Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Mikutopia Kota Batu, Hidup Dihantui Macet, Berisik, dan Waswas dengan Ancaman Bencana Ekologis Masa Depan

Iqbal AR oleh Iqbal AR
12 Juni 2026
A A
Penderitaan Tinggal Dekat Wisata Mikutopia Kota Batu, Hidup Dihantui Macet dan Berisik, Waswas dengan Ancaman Bencana Ekologis Masa Depan Terminal

Penderitaan Tinggal Dekat Wisata Mikutopia Kota Batu, Hidup Dihantui Macet dan Berisik, Waswas dengan Ancaman Bencana Ekologis Masa Depan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sisi lain Mikutopia Batu di mata warlok, tak seindah di mata wisatawan. 

Ada perasaan syukur ketika menyadari bahwa tempat tinggal yang sudah saya tempati 28 tahun ini berada di Kota Batu bagian Utara. Sebab, tinggal di Batu Utara itu enak banget. Pertama, jauh dari hiruk-pikuk kota, dan jauh dari pusat-pusat tempat wisata yang ramai. Kalau ada, tempat wisata, paling ya cuma satu-dua, dan itupun ramainya nggak sampai bikin kacau lingkungan sekitar, lah.

Akan tetapi, semua itu berubah sejak awal 2026. Di Batu bagian Utara, di Desa Tulungrejo, lebih spesifiknya lagi di 120 meter arah Timur Laut dari rumah saya, berdiri satu tempat wisata baru bernama Mikutopia. 

Tempat wisata ini merupakan taman bermain bertema dunia jamur dengan berbagai macam wahana di dalamnya, yang mulai beroperasi sejak Lebaran 2026 kemarin. Mikutopia berdiri di atas tanah seluas sekitar 10 hektar.

Sebagai orang Batu Utara, tepatnya sebagai orang yang bertetangga dengan Mikutopia Batu, hadirnya tempat wisata ini memang bikin dilema. Di satu sisi, hadirnya Mikutopia Batu berhasil membangkitkan perekonomian sekitar, sekaligus membuka lapangan kerja untuk warga sekitar. 

Akan tetapi, di sisi lain, hadirnya Mikutopia juga bikin saya menderita akan banyak hal, termasuk membuka banyak ancaman-ancaman ekologis di masa depan.

Mikutopia Batu ini letaknya tepat di samping pemukiman warga

Semua tempat-tempat wisata besar dan modern di Kota Batu itu letaknya nggak ada yang di tengah atau di samping pemukiman warga. Selalu agak menjauh. Yang dekat pemukiman memang ada, tapi nggak ada yang benar-benar berada di tengah/samping pemukiman. Dua tempat wisata yang ada di Batu Utara, Taman Rekreasi Selecta, dan Coban Talun, letaknya nggak tepat di tengah/samping pemukiman

Nah, Mikutopia Batu pengecualian. Mikutopia ini letaknya benar-benar di samping pemukiman warga. Gambarannya begini: pemukiman warga, lalu ada Mikutopia, lalu ada perkebunan. Semuanya nempel, seperti nggak berjarak. Ini jelas jadi masalah, sebab keriuhan apapun yang ada atau disebabkan oleh Mikutopia, warga-warga sekitar pasti merasakannya. Apalagi kalau ada hal-hal buruk terjadi.

Baca Juga:

Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

3 Fakta Menarik tentang Kota Batu yang Jarang Dibicarakan Orang, Salah Satunya Pernah Terkenal dengan Perkebunan Kina

Saya saja yang rumahnya berjarak 120 meter dari Mikutopia sudah terdampak, apalagi orang-orang yang rumahnya hanya berjarak sepelemparan batu?

Mikutopia Batu bikin jalanan sekitar rumah yang tadinya tenang jadi sering macet

Satu hal yang paling kelihatan, dan paling bikin saya menderita adalah soal kemacetan yang muncul akibat adanya Mikutopia Batu. Sejak adanya tempat wisata ini, kemacetan jadi semacam agenda rutin tiap akhir pekan dan musim liburan di wilayah rumah saya. Kalau akhir pekan atau musim liburan tiba, keluar gang rumah sudah pasti ketemu macet. Terkadang macetnya parah, bisa sampai 3 kilometer, kayak waktu libur lebaran kemarin.

Padahal selama ini jalanan (jalan raya) di sekitar rumah saya itu cenderung jalanan yang tenang. Jalanan di sekitar rumah saya selama ini nggak pernah macet, dan nggak pernah jadi titik penyebab kemacetan. Mau itu akhir pekan atau musim liburan, jalanan di depan rumah selalu tenang, nggak pernah macet. Ya karena memang selama ini nggak ada apa-apa di sana. Nggak ada tempat wisata juga.

Kemacetan ini ada sejak Mikutopia Batu. Parahnya lagi, jalanan atau jalan raya di depan rumah itu tipikal jalan raya yang kecil. Lebarnya mungkin cuma selebar tiga Innova Reborn. Bayangkan, betapa memuakkan pemandangan macetnya di sekitar rumah saya. Bikin menderita banget.

Selain macet, berisik pula. Ya suara klakson kendaraan, ya suara peluit tukang parkir

Kemacetan yang timbul akibat adanya Mikutopia ini diperparah pula dengan bising suara yang muncul. Pokoknya kalau sudah jam sibuk di akhir pekan atau musim liburan, suara yang saya dengan di rumah ya antara suara klakson kendaraan, atau suara peluit tukang parkir yang saling bersahutan.

Pusing banget. Rasanya kayak pengin ngamuk tapi nggak bisa.

Gini, lho, akhir pekan itu waktu buat saya untuk istirahat di rumah. Senin sampai Jumat saya sudah capek ngurusin kerjaan. Saya cuma pengin Sabtu-Minggu itu saya istirahat di rumah, nggak ngapa-ngapain, cari ketenangan. 

Dulu, sebelum ada Mikutopia, ketenangan itu bisa dengan mudah saya dapatkan. Namun, sekarang, ketenangan itu sirna. Sabtu-Minggu bagi saya sudah seperti Senin-Jumat, bahkan lebih parah. Riuh, berisik, menjengkelkan. 

Itu mengapa, saya selalu bingung mau ngapain ketika akhir pekan. Mau santai di rumah ya nggak bisa karena terpapar suara berisik, tapi mau keluar rumah sudah pasti kena macet. Dilematis, kan?

Ancaman bencana ekologis di masa depan 

Kemunculan Mikutopia Batu dibarengi banyak sekali isu yang berkaitan dengan alam. Maklum, seperti yang sudah saya singgung di atas, Mikotopia ini dibangun di atas tanah seluas sekitar 10 hektar. Tanah itu tadinya kebun, yang juga berfungsi salah satunya sebagai daerah resapan. Nah, dibangunnya Mikutopia, otomatis menutup setidaknya sebagian daerah resapan di area tersebut.

Beberapa organisasi non-profit yang bergerak di bidang ekologi, sudah berkali-kali mengkritik pihak Mikutopia, pemerintah kota, dan pemerintah desa terkait adanya Mikutopia. Ada banyak dugaan, mulai dari pelanggaran tata ruang (ini banyak banget terjadi di Kota Batu), hingga perkara AMDAL Mikutopia yang belum beres tapi sudah beroperasi.

Semua ini ujungnya adalah soal ancaman bencana ekologis di masa depan. Kita tahu, Kota Batu dalam beberapa tahun terakhir selalu banjir ketika musim hujan. Bahkan beberapa kali banjirnya parah. Daerah resapan air dan ruang terbuka hijau di Kota Batu juga makin berkurang. Ini kayak jadi peringatan, kalau urusan alam disepelekan, bencana ekologis di masa depan bisa jadi sebuah keniscayaan.

Nah, semua situasi ini tentu bikin saya waswas. Bayangkan saja, saya itu sudah dibuat menderita akibat kemacetan dan keriuhan yang ditimbulkan oleh Mikutopia. Lalu masih ada soal ancaman bencana ekologis di masa depan, yang mana pembangunan tempat wisata yang agak ngawur kayak Mikutopia bisa jadi salah satu penyebabnya.

Buat wisatawan, Mikutopia Batu memang bagus dan menarik untuk dikunjungi. Tapi, buat warlok seperti saya, Mikutopia itu menyimpan satu bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Dan, hidup di dekat Mikutopia Batu jelas bikin saya waswas, sekaligus bikin menderita.

Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Brown Canyon Semarang, Warga (Terpaksa) Berdamai dengan Truk Tronton dan Debu Tambang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Juni 2026 oleh

Tags: BatuMikutopiaMikutopia BatuTempat Wisata BaruWisata BaruWisata BatuWisata Mikutopia
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

Malang dan Batu Saling Sindir, tapi Saling Membutuhkan (Unsplash)

Malang dan Batu: Persaingan Sunyi Dua Saudara yang Tak Pernah Selesai Berkompetisi

15 Maret 2025
Alasan Orang Malang Malas Berwisata ke Batu Mojok.co

Alasan Orang Malang Malas Berwisata ke Batu

26 November 2024
Kota Batu Dibuat Malu Berkat Julianto Eka Putra, Pelaku Kekerasan Seksual (Unsplash.com)

Kota Batu Dibuat Malu Berkat Julianto Eka Putra, Pelaku Kekerasan Seksual di Lingkungan Sekolah

12 Juli 2022
Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

17 Januari 2026
Panduan Berwisata ke Batu Night Spectacular supaya Tidak Berekspektasi Berlebihan dan Berujung Kecewa Mojok.co

Panduan Berwisata ke Batu Night Spectacular supaya Tidak Berekspektasi Berlebihan dan Berujung Kecewa

1 Juli 2025
Pasar Cilik Pesanggrahan, Pasar Kecil yang Hangat di Tengah Dinginnya Kota Batu

Pasar Cilik Pesanggrahan, Pasar Kecil yang Hangat di Tengah Dinginnya Kota Batu

20 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian  Mojok.co

Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian 

6 Juni 2026
Drama Tumbler di XXI: Ketika Membawa Tumbler Dianggap Tindakan Kriminal yang Mengancam Ekonomi Bisnis Bioskop  

Drama Tumbler di Bioskop XXI: Ketika Membawa Tumbler Dianggap Tindakan Kriminal yang Mengancam Ekonomi Bisnis Bioskop  

12 Juni 2026
Lampung Bukan Tempat Merantau untuk Orang Lemah

Lampung Itu Nama Provinsi, Bukan Nama Kota. Pas SD Pernah Belajar IPS Nggak sih?

8 Juni 2026
Debu Jalur Pantura Kendal Makin Meresahkan Pengendara Motor, Sebaiknya Sedia Masker kalau Nggak Mau Sesak Napas Terminal

Debu Jalur Pantura Kendal Makin Meresahkan Pengendara Motor, Sebaiknya Sedia Masker kalau Nggak Mau Sesak Napas

9 Juni 2026
Penderitaan Tinggal Dekat Wisata Mikutopia Kota Batu, Hidup Dihantui Macet dan Berisik, Waswas dengan Ancaman Bencana Ekologis Masa Depan Terminal

Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Mikutopia Kota Batu, Hidup Dihantui Macet, Berisik, dan Waswas dengan Ancaman Bencana Ekologis Masa Depan

12 Juni 2026
5 Rahasia yang Perlu Diketahui sebelum Membuka Warung Madura, Eksklusif dari Juragannya Langsung usaha warung

Punya Usaha Warung di Desa Harus Siap dengan Risiko Banyak Orang Ngutang yang Entah Kapan Dibayarnya

9 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.