumah ikut rusak karena terpaan angin dan malah membuat angin semakin leluasa masuk ke dalam rumah. Rasanya kayak menjadi daging yang disimpan di freezer.

Tapi memang nggak semua rumah atap seburuk itu. Sisi baiknya dari memiliki rooftop sebagai hunian adalah bisa stargazing sambil menyesap teh anget di malam hari. Selain itu, rumah atap yang punya halaman luas bisa dimanfaatkan ketika ingin melakukan BBQ party bersama teman, tempat mengoleksi berbagai tumbuhan, dan sekaligus menjadi lokasi tepat untuk bermain gobag sodhor.

Penggunaan rumah atap memang pas untuk menggambarkan karakter yang nggak begitu makmur dalam drama Korea. Ya masa tokoh yang berdompet tipis yang kerja part-time tiap pulang sekolah tinggalnya di apartemen? Kan ramashok.

Sumber Gambar: Koreandramaland.com

BACA JUGA Tips Beli Rumah biar Nggak Tertipu Harga Murah dan tulisan Noor Annisa Falachul Firdausi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.