Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Dear Driver Feeder BRT Semarang, Tobatlah untuk Ngebut di Jalanan, Kalian Bukan Pembalap!

Dimas Junian Fadillah oleh Dimas Junian Fadillah
11 Juni 2026
A A
Feeder BRT Semarang, Murahnya Bikin Ikhlas, Kurangnya Bikin Tertawa

Feeder BRT Semarang, Murahnya Bikin Ikhlas, Kurangnya Bikin Tertawa

Share on FacebookShare on Twitter

Lama tinggal di Semarang membuat saya cukup akrab dengan mobil elf merah-putih bernama feeder BRT Trans Semarang. Kehadiran transportasi publik ini jelas membantu mobilitas masyarakat, baik yang tinggal di pusat kota maupun kawasan pinggiran seperti Gunungpati, Mijen, atau Ngaliyan.

Dengan tarif mulai Rp1.000 hingga Rp4.000 sekali perjalanan, tergantung metode pembayaran dan kategori penumpang, feeder BRT bisa menjadi salah satu cara paling masuk akal untuk menghemat pengeluaran transportasi di tengah kenaikan Pertamax.

ADVERTISEMENT

Namun ada satu hal yang belakangan membuat saya jengah sekaligus emosi ketika berpapasan dengan armada ini di jalan. Pengalaman terakhir terjadi saat saya pulang kerja bersama istri menuju kontrakan di kawasan Gunungpati. Di ruas Trangkil yang terkenal naik-turun dan penuh tikungan, sebuah feeder BRT tiba-tiba menyalip kendaraan di depannya dengan mengambil jalur berlawanan.

Saya jadi bertanya-tanya, apa yang sebenarnya dipikirkan pengemudi saat melakukan manuver seperti itu? Jalan sempit, jarak pandang terbatas, tetapi keberanian menyalipnya seperti sedang berada di lintasan balap.

Yang lebih mengkhawatirkan, kejadian seperti ini bukan sekali saya temui. Berkali-kali saya melihat feeder BRT melaju ugal-ugalan, memepet kendaraan lain, bahkan mengambil risiko yang sebenarnya tidak perlu.

Feeder BRT padahal dibentuk untuk tidak mengejar setoran

Jika perilaku ugal-ugalan itu dilakukan oleh sopir angkot yang harus berebut penumpang, mungkin masih ada yang berusaha memaklumi. Logikanya, semakin banyak penumpang, semakin besar pula pendapatan yang dibawa pulang.

Masalahnya, sistem operasional BRT Trans Semarang tidak bekerja seperti itu. Pengemudi feeder tidak menerapkan sistem kejar setoran sebagaimana angkutan kota konvensional. Mereka dibayar menggunakan skema rupiah per kilometer yang telah ditentukan operator dan pemerintah daerah. Artinya, pendapatan mereka tidak bergantung pada banyaknya penumpang yang berhasil diangkut dalam sehari.

Kebijakan tersebut sebenarnya dirancang dengan tujuan yang baik. Pemerintah Kota Semarang ingin memastikan pengemudi fokus pada keselamatan, kepatuhan terhadap jadwal, dan kualitas pelayanan, bukan berlomba mencari penumpang sebanyak-banyaknya.

Baca Juga:

Pengalaman mencoba roti subuh yang lagi viral di Semarang: cukup sekali coba saja, nggak mau lagi-lagi

Banjir di Semarang selama ini tak hanya perkara alam, tapi justru gara-gara ulah warganya sendiri,

Kalau bukan karena setoran, lalu kenapa masih ngebut pak sopir?

BACA JUGA: Mengurai Benang Kusut Konsep BRT di Indonesia

Jadwal keberangkatan dan penjemputan bukan alasan untuk mengenyampingkan keselamatan

Perilaku sembrono di jalan kemungkinan disebabkan adanya tuntutan ketepatan waktu operasional. Sebab sebagai transportasi publik, feeder BRT memang dituntut hadir sesuai jadwal agar penumpang tidak terlalu lama menunggu.

Namun persoalannya, ketepatan waktu seharusnya tidak dicapai dengan mengorbankan keselamatan pengguna jalan lain. Tidak ada penumpang yang akan merasa diuntungkan jika armada datang lima menit lebih cepat tetapi membuat seluruh pengguna jalan waswas sepanjang perjalanan.

ADVERTISEMENT

Lebih baik terlambat beberapa menit daripada menyebabkan kecelakaan yang dampaknya bisa berlangsung seumur hidup. Transportasi publik yang baik bukan hanya soal cepat, tetapi juga soal aman.

Membawa penumpang bukan membawa besek lumpia

Perlu disadari juga Pak Sopir Feeder BRT Semarang, bahwa ada perbedaan mendasar antara kendaraan logistik dan transportasi publik. Ketika seorang sopir feeder berada di balik kemudi, yang dibawanya bukan hanya besek lumpia, melainkan manusia.

Di dalam kendaraan itu ada pelajar yang hendak sekolah, pekerja yang pulang mencari nafkah, lansia, hingga ibu yang membawa anaknya. Setiap keputusan untuk menyalip sembarangan atau memacu kendaraan secara berlebihan bukan hanya mempertaruhkan keselamatan diri sendiri, tetapi juga keselamatan puluhan orang lain.

Keselamatan harus jadi ukuran utama pelayanan feeder BRT Semarang

Kehadiran layanan feeder BRT Trans Semarang tentu menjadi salah satu layanan publik yang layak diapresiasi. Tarifnya murah, jangkauannya semakin luas, dan membantu mobilitas ribuan warga setiap hari. Namun pelayanan transportasi publik tidak bisa hanya diukur dari jumlah armada atau banyaknya penumpang yang terangkut.

Keselamatan harus menjadi indikator utama yang diawasi secara serius. Operator dan pemerintah Kota Semarang perlu memastikan evaluasi terhadap perilaku mengemudi dilakukan secara berkala, bukan hanya ketika kecelakaan sudah terlanjur terjadi.

Sebab, penumpang tidak membutuhkan sopir yang paling cepat sampai tujuan. Mereka hanya membutuhkan satu hal yaitu bisa berangkat dan pulang dengan selamat.

Jadi, untuk para driver feeder BRT Semarang, izinkan saya menyampaikan permintaan sederhana sebagai sesama pengguna jalan, cukup tidak usah balapan dan ugal-ugalan. Jalanan Semarang bukan sirkuit Mandalika. Pun tidak ada trofi yang menunggu di halte berikutnya.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Feeder BRT Semarang, Murahnya Bikin Ikhlas, Kurangnya Bikin Tertawa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Juni 2026 oleh

Tags: BRTfeeder brt semarangSemarang
Dimas Junian Fadillah

Dimas Junian Fadillah

Magister Administrasi Publik, tertarik menulis isu lokal, politik dan kebijakan publik.

ArtikelTerkait

Orang Ungaran Pilih Mengaku Asli Semarang karena Malu Nggak Ada yang Bisa Dibanggakan

Orang Ungaran Pilih Mengaku Asli Semarang karena Malu Nggak Ada yang Bisa Dibanggakan

8 Maret 2024
5 Self Photo Studio di Semarang, Bebas Pose Nggak Malu-malu Lagi Terminal Mojok

5 Self Photo Studio di Semarang, Bebas Pose Nggak Malu-malu Lagi

7 Desember 2022
kuliner semarang MOJOK

7 Rekomendasi Kuliner Semarang ala Food Vlogger Ria SW

9 Juli 2020
5 Hal yang Dimiliki Magelang dan Nggak Bisa Saya Jumpai di Semarang

5 Hal yang Dimiliki Magelang dan Nggak Bisa Saya Jumpai di Semarang

29 Oktober 2025
4 Ciri Tahu Gimbal Semarang yang Sudah Pasti Enak dan Tidak Mengecewakan Pembeli Mojok.co

4 Ciri Tahu Gimbal Semarang yang Sudah Pasti Enak dan Tidak Mengecewakan Pembeli

10 Februari 2026
Genuk Kecamatan Paling Meresahkan di Kota Semarang, Isinya Cuma Masalah! Mojok.co

Genuk Kecamatan Paling Meresahkan di Kota Semarang, Isinya Cuma Masalah!

28 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu Mojok.co

Kadang orang ikut rewang bukan karena ingin membantu, tapi takut dihujat dan digibahin

12 Agustus 2026
Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju langsung dicap nakal (Unsplash)

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju sedikit saja langsung dicap nakal

15 Agustus 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Ketahuilah, masalah KPR rumah bukan hanya soal bayar, tapi masih ada 5 masalah yang bakal bikin kamu stres

13 Agustus 2026
5 jurusan kuliah S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia saja Mojok.co

5 jurusan kuliah S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia aja, nggak usah jauh-jauh ke luar negeri

10 Agustus 2026
4 alasan saya lebih memilih salat di musala SPBU daripada masjid saat bepergian Mojok.co

4 alasan saya lebih memilih salat di musala SPBU daripada masjid saat bepergian

12 Agustus 2026
Kegelisahan peneliti BRIN tentang keripik, sepatu, dan genteng (Unsplash)

Catatan seorang peneliti BRIN yang hatinya remuk redam melihat koleganya dihina cuma bisa bikin keripik, sepatu, genteng, dan ngabisin anggaran negara

15 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.